Nasional

Pesantren Tebuireng Dirikan Pusat Kajian Pemikiran Mbah Hasyim Asy’ari

Minggu, 05 Februari 2017 16:22 wib

...
Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (tengah) membacakan Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng dan peresmian Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy'ari (santrinews.com/ist)

Jombang – Didorong oleh keprihatinan melihat perkembangan situasi kebangsaan, Pesantren Tebuireng mendirikan Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy’ari. Lahirnya pusat kajian yang bernaung di bawah Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) ini juga dimaksudkan untuk melestarikan dan mengembangkan pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini mulai dilupakan.

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengungkapkan, sekitar 20 tahun lalu, ada tokoh NU yang menilai pemikiran KHM Hasyim Asy’ari telah kadaluarsa alias out of date dan dianggap terlalu sederhana.

“Waktu itu saya menjawab, Mbah Hasyim membuat rumusan Ahlussunnah wal Jamaah untuk konsumsi masyarakat. Jadi dibuat sangat sederhana, supaya mudah dipahami. Dan, alhamdulillah, itu mudah dipahami,” ungkapnya saat meresmikan pendirian pusat kajian tersebut, Ahad, 5 Februari 2017.

Fakta bahwa pemikiran Mbah Hasyim mudah diterima, menurut Gus Sholah, dibuktikan dengan jumlah anggota NU yang sangat besar. “Jadi, dari segi ilmu komunikasi, rumusan yang sederhana itu justru suatu keunggulan,” tegas kiai yang juga menjabat Rektor Unhasy Tebuireng itu.

Jasa Mbah Hasyim yang mulai dilupakan, terutama terkait dengan proses memadukan keislaman dan keindonesiaan. Baik pada proses penyusunan rumusan dasar negara, pembentukan Kementerian Agama, hingga sinkronisasi pendidikan nasional dan pendidikan Islam.

“Pak Wahid Hasyim yang berperan dalam proses-proses itu, adalah mewakili pemikiran Mbah Hasyim,” ungkap salah satu putra KHA Wahid Hasyim ini.

Untuk itulah, peresmian pusat kajian ini juga diisi dengan penyampaian Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng. Dokumen berisi enam poin penting itu dibacakan langsung oleh Gus Sholah di akhir acara.

Hadir dalam acara tersebut, mantan Menteri Agama KH Tolchah Hasan, Direktur Pascasarjana UIN Jakarta Masykuri Abdillah. Juga wakil Rektor Unhasy Haris Supratno dan wakil pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. (rus/onk)