Tokoh

Mbah Hasyim Asy’ari, NU dan Istikharah Kiai Zaini Mun’im

Kamis, 16 Mei 2019 01:30 wib

...
Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH Zaini Mun’im (santrinews.com/istimewa)

Pasca NU keluar dari Masyumi, Kiai Zaini Mun’im sempat mengalami gejolak batin.

Kiai Haji Zaini Mun’im adalah pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Ia salah seorang santri atau murid Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau juga mantan Ra’is Syuriyah PCNU Kraksaan dan Wakil Ra’is Syuriyah PWNU Jawa Timur.

Kiai Zaini Mun’im tercatat sebagai Ulama pejuang pada masa penjajahan Belanda. Ia berasal dari Madura, tepatnya di Desa Galis, Pamekasan. Lahir pada 1906 silam, putra pertama dari dua bersaudara pasangan Kiai Abdul Mun’im dan Nyai Hj Hamidah.

Dalam beberapa literatur, Kiai Zaini Mun’im dikenal sebagai sosok pejuang. Bagi beliau, orang yang tidak melakukan perjuangan berarti ia telah melakukan maksiat. Sebagaimana tertulis dalam buku biografi beliau bahwa ”Orang yang hidup di Indonesia, kemudian tidak melakukan perjuangan dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan pendidikan dan ekonominya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikiran perjuangan orang banyak (rakyat)”.

Sejak kecil, KH Zaini Mun’im mendapatkan pendidikan agama dari kedua orang tuanya. Menginjak usia 11 tahun, pada masa penjajahan Belanda, beliau sekolah Wolk School (Sekolah Rakyat) selama empat tahun (1917-1921). Selanjutnya, Kiai Zaini mendalami Al-Qur’an beserta tajwidnya kepada Syaikhonan KH Muhammad Kholil dan KH Muntaha, menantu Kiai Kholil di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura.

Sebelum menjadi santri Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Zaini terlebih dahulu nyantri di Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan yang diasuh oleh KHR Abdul Hamid dan putranya KH Abdul Madjid sekitar tahun 1922. Kemudian pada 1925, Kiai Zaini merantau ke Jawa dan mondok di Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Di sini KH Zaini Mun’im hanya belajar satu tahun, karena ayah tercintanya wafat. Sebagai putra sulung, ia harus pulang ke Madura untuk menggantikan posisi ayahnya.

Setelah berusia 22 tahun, KH Zaini Mun’im melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Di pesantren ini, Kiai Zaini Mun’im mempertajam ilmu agama dan ilmu bahasa Arab.

Pertengahan tahun 1928, ia berangkat ke Mekah untuk berhaji dan menetap di Sifirlain untuk menuntut ilmu, selama lima tahun. Sebelum pulang ke tanah air, ia sempat bermukim di Madinah selama enam bulan untuk ikut berbagai pengajian di Masjid Nabawi dari beberapa ulama terkemuka saat itu.

Sekembalinya dari Mekkah pada 1934, Kiai Zaini Mun’im aktif di NU Pemekasan. Tetapi pada kegiatan dan pengabdiannya di NU Pemekasan hanya pada kekuatan kharismatiknya (kultural) bukan pada kekuatan jam’iyahnya (organisasinya). Barulah ketika tinggal di Paiton pada 1951, beliau mulai aktif di NU secara organisatoris. Keaktifan Kiai Zaini Mun’im di PCNU Kraksaan karena diajak oleh Kiai Hasan Genggong, KH Abdul Latif dan KH Fathullah Kraksaan selaku fungsionaris NU Kraksaan kala itu dan pada saat itu pula beliau diangkat menjadi a’wan (anggota) Ra’is Syuriyah.

Pasca Muktamar ke-19 NU di Palembang pada 1952, Kiai Zaini Mun’im mengalami gejolak batin. Salah satu keputusan dalam muktamar itu, NU keluar dari Partai Masyumi dan menjadi Partai Politik NU.

Batin Kiai Zaini bergejolak karena dua gurunya yang sama-sama berpengaruh, tapi tidak dalam satu organisasi, yaitu Kiai Abdul Madjid Banyuanyar Pamekasan yang aktif di AKUI (sekarang PSII), sementara Kiai Hasyim Asy’ari pendiri dan Ra’is Akbar NU.

Karena ketawadluan pada kedua gurunya, batin Kiai Zaini Mun’im semakin bergejolak tatkala diajak oleh gurunya, Kiai Abdul Majid untuk aktif di AKUI, sedangkan pada sisi yang lain beliau juga tidak enak dengan Kiai Hasyim Asy’ari.

Dalam situasi bimbang itulah, Kiai Zaini Mun’im melakukan shalat istikharah meminta petunjuk kepada Allah untuk memutuskan persoalan yang melanda dirinya. Dalam istikharahnya itu, sebagaimana dalam buku Biografi Kiai Zaini Mun’im yang ditulis M Masyhur Amin dan M Nasikh Ridwan, beliau melihat ada dua mobil, sementara itu Kiai Abdul Majid mengajak Kiai Zaini untuk ikut masuk ke salah satu mobil itu.

Ketika Kiai Zaini menghampiri dan hendak masuk ke mobil yang ditumpangi Kiai Abdul Majid, tiba-tiba beliau melihat Kiai Hasyim Asy’ari memanggilnya, “kamu di sini saja Zaini”, sambil membukakan pintu mobilnya yang memang jauh lebih baik dari mobilnya Kiai Abdul Majid.

Dan akhirnya dalam istikharahnya itu, Kiai Zaini menghampiri Kiai Hasyim Asy’ari dan ikut masuk ke dalam mobilnya. Setelah melakukan istikharah itulah, Kiai Zaini Mun’im yakin untuk tetap berjuang melalui NU.

Selanjutnya, segala kemampuan tenaga dan pikiran beliau curahkan untuk membesarkan dan memajukan NU. Karena kalau kita menangkap isyarah yang tersirat dalam shalat istikharah itu, menunjukkan bahwa NU organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang paling baik dan cocok untuk dijadikan wadah perjuangan dan membersarkan Islam ala Ahlussunnah wal jamaah di bumi Nusantara.

Visi perjuangan NU sangat relevan dengan nilai kebangsaan Indonesia. Arah perjuangan NU tidak hanya pada aspek keagamaan akan tetapi juga sosial kemasyarakatan dan kebangsaan. Dalam aspek sosial dan kebangsaan ini, NU tidak membeda-bedakan dan mengkotak-kotakan rakyat Indonesia sebagai suatu bangsa.

Begitu juga dengan visi dan orientasi Kiai Zaini Mun’im dalam berjuang bersama NU, ialah agar masyarakat di kalangan bawah (khususnya warga NU yang tidak mampu) dapat terangkat kesejahteraannya dan derajatnya, juga agar pemerintah dapat menjalankan ajaran Islam secara konsekuen dan bertanggungjawab. Sehingga tidak heran jika perjuangan Kiai Zaini Mun’im di NU dilakukan secara totalitas.

Oleh karena itu, Kiai Zaini Mun’im tidak suka kalau umat dikotak-kotakan, dan dibeda-bedakan. Bahkan beliau sangat marah dan tidak suka jika perselisihan antara NU dan Muhammadiyah terus dipertajam, dan beliau lebih suka mencari sisi persamaan walaupun berbedaan antara NU dan Muhammadiyah tetap ada.

“Oleh karena visi dan orientasi beliau seperti itu, maka strategi yang digunakan dalam membesarkan NU ialah meniru cara-cara dakwah Sunan Ampel yakni menggarap dan memperhatikan kepentingan masyarakat bawah” (Masyhur Amin, Nasikh Ridwan; 1996;73).

Akhirnya, ketika Kiai Abdul Latif Ra’is Syuriyah PCNU Kraksaan pada 1953 meninggal dunia, Kiai Zaini Mun’im dipilih dan diangkat menjadi Ra’is Syuriyah Cabang Kraksaan hingga 1975, dan pada saat yang bersamaan beliau dipercaya menduduki jabatan Wakil Ra’is Syuriyah PWNU Jawa Timur yang kala itu Ra’is Syuriyahnya adalah Kiai Mahrus Ali Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Dan selanjutnya semoga Allah menempatkan beliau di surga-Nya, dan kita sebagai santrinya bisa meneladani dan melanjutkan perjuangan beliau dalam membesarkan Islam ala ahlussunnah wal jamaah bersama NU. Wallahu A’lam. (*)

Mushafi Miftah, Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Saat ini mengabdikan diri sebagai Dosen Tetap di Universitas Nurul Jadid, dan kandidat Doktor di Universitas Jember.