Nasional

Ketika Kapolri Motivasi Santri di Pesantren Baitul Arqom

Minggu, 11 Oktober 2015 16:22 wib

...
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti (tengah) didampingi Kapolda Banten Irjen Pol Boy Rafli (kanan) saat menghadiri acara istighasah, di Pondok Pesantren Raodlatul Ulum, Tanagara, Cadasari, Pandeglang, Sabtu malam, 6 Juni 2015 (santrinews.com/bantenhits)

Jember – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti mendadak menjadi motivator saat berada di Balai Pendidikan Pondok Pesantren Baitul Arqom, Jember, Sabtu, 10 Oktober 2015.

Badrodin memberikan motivasi kepada santri dan wali santri Ponpes Baitul Arqom yang menghadiri acara silaturahmi keluarga besar Balai Pendidikan Ponpes Baitul Arqom.

Saat berpidato di depan ribuan orang itu, jenderal bintang empat itu mengangkat sejumlah isu. Ia juga menyempatkan bercerita tentang masa lalu sebagai materi motivasi untuk para santri.

Badrodin merupakan alumni Pondok Pesantren Baitul Arqom. Selain bersekolah di madrasah tsanawiyah atau setingkat sekolah menengah pertama, ia pernah mondok setahun di ponpes tersebut.

“Dengan kemauan dan kerja keras, tidak bisa dengan santai-santai saja,” begitu jenderal kelahiran Desa Paleran Kecamatan Umbulsari itu memulai motivasinya kepada para santri.

Bapak dua anak itu mengaku harus mengayuh sepedanya sejauh delapan kilometer dari rumah menuju MTs Baitul Arqom. “Kadang sudah sarapan dan kadang kala juga belum sarapan,” cerita Badrodin.

Ia lalu melanjutkan sekolah menengah atas di Jember dan sempat berpikir untuk kuliah lalu tersadar dari mana orangtuanya membiayai kuliahnya. Sementara SPP sekolahnya dan dua adik-adiknya dibiayi dari hasil panen dan penjualan kelapa setiap bulan.

“Saya bukan anak orang kaya. Orangtua saya petani biasa. Ibu saya ke sawah, ayah saya mengurusi mengaji anak-anak. Jadi saya berpikir bagaimana sekolah agar dibiayai negara,” ujar Badrodin.

Selepas menamatkan sekolah menengah atas, Badrodin memilih masuk kepolisian. Almarhum ayahnya, H Ahmad Haiti, juga tidak mengetahui kalau sang anak mendaftar ke sekolah polisi.

“Pokoknya ayah saya ajak ke Koramil, tanda tangan. Saya ajak cari akte, tanda tangan,” imbuh dia diikuti tawa peserta silaturahmi.

Ia sudah menebalkan keinginannya menjadi diri sendiri kendati orangtuanya selalu mengarahkan Badrodin menjadi guru. Alasan menjadi kepolisian dipilih agar orangtua Badrodin tak lagi memikirkan biaya kuliah karena sudah dibiayai negara.

Keinginan Badrodin menjadi polisi terkabul. Berbilang tahun ia lewati menjadi anggota Polri sampai akhirnya menjadi orang nomor satu di institusi kepolisian.

Satu ketika ia merasa sudah cukup saat menyandang pangkat bintang satu di pundaknya. Tapi takdir berkehendak lain, ia mendapatkan bintang dua sampai akhirnya menjadi Kapolri.

“Saat bintang satu saya mendapatkan ujian konflik Poso, konflik yang gawat karena menyangkut Muslim dan non-Muslim. Lalu saat bintang dua saya dihadapkan pada konflik Sumatera Selatan di mana Ketua DPRD meninggal dunia, terus saat bintang tiga dihadapkan pada konflik internal yang juga butuh perjuangan untuk menyelesaikan. Saat hendak bintang empat menjadi Plt selama tiga bulan, tetapi selamat menjadi Plt itu akhirnya saya sering masuk televisi dan jadi terkenal,” lanjut dia.

Dari seluruh cerita itu, Badrodin ingin menegaskan siapa pun akan mencapai cita-cita lewat perjuangan sungguh-sungguh. Ia sempat mengingatkan kehidupan santri harus menjadi bekal hidup di masyarakat.

“Pondok pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan, karena ada nilai lebihnya di bidang keagamaan. Jadi jangan minder karena mondok, karena Pondok juga memiliki peran yang sama,” tegas dia.

Sebelum menjadi motivator santri, Badrodin meletakkan batu pertama pembangunan Aula Ahmad Haiti di Balai Pendidikan Ponpes Baitul Arqom. Nama aula itu diambilkan dari nama ayah Badrodin Haiti. (rus/surya)