Politik

Presiden SBY Dinilai Menipu Warga NU

Senin, 06 Mei 2013 00:30 wib

...

Jakarta – Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka KH Maman Imanulhaq menilai, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianggap telah menipu nahdliyyin. Sikap para ulama NU yang secara istiqomah menunjukan kesetiaan kepada Negara dan diikuti warga NU dengan ketulusan telah dikhianati SBY.

Ulama muda kharismatik itu menyebut, ada dua sikap SBY yang telah menipu para ulama dan warga NU. Yakni, tidak amanah dan peka terhadap persoalan bangsa seperti yang diharapkan para ulama dan warga NU.

Dikatakan KH Maman, dalam berbagai kesempatan SBY meminta menteri dari partai politik mundur jika tidak fokus dan lebih banyak urus partainya. Tapi rakyat hari ini melihat Sang Presiden menjadi ketua umum Partai Demokrat.

Bahkan, SBY menujuk Menteri Koperasi dan UKM Syaprief Hasan sebagai Ketua Harian Partai Demokrat dan Menteri Perhubungan EE Mangindaan sebagai Ketua Harian Dewan Pembina Partai Demokrat.

“Rangkap jabatan ini menggelisahkan rakyat. Bukan hanya karena akan mengabaikan tugas kenegaraan tapi sikap SBY yang tidak konsisten. Ia mengingkari ucapannya sendiri,” tegas KH Maman.

Selain soal karakter yang tidak amanah, sikap SBY yang menipu warga NU menurut KH Maman, adalah ketidakpekaaannya terhadap persoalan bangsa dan Negara. Saat keadaan ekonomi yang semakin suram serta keadaan sosial semakin rentan terhadap konflik seperti Mesuji, Sumbawa, Ogan Komering Ulu, penyerangan LP Cebongan Sleman dan kerusuhan di Palopo, SBY tidak pernah serius berkonsentrasi untuk menyelesaikan itu semua.

SBY malah serius menanggapi soal Yenny Wahid yang tidak jadi gabung di Partai Demokrat, tapi tidak peka terhadap psikologi warga NU saat Gus Dur dihina Sutan Bhatoegana, atau saat Ketua Apindo Sofjan Wanandi menghina pesantren atau saat begitu banyak warga NU yang jadi Buruh TKI mendapat perlakuan tidak manusiawi di luar negeri.

Contoh ketidakpekaan lainnya, dengan bangga SBY menerima penganugerahan gelar Honoris Doctoral (Doctor of Letters) dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU) Singapura, padahal di universitas tersebut kematian mahasiswa jenius asal Indonesia, David Hartanto Wijaya sampai hari ini masih misterius.

Sikap SBY yang demikian itu, kata KH Maman, membuat Pemerintahan kehilangan wibawa. Akibatnya, berbagai fenomena menyedihkan tentang kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, kasus korupsi yang makin merajalela, konflik komunal berbasis etnik dan agama di sejumlah daerah, serta elit yang saling mendegradasi atau menghujat bahkan menjatuhkan satu sama lain, terus menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mana kepekaan sang presiden?,” kata KH Maman.

Besarnya dukungan dan harapan para ulama NU, setidaknya mengemuka dalam acara dzikir akbar yang diselenggarakan sebagai rangkaian haul pendiri Pesantren Al-Munawwir ke 74, pesantren salafiyah tertua di Jogja, KH M Munawwir Bin Abdullah Rosyad, pada minggu keempat April 2013 lalu.

Dalam acara tersebut, lantunan kalimat thoyyibah membahana di halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta saat KH R Moch Najib Abdul Qodir Munawwir memimpin dzikir untuk kedamaian dan keselamatan Bangsa dan Negara Indonesia.

Sementara Katib ‘Aam Syuriah PBNU, KH DR Malik Madani, yang hadir sebagai penceramah menyebut, ketulusan para ulama NU dalam menjaga kedamaian, kerukunan dan keharmonisan negeri ini merupakan dukungan agar para pemimpin menjaga negara dan bangsa ini dengan keteladanan, kejujuran, dan sikap amanah. (shir/saif)