Nasional

KH Said Aqil: Ada Agenda Besar Ingin Hancurkan NU Sebelum 2024

Jum'at, 18 Oktober 2019 09:00 wib

...
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, usai mengisi sarasehan di kantor PWNU Jatim (santrinews.com/hady)

Surabaya – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersyukur NU turut andil besar mengantarkan kemenangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

“Andilnya NU sangat besar,” kata Kiai Said Aqil saat menghadiri silaturahim dan sarasehan di Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya, Kamis malam, 17 Oktober 2019.

Namun, kemenangan Jokowi-KH Ma’ruf itu berefek besar bagi NU. Tantangan bagi NU semakin besar. Saat ini banyak pihak semakin membenci NU.

“Setelah kita menang tantangannya semakin besar. Seandainya kalah enggak begitu besar seperti ini,” tegasnya.

Tantangan yang dimaksud Kiai Said, yakni ada pihak tertentu yang diklaimnya dongkol dengan andil besar NU dalam memenangkan Jokowi-KH Ma’ruf. Mereka sedang berupaya keras untuk menghancurkan NU sebelum Pilpres 2024.

“Kemarin kemenangan kita (Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019) kan 16 juta, dan target mereka akan dibalik tahun 2024, mereka yang menang 16 juta,” kata Kiai Said.

Pihak-pihak yang ingin menghancurkan NU itu, kata Kiai Said, adalah kelompok yang selama ini menyimpan ketidaksukaan terhadap organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

“Ini pasti yang nggak senang NU, ada agenda rencana bagaimana menghancurkan NU sebelum 2024,” tegasnya.

“Maka ‘biang keroknya’ NU, harus dihancurkan dulu sebelum 2024. Dan ini ketahuilah by design, pasti ada yang mendesain, ada konspirasi yang luar biasa,” sambungnya.

“Jelas dong, indikasinya pihak manapun yang di luar NU ini betapa dongkolnya, karena kemenangan Jokowi-Ma’ruf sebagai kader NU, atau kiai NU, sejak kecil, sejak muda, jadi aktivis NU mencapai puncak wakil presiden, pimpinan nasional.”

Kendati demikian, Kiai Said enggan mengungkapkan secara lugas identitas pihak yang ingin menghancurkan NU tersebut. Menurutnya, bagi kelompok itu, apapun yang dilakukan NU pasti dipandang secara negatif.

Apakah pihak yang dimaksud tersebut kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno atau ‘penumpang gelap’? “Pokoknya yang tidak senang NU, saya tidak bisa menyebut namanya. Kita semua merasakan,” elaknya.

Satu hal yang pasti, menurutnya, pihak yang berupaya menghancurkan NU tersebut semakin banyak, terang-terangan dan mereka bersatu.

“Kalau bisa sebelum 2024 NU harus, bubar sih enggak, harus kocar-kacir, harus pecah, harus ora karu-karuan, berantakan, sebelum 2024,” tandasnya.

Hal itu, lanjut dia, bisa dilihat dari beragam ‘serangan’ yang terus-terusan dialamatkan ke NU. Jangankan yang jelek, yang baik saja dijelek-jelekkan. Kiai Said mencontohkan serangan terhadap film The Santri.

“Yang namanya film The Santri belum (diproduksi). Baru trailernya (promosi film) itu sudah komentarnya caci maki, mengkafir-kafirkan,” paparnya.

Film The Santri, kata dia, baru akan digarap pada April 2020 mendatang. “Tapi karena ya film itu miliknya NU langsung dikafir-kafirkan. Kalau orang lain bikin film, mau pacaran mau apa, enggak ada komentar,” tegasnya.

Indikasi lainnya, Kiai Said menyebut pihak yang semula sosialis dan sekuler, tiba-tiba jenggotan dan menggebuki NU.

“Saya ndak sebut namanya, cari sendirilah biar cerdas. Ada seorang aktivis HAM yang tadinya sekuler, sak iki (sekarang) jenggoten dan gebuki NU,” ungkapnya.

Hal itu, kata Kiai Said, sebuah indikasi bahwa ada operasi khusus, yang mendanai untuk menggembosi, mengecilkan, meminggirkan atau memporak-porandakan NU.

Kiai Said membantah kelompok dimaksud adalah kelompok teroris. “Bukan, (tapi mereka) yang tiap hari kerjanya mengcounter atau merespons dengan negatif apapun yang dilakukan NU, apalagi jeleknya. Baiknya pun dianggap jelek,” tandasnya. (red)