Nasional

Film The Santri Angkat Spirit Toleransi

Rabu, 18 September 2019 08:30 wib

...

Dari dulu, spirit santri adalah spirit toleransi, kebinekaan, dan kebangsaan.

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membantah tudingan beberapa kalangan yang menyebut film The Santri tidak mencerminkan tradisi santri, tidak mendidik dan cenderung liberal.

Wakil Sekjen PBNU, selaku Produser Eksekutif film The Santri, H Imam Pituduh mengatakan film garapan sutradara kakak beradik, Livi Zheng dan Ken Zheng itu mengajarkan kebhinekaan kepada masyarakat.

“Spirit filmnya itu menunjukkan semangat Indonesia dengan kebhinekaannya, sangat ramah, damai, dan toleran,” kata Imam di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa 17 September 2019.

Sebelumnya, menantu Imam Besar Front Pembela Islam Rizieq Shihab, Hanif Alathas menolak penayangan film The Santri yang diinisiasi PBNU. Hanif sendiri merupakan Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI).

“Front Santri Indonesia menolak film The Santri karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya,” tutur Hanif.

Imam menuturkan salah satu adegan kebhinekaan dalam film The Santri adalah ketika dua orang santri memberikan tumpeng kepada jemaat gereja. Ia mengatakan adegan itu diambil dari tradisi dan kebiasaan masyarakat pesantren, yakni ater-ater.

Ia membeberkan ater-ater adalah budaya membagikan makanan kepada orang lain, baik muslim atau nonmuslim ketika menjelang bulan Ramadan.

Budaya ater-ater, kata dia, juga sengaja diangkat dalam rangka untuk menggambarkan bahwa menjadi santri bukan berarti kaku dalam bersosialisasi dengan orang lain.

“Islam yang kami ingin tunjukkan adalah Islam yang ramah, bukan marah-marah, merangkul, bukan memukul, toleran, mengajak, bukan mengejek. Nah ini yang penting kami ingin tunjukkan,” ujarnya.

Terkait dengan tudingan The Santri terlalu liberal karena adegan santri memberi makanan ke gereja, ia mengaku enggan menanggapi serius. Ia hanya mengingatkan Rasulullah pernah menyuapi setiap hari pengemis buta yang beragama Yahudi.

“Coba bayangkan, bukan hanya sekadar dibawakan tumpeng ke gereja lho ya, disuapin. Betapa mulianya nilai kemanusiaan ini. ini yang harus dicontoh,” ujar Imam.

Di sisi lain, Imam berkata perjalanan bangsa Indonesia tidak akan bisa dilepaskan dari santri. Santri bersama kalangan nonmuslim disebut berperan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah, ia bahkan berkata, santri terus berperang melawan kolonialisme meski sebagian pihak merasa perang sudah selesai pasca Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Selain berperang, Imam menyebut santri juga berperan dalam mengisi dan menyiapkan dasar-dasar negara. Bersama pihak terkait lainnya, santri yang diwakili oleh KH Wahid Hasyim menyusun Piagam Jakarta, sebuah dokumen yang menjembatani perbedaan dalam agama negara.

“Jadi sesungguhnya spirit santri adalah spirit toleransi, kebinekaan, kebangsaan, yang itu sudah ada dari dulu. Maka dengan demikian santri ini semangatnya harus diangkat ke publik,” ujarnya. (us/cnn)