Hikmah

Tradisi Burdah Keliling di Tengah Corona

Senin, 13 April 2020 10:00 wib

...

Pada 1919, ada 1,5 juta orang di tanah Jawa dan Madura meninggal karena virus.

Sebagaimana disebutkan oleh banyak ahli, bahwa Islam di Indonesia disebarkan oleh kalangan kaum sufi. Pendekatannya adalah pendekatan kebudayaan melalui tradisi-tradisi yang bernafaskan Islam yang menggiring orang-orang untuk men-tauhid-kan Tuhan. Termasuk salah satunya adalah budaya membaca Qasidah Burdah keliling.

Tradisi berkeliling membaca Qasidah Burdah digunakan oleh masyarakat tradisional Islam di Indonesia untuk menghadapi pagebluk atau pandemi. Budaya ini dibawa oleh dua unsur utama pengislaman di Nusantara yaitu pesantren dan kaum tarekat. Tradisi ini ditransmisikan oleh kedua institusi ini di Indonesia.

Baca juga: Virus Corona, Ijazah dan Khasiat Ratibul Haddad

Qasidah Burdah dikarang oleh Imam Al-Bushiri yang hidup pada abad ke 13 pada masa Dinasti Ayyubiyah. Menurut cerita, saat mengarang ini, Imam Al-Bushiri sedang sakit menahun dan pada suatu malam selepas ia menyenandung qasidah ini, ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan beliau diberi serban (burdah) yang diletakkan oleh Nabi SAW di bagian tubuhnya yang sakit. Saat ia bangun, keajaiban terjadi dan ia sembuh.

Itulah kenapa qasidah shalawatnya disebut sebagai qasidah burdah. Sejak saat itu qasidah ini dipakai di kalangan komunitas Muslim dunia untuk menolak penyakit yang dianggap sebagai pandemi dan meneror warga desa.

Dlam konteks pandemi global saat ini yaitu pandemi virus Corona atau Covid-19, qasidah burdah yang dibaca secara komunal berkeliling desa dengan tujuan untuk menolak wabah Corona.

Ini kepercayaan yang agak susah memang dinarasikan secara positifistik karena pasti dituntut pembuktian secara akademis melalui jalan metode dan pembuktian yang ada, tapi itulah yang berjalan.

Baca juga: Pesantren, Sungai, dan Jihad Damai Santri

Dalam pengamatan saya, saat ini masyarakat di desa-desa di empat kabupaten di Madura, di sebagian area arek (Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Malang), area Tapal Kuda (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dst) serta di sebagian wilayah Aceh melakukan tradisi membaca burdah keliling ini.

Pagebluk atau pandemi bukan sekali ini saja menimpa Tanah Air. Pada tahun 1919, Nusantara juga pernah ditimpa pagebluk yang melanda dunia saat itu. Sebuah pandemi yang disebut sebagai virus Spanyol (spain virus) yang menurut catatan pemerintah Hindia Belanda, 1.5 juta orang di tanah Jawa dan Madura dipastikan meninggal karena virus tersebut dari total 4.37 juta yang meninggal.

Itu adalah memori tentang pandemi terdahsyat yang menimpa Tanah Air. Pasca kemerdekaan, juga tercatat beberapa kali terjadi pandemi atau wabah penyakit tertentu.

Di masyarakat Madura, tatkala pagebluk ini terjadi, maka ada budaya masyarakat baik laki maupun perempuan akan membaca shalawat Burdah, membawa obor, dan berkeliling kampung.

Suasananya memang rada mencekam karena macam ada teror yang menimpa masyarakat tapi juga ada harapan dan kekuatan terpancar bahwa mereka akan melewati pandemi tersebut.

Sekarang, di saat pagebluk Corona menyerang dunia. Masyarakat tradisional di area-area tersebut di atas mulai terlihat membaca Burdah secara bersama-sama dan sendirian.

Di beberapa desa juga mulai tampak masyarakat yang membawa obor berkeliling desa sambil membaca salawat burdah. Harapannya tentu saja satu, semoga pagebluk ini Corona ini cepat berlalu.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat Islam tradisional ini memang menjadi anti-tesa dari himbauan WHO (World Health Organization) terkait pysical distancing (dari yang sebelumnya menggunakan istilah social distancing), tapi itulah yang terjadi.

Di banyak tempat lain di dunia, perkumpulan (gathering) warga atas nama agama memang menjadi salah satu titik dari penyebaran virus corona seperti yang terjadi pada jamaah gereja Shincheonji di Korea Selatan, acara Jamaah Tabligh di Malaysia, Pakistan dan Indonesia, serta Yahudi Ortodoks di Israel. Mereka semua menolak kebijakan pysical distancing yang dilakukan oleh pemerintah.

Terlepas bahwa hal ini sangat beresiko bagi kesehatan masyarakat, tapi itulah masyarakat tradisional. Tujuan mereka baik, berdoa agar pandemi ini cepat selesai dan tak semakin menjadi-jadi.

Kalau pemerintah menganggap ini beresiko, sebaiknya para tokoh agama di berbagai level masyarakat segera cepat dihubungi sehingga bisa memberikan instruksi kepada para santri, alumni, dan masyarakatnya. (*)

Dr Iksan Kamil Sahri, Antropolog Pesantren, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Fithrah Surabaya.