Ansor Jatim Peringati Resolusi Jihad NU 1945

Surabaya – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, Rabu malam, 22 Oktober 2014 memperingati 69 tahun “˜Resolusi Jihad NU’. Bertempat di Graha Ansor Jatim, Jalan Letjen Sudirman MGM 22 Gayungsari Surabaya.

Tampak hadir pengurus Ansor Jatim, banom NU, dan PMII serta para aktivis mahasiswa. Peringatan dikemas nonton bareng film “˜Sang Kiai’ dengan diawali pembacaan teks Resulusi Jihad NU oleh Khoirul Huda (Wakil Ketua) dan tausiyah oleh Ahmad Tamim (sekretaris).

Berikut teks Resolusi Jihad NU sebagaimana pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945. Salinan teks di sini menyesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan:

Bismillahirrahmanirrahim
Resolusi

Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya: Mendengar:

Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.Menimbang:

a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam

b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Ummat Islam.

Mengingat:

a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.

b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan ummat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya.

d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.Memutuskan:

1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan.

2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

“Resolusi Jihad NU tersebut terbukti menjadi embrio kekuatan perlawanan rakyat terhadap penjajah,” kata Ahmad Tamim.

Tepat pada 22 Oktober 1945, Rais Akbar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH M Hasyim Asyari bersama konsul NU dari Jawa dan Madura merumuskan serta mengeluarkan Resolusi Jihad.

Fatwa Resolusi Jihad NU tersebut berdampak luar biasa dan mampu membakar darah juang kaum santri, para kiai dan warga. Ribuan santri pun membludak datang ke Surabaya. Mereka ingin berjihad di jalan Allah dengan mempertahankan Tanah Air. Puncaknya pada 10 Nopember 1945.

Dengan senjata seadanya, para santri dan ribuan rakyat bertempur melawan tentara NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutu. Sebuah pertempuran yang sangat heroik.

“Hanya saja peran penting kiai NU dalam perjuangan mempertahankan Tanah Air belum diakui sepenuhnya dalam sejarah perjuangan Indonesia,” kata Khoirul Huda. (ahay)

Terkait

Daerah Lainnya

SantriNews Network