Ubudiah

Virus Corona, Ijazah dan Khasiat Ratibul Haddad

Selasa, 24 Maret 2020 23:55 wib

...
Foto kenangan penulis (KH Ahmad Fahrur Rozi) saat ziarah di Makam Zanbal Tarim, Yaman (santrinews.com/istimewa)

Di saat musim kegelisahan pandemi Corona seperti saat ini, tiba tiba saya teringat satu ijazah doa yang pernah saya terima ketika ziarah ke makam Zanbal di kota Tarim Yaman.

Kota yang dijuluki “Bumi Sejuta Wali” ini memiliki tempat komplek makam keramat yang tersohor hingga ke mancanegara disebut Makam Zanbal.

Saat itu saya ziarah bersama para masyayikh, diantaranya KH Ahmad Idris Marzuqi (Lirboyo, Kediri), KH Muhaiminan Gunardo (Parakan Magelang), KH Muhammad Soebadar (Pasuruan), dan KH Ulinnuha Arwani (Kudus) dengan dipandu Habib Husein Assegaf Gresik.

Menurut keterangan Alm. Habib Husein Assegaf Gresik yang menjadi pemandu ziarah kami, di Zanbal ini terdapat puluhan ribu pusara aulia Allah yang kebanyakan di antaranya adalah keturunan Rasulullah dari Bani ‘Alawiyyin.

Al-Habib Abdurrahman As-Segaff atau yang lebih dikenal dengan Imam Faqih Muqaddam Tsani (wafat 819 H) pernah berkata: Di Zanbal itu bersemayam para tokoh aulia yang jumlahnya lebih dari 10.000 orang. Dan di situ pula terbaring 80 wali dari kalangan sayyid yang telah mencapai derajat Qutub.

Sungguh beruntung, di tengah kami berdoa tawassul di sana, tepatnya di depan Makam Imam ‘Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad, penyusun Ratibul Haddad yang sangat termasyhur itu, datanglah Habib Muhammmad Alhaddad, salah satu cucu keturunan beliau, sehingga Habib Husein spontan memintakan rombongan kita agar diberi ijazah doa Ratibul Haddad oleh beliau, dan kita pun lalu duduk bersama membaca Ratibul Haddad disertai ijazahnya.

Doa Ratibul Haddad yang kini menjadi amalan para ulama sholihin di seluruh dunia itu diambil dari nama penyusunnya yakni Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang ulama yang terkenal sangat luar biasa dalam bidang keilmuan, peribadatan dan kesholihannya serta tidak diragukan lagi akan kewaliannya.

Beliau juga mengarang beberapa kitab dan qosidah yang sangat berharga yang sampai sekarang tetap dijadikan pedoman umat Islam di seluruh dunia terutama di bidang tasawuf dan ilmu ma’rifat. Diantara karya beliau yang terkenal di dunia pesantren adalah kitab Risalatul Mu’awanah dan Nashoihuddiniyyah serta masih banyak lagi.

Konon, riwayat Ratibul Haddad itu disusun berdasarkan inspirasi yang beliau dapatkan pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan tahun 1071 Hijriyah sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab Dakhiratul Ma’ad bisyarhi Ratibil Haddad karya Syekh Abdulloh bin Ahmad Basaudan.

Dikisahkan bahwa Ratib karangan beliau itu disusun atas permintaan salah seorang murid beliau ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut.

Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut untuk mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahankan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama-tama, Ratib ini hanya dibaca di kampung Amir sendiri yaitu Kota Syibam setelah mendapat izin dan ijazah dari al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad sendiri. Selepas itu, Ratib ini pun dibaca di Masjid al Hawi milik beliau yang berada di kota Tarim. Biasanya Ratib ini dibaca secara berjamaah setelah shalat isyak.

Pada Ramadhan, Ratib ini biasa dibaca sebelum shalat Isya untuk mengisi kesempitan waktu menunaikan shalat Tarawih. Ini adalah waktu yang telah ditentukan oleh al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad untuk daerah-daerah yang mengamalkan Ratib ini. Biidznillah, daerah-daerah yang mengamalkan ratib ini selamat dan tidak terpengaruh dari kesesatan tersebut.

Setelah al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah haji, Ratibul Haddad mulai dibaca di Makkah dan Madinah, kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia beranjak dari Madinah, lalu India, hingga sampai ke Asean dan Indonesia.

Ratibul Haddad berisi potongan surat-surat Al-Quran dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Saw di dalam Hadist Shahihnya, diantaranya Surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, akhir Surat Al-Baqarah, Surat Al-Ikhlash, Al-Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) serta beberapa dzikir dan shalawat yang mempunyai berbagai macam faedah terkenal dari riwayat berbagai hadist dan aqwal ulama.

Ratibul Haddad ini sudah sejak lama diyakini ulama memiliki faedah dan khasiat yang sangat banyak. Bahkan pengarangnya mewasiatkan untuk selalu dibaca.

Diantara khasiat Ratib ini diantaranya sebagaimana yang dikatakan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad penyusunnya adalah:

“Ratib ini seperti pagar besi bagi seluruh negeri yang dibaca di dalamnya”.

“Ratib ini menjaga negeri yang dia dibaca di dalamnya”,

“Barang siapa senantiasa istiqomah membaca Ratib ini maka akan dianugerahi mati dalam husnul khotimah,”

Hingga Al Habib Ahmad bin Zain al Habsyi berkata, “Barang siapa yang membaca Ratibul Haddad dengan penuh keyakinan dan iman, ia akan mendapat sesuatu yang di luar dugaannya”.

Diantara faedah membaca Ratibul Haddad ini sebagaimana dikutip dari “Khulasoh Al Madad Annabawi Al Habib Umar bin Hafidz”, jika dibaca sebelum maghrib atau sesudah maghrib akan mampu mengamankan diri, keluarga dan harta-benda orang yang membacanya dari segala macam jenis sihir, teluh, dan gangguan setan bahkan akan berbalik mengenai orang yang mengirimnya dengan izin Allah.

Diriwayatkan pula dari sebagian ulama salaf bahwa diantara khasiat Ratibul Haddad ialah memanjangkan umur, menjadi sebab Husnul Khotimah bagi mereka yang mendawamkannya dan memperoleh rezeki yang melimpah dan halal.

Ratibul Haddad juga merupakan penjagaan dari segala bencana, baik di daratan maupun di lautan serta di udara. Karenanya sangat dianjurkan membacanya di tempat sepi khususnya di malam hari, dengan khusuk menghadap kiblat serta dalam keadaan wudhu, InsyaAlah akan dikabulkan apa yang diinginkan pembacanya.

Akhirnya, saya mengajak kepada segenap kawan dan handai taulan para pembaca yang budiman untuk mulai bersama membaca Ratibul Haddad di tengah suasana kegalauan ancaman virus Corona yang menjadi pandemi di seluruh dunia saat ini.

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dan seluruh keluarga serta bangsa Indonesia dari keganasan virus corona, dan kiranya Allah SWT segera mengangkat virus ini dari muka bumi dan diberikan ketentraman dan keamanan bagi kita semua, amien. (*)

Catatan: teks Ratibul Haddad bisa didapatkan dalam berbagai cetakan atau bisa juga didownload di internet.

Dr KH Ahmad Fahrur Rozi, Pengasuh Pondok Pesantren Annur Bululawang, Malang dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.