Dunia

Nasib Memilukan Ulama Tersohor Arab Saudi Syekh Salman al-Audah dalam Penjara

Kamis, 30 April 2020 00:30 wib

...
Syekh Salman al-Audah

Riyadh – Nasib ulama tersohor Arab Saudi, Syekh Salman al-Audah, dalam penjara amat memilukan. Ia sangat jarang diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya.

Putra Syekh Salman, Abdullah al-Audah mengatakan, saban pekan ayahnya itu hanya diberi waktu semenit untuk menelepon keluarganya.

“Satu menit merupakan waktu sangat pendek buat menelepon. Dia berbicara begitu cepat dan jarang menarik napas ketika sedang omong,” katanya seperti dilansir lembaga pemantau tahanan di Arab Saudi, Priosoners of Conscience, di akun Twitternya, Selasa, 29 April 2020.

Abdullah bercerita Syekh Salman hanya bisa mengucapkan salam dan bertanya mengenai kabar semua keluarganya. Pihak kerabat tidak dapat bertanya secara detil mengenai kondisi kesehatannya. Dari suaranya, dia dalam kondisi stabil tapi masih dalam sel isolasi.

Syekh Salman termasuk rombongan pertama yang ditangkap pada September 2017 tidak lama setelah Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi putera mahkota pada 21 Juni 2017, menggantikan abang sepupunya, Pangeran Muhammad Nayif.

Penangkapan Syekh Salman al-Audah bermula dari tulisannya di akun Twitternya. Dalam tulisan itu ia mendoakan normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Qatar yang saat itu sedang memanas akibat Arab Saudi menblokade Qatar.

Syekh Salman dianggap menentang kebijakan-kebijakan Bin Salman, terutama saat blokade terhadap Qatar tersebut. Tweet itu dinilai mengkritik dan menyinggung pemerintah secara terang-terangan sehingga menyebabkannya dijebloskan ke jeruji besi.

Syekh Salman sudah menjalani peradilan secara rahasia di sebuah pengadilan khusus di Ibu Kota Riyadh. Ia bersama dua ulama Saudi terkenal lainnya, Syekh Awad al-Qarni dan Syekh Ali al-Umari, telah dituntut hukuman mati pada 6 Maret 2019.

Setelah Bin Salman menjadi calon raja Saudi, negara Kabah itu getol menangkapi orang-orang dicap pembangkang, termasuk ulama, wartawan, akademisi, pangeran, dan konglomerat.(red)