Uswah

KH Muzakki Ridwan, Kiai Tersembunyi Penyangga Islam Aswaja

Minggu, 01 Desember 2019 19:00 wib

...

Ada banyak kiai yang perannya tak terbaca oleh sejarah. Yaitu, kiai yang berjuang di bawah. Jauh dari sorotan lampu kamera. Aktifitas kesehariannya adalah mendampingi para santri di desa.

Tipe kiai yang demikian itu jarang terlihat dalam acara-acara penting skala nasional. Kepergiannya ke kota-kota besar seperti Jakarta pun mungkin bisa dihitung dengan jari. Ia tak betah terlalu lama di luar kota karena kerinduannya pada para santrinya di rumah, sebab ia selalu menjadi imam shalat berjemaah.

Di antara tipe kiai yang demikian itu adalah KH Muzakki Ridwan, Pemangku Pondok Pesantren Ma’hadul Qur’an Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, salah satu menantu KHR As’ad Syamsul Arifin (pahlawan nasional).

Baca juga: Imam al-Ghazali, Kiai Asad, dan Mahad Aly

Kiai Muzakki adalah kiai tersembunyi. Bergerak di belakang layar. Membimbing dan mengedukasi santri setiap hari. Tidak sembarang santri, melainkan santri spesial: para penghafal al-Quran. Demikian intim hubungan Kiai Muzakki dengan para santrinya, maka hampir semua nama santri yang tinggal di Ma’hadul Qur’an beliau hafal.

Sehari-hari beliau mengajarkan kitab-kitab dasar yang berguna untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan kitab-kitab besar yang lazim menjadi modal perdebatan akademik intelektual.

Tak muluk tapi penting. Ia intens menekankan kepada para santrinya untuk selalu bertumpu pada ajaran Islam Ahlissunnah Waljamaah (Aswaja). Itu juga yang dikatakannya pada saya ketika tiga tahun lalu saya sowan ke beliau di rumah sederhananya di Sukorejo.

Baca juga: KH Hariri Abdul Adhim, Sosok Ulama Sufi Pemangku Mahad Aly Sukorejo

Saya berpendirin, para kiai dengan tipe seperti Kiai Muzakki inilah yang sesungguhnya menjadi penyangga utama tegaknya ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah di Nusantara: ajaran keislaman yang lebih mendahulukan perdamaian ketimbang kekerasan.

KH Muzakki Ridwan, wafat dalam usia 62 tahun, Sabtu, 30 November 2019 sekitar pukul 21.40 WIB. Jenazah almarhum dikebumikan di kompleks pemakaman Masjid Jami’ Ibrahimy, pada Ahad pagi, 1 Desember 2019.

Shalat jenazah dipimpin KH Afifuddin Muhajir dan pembacaan talqin oleh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy.

Selamat jalan, Kiai Muzakki. Allah ghafara dzunubakum wa nawwara dharihakum. Wa inna insyaAllah bikum lahiqun. (*)

Ahad, 1 Desember 2019
Salam,

Dr H Abdul Moqsith Ghazali, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo.