Opini

Lockdown, Strategi Nabi Cegah Penyebaran Virus

Senin, 23 Maret 2020 01:30 wib

...

Lockdown akhir-akhir ini adalah kata yang paling sering kita dengar, terutama di media sosial sebagai efek dari derasnya ketakutan akibat virus Corona. Pemerintah aktif memberikan himbauan agar warga lebih banyak berdiam di rumah dan membatasi pergaulan sosial.

Lockdown merupakan istilah yang diambil dari bahasa Inggris yang artinya mengunci. Jadi, bila istilah tersebut dipakai dalam penanganan virus Corona atau Covid-19 berarti lockdown adalah mengunci seluruh akses masuk maupun keluar dari dan ke suatu wilayah.

Tahukah Anda, sebenarnya lockdown juga pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk menjadi kunci keselamatan di akhir zaman. Pada masanya Nabi Muhammad SAW memerintah pemberlakuan lockdown terhadap wilayah yang diserang wabah penyakit.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari sahabat Uqbah bin Amir, dia pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW; Wahai Rasulullah, apakah kunci keselamatan itu? Rasulullah SAW menjawab: Jagalah lisanmu, diamlah di rumahmu dan tangisi dosa-dosamu. (HR Imam Tirmidzi, hadist hasan).

Dalam hadits ini, sahabat Uqbah bin Amir RA bertanya tentang apa saja yang bisa menyelamatkan manusia di dunia ini dan di akhirat, dan bagaimana seseorang akan bisa mendapatkannya dan menyelamatkan dirinya? Kemudian Nabi memberikan jawaban tiga hal yang sederhana. Pertama, jagalah lisanmu. Artinya tahan diri dari berbagai kejahatan dan keburukan lisan.

Di era penuh fitnah ini setiap kita seharusnya senantiasa berupaya menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidak perlu berbicara atau menulis status di facebook atau WAG kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama, bangsa dan negara.

Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan atau berita itu tidak bermanfaat, maka kita harus menahan diri dari berbicara, mengshare ataupun berkomentar terhadap berita yang belum pasti benar. Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar jika kita tidak membicarakannya?.

Imam Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwa hendaknya setiap orang mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret pada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret pada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284).

Namun di zaman penuh kesedihan akibat virus corona saat ini, kita masih saja melihat betapa banyak orang yang masih ceroboh dalam memposting atau berkomentar di media sosial, menebar ketakutan dan hoax, hingga kemudian tulisan-tulisan itu menyesatkan banyak pihak dan kemudian berbuah penyesalan ketika bermasalah hukum dengan UU ITE, sehingga membuat dia sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan orang, saudara atau teman yang terluka atas komentar dan ucapannya. Sesuatu yang harusnya tidak perlu terjadi ketika mereka mau selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak mereka ucapkan dan tuliskan.

Dalam musim kepanikan, diam justru menjadi solusi yang lebih baik untuk tidak memperkeruh keadaan, seperti dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari-Muslim).

Kedua, diamlah di rumah. Artinya berusahalah untuk lebih banyak berdiam diri di rumah dan gunakan waktumu untuk beribadah apalagi dalam situasi dunia yang penuh cobaan seperti saat ini.

Pada 15 Maret 2020 lalu, Presiden Jokowi di Istana Bogor menghimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah, beribadah di rumah untuk mencegah meluasnya ancaman penularan virus corona.

Memang, berkumpul telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Silaturahmi antar sesama menjadi kegiatan sehari-hari. Namun pada kondisi saat ini, diperlukan sebuah kedewasan berpikir. Mencegah jauh lebih baik. Di sinilah saatnya kita menahan diri di rumah, memanfaatkan kemajuan teknologi agar masih dapat bersilaturahmmi dan melakukan berbagai aktifitas dari rumah.

Mari kita lihat pertumbuhan orang yang tertular di Indonesia yang begitu pesat. Pada 2 Maret 2020, hanya ada 2 orang yang dinyatakan positif corona. Dan kini per 21 Maret 2020, sudah ada 450 orang yang positif corona. Kenaikannya sangat signifikan.

Berdiam diri di rumah atau sosial distancing di saat wabah pandemi corona ini juga mempunyai nilai ibadah dan mendapatkan pahala. Dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhari dijelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : سألتُ رسولَ اللهِ ﷺ عن الطاعونِ ، فأخبَرَني رسولُ اللهِ ﷺ: أنَّه كان عَذابًا يَبعَثُه اللهُ على مَن يَشاءُ، فجعَلَه رَحمةً للمُؤمِنينَ، فليس مِن رَجُلٍ يَقَعَ الطاعونُ فيَمكُثُ في بَيتِه صابرًا مُحتَسِبًا يَعلَمُ أنَّه لا يُصيبُه إلّا ما كَتَبَ اللهُ له إلّا كان له مِثلُ أجْرِ الشَّهيدِ.

“Diceritakan dari A’isyah RA: Saya bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang wabah tha’un. Beliau menjawab: Sesungguhnya tha’un itu peringatan Allah bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan rahmat bagi orang-orang beriman. Tiada orang yang pada saat musim wabah tha’un melanda dan dia berdiam diri di rumah dengan sabar dan beribadah kepada Allah, meyakini bahwa dia tidak akan terkena suatu bencana kecuali atas takdir Allah atas dirinya, maka dia akan dicatat mendapatkan pahala orang syahid.”

Imam Ibnu Hajar memberikan komentar atas hadist tersebut. Sesuai maknanya hadist, bahwa siapapun yang melakukan diam diri di rumah di saat wabah melanda dengan sabar, maka dia mendapatkan pahala mati syahid meskipoun dia tidak meninggal. (Fathul Bari: 10/194).

Ketiga, menangislah atas dosa-dosamu. Yaitu, bertobatlah dari dosa-dosa masa lalu dengan tangisan penyesalan sejati sebagai bukti kesungguhan atas pertaubatan, dan kemudian bekerjalah untuk memperbaiki diri di masa yang akan datang.

Sudah saatnya bagi kita untuk intropeksi diri, bertaubat dan memperbanyak istighfar kepada Allah SWT, bencana-bencana ini terjadi sebagai peringatan Allah SWT agar manusia bertaubat, karena mereka telah banyak lalai dengan urusan dunia dan melupakan Allah dan ajaran-ajaran-Nya.

Cobaan adalah salah satu bentuk panggilan untuk kembali kepada Allah SWT, dengan beristighfar memohon ampun atas segala dosa-dosa, niscaya Allah akan mengabulkan istighfar mereka, dan menghentikan bala’ dan bencana sesuai dengan firman Allah:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. ( Qs Al Anfal: 33).

Berkata Ibnu Abbas RA ketika menafsirkan ayat di atas: Dulu para sahabat mempunyai dua penolak bala’, yaitu keberadaan Nabi Muhammad SAW dan istighfar, maka ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, penolak bala’ itu tinggal satu, yaitu istihgfar.

Semoga dengan memperbanyak istighfar wabah ini segera berakhir dan kita semua diberikan kesehatan yang prima oleh Allah SWT. Amin. (*)

Dr KH Ahmad Fahrur Rozi, Pengasuh Pondok Pesantren Annur Bululawang, Malang dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.