Nasional

Bantu Tangani Pasien Corona, PBNU Siapkan 23 Rumah Sakit

Selasa, 24 Maret 2020 01:00 wib

...
Tim satuan tugas (Satgas) PBNU Cegah Covid-19 menggelar acara bertajuk Gerakan Cegah Covid-19 NU di Gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Maret 2020 (santrinews.com/istimewa)

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyiapkan 23 rumah sakit (RS) untuk membantu penanganan pasien terkait virus Corona jenis baru atau covid-19. Ada dua tipe RS yang disiapkan.

“RS tipe pertama, untuk penanganan berat seperti rumah sakit rujukan yang ada ruang isolasi dan segala macamnya,” kata Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU, M Ali Yusuf, di Jakarta, Senin, 23 Maret 2020.

“Tipe kedua, yaitu RS yang hanya melayani pemeriksaan atau screening awal untuk kemudian dirujuk ke RS rujukan,” lanjutnya.

Ali menjelaskan, RS tipe pertama atau A berjumlah sembilan yang tersebar di berbagai wilayah khususnya di Jawa. Di antaranya, RSI Siti Hajar Sidoarjo, RSI Jemursari Surabaya, RSI Sakinah Mojokerto, RSNU Banyuwangi, RS A Yani Surabaya, RSI Unisma Malang, RSI Syuhada Haji Blitar, RSNU Tuban, dan RSNU Demak.

Adapun RS tipe B juga tersebar di banyak daerah. Antara lain, RS Ali Sibroh Malisi Jakarta Selatan, RSI Pati, RSU Islam Madinah Kasembon, RSNU Jombang, RS UNIPDU Medika Jombang, RSI Nashrul Ummah Lamongan, RSI Madinah Tulungagung, RSI Masyithoh Bangil Pasuruan, RSI Mabarrot NU Bungah Gresik, RS Mawaddah Medika Mojokerto, RSIA Muslimat Jombang, RSU Muslimat Ponorogo, RS Muna Anggita Bojonegoro, dan RSI Darus Syifa’ Surabaya.

RS tipe A disiapkan untuk menangani pasien covid-19 dengan ruang isolasi khusus, sesuai ketentuan. Sedangkan RS tipe B disiapkan untuk penanganan awal pasien Covid-19 bagi kelompok gejala ringan-sedang. Juga, untuk membantu melakukan pengecekan Covid-19 dengan menggunakan rapid test.

Hingga sekarang LPBI PBNU masih menunggu tes kit rapid test tersebut. Mungkin pertengahan pekan ini.

“Kita juga minta dinas kesehatan untuk bisa memperoleh rapid test kit ini, sehingga kita bisa membantu mengurangi antrean panjang di tempat rujukan yang didistribusikan dinkes daerah masing-masing. Saya kira ini dalam proses pengurusan,” ujarnya.

Ali menerangkan, fasilitas medis dan sebagainya di RS-RS tersebut sudah siap. Hanya saja, dia mengakui, masih ada kendala yakni pada pasokan alat pelindung diri (APD). Setok APD yang ada sekarang masih terbatas sehingga kemungkinan bisa kewalahan ketika jumlah pasien terkait Covid-19 yang ditangani mulai banyak.

“Karena ini sekali pakai dan harus dibuang. Nah yang dimiliki kami sangat terbatas. Ketika tidak ada APD dan perangkat yang dibutuhkan, tentu berbahaya juga untuk tenaga kesehatan, dokter, dan perawat medis. Maka kami melapor ke pemerintah, kami butuh support, salah satunya APD, karena ini sangat penting,” tegasnya. (red)