Konferwil IPNU Jatim 2018

Hadiri Konferwil IPNU Jatim, Khofifah Beri Wejangan Khusus

Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa (santrinews.com/rofii)

Banyuwangi – Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa memberikan catatan terkait pola kaderisasi di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Hal tersebut dalam rangka melahirkan kader yang memiliki etos dan jejaring sehingga dapat diandalkan di kemudian hari.

“Bagi saya, IPNU dan IPPNU adalah harus menjadi bagian dari kawah candradimuka NU,” kata Khofifah saat memberikan wawasan pada peserta Konferensi Wilayah (Konferwil) IPNU Jatim di aula kampus IAI Ibrahimy, Banyuwangi, Sabtu 4 Agustus 2018.

Oleh sebab itu, mantan Menteri Sosial RI ini tidak sependapat bila IPNU dan IPPNU dikatakan sebagai organisasi kemasyarakan atau Ormas.

IPNU dan IPPNU adalah organisasi kader,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU ini.

Dengan demikian militansi NU mereka sangat bergantung dan ditentukan saat dikader di dua badan otonom NU tersebut.

Karena sebagai organisasi kader, maka format kaderisasi di IPNU maupun IPPNU harus dibenahi. “Saya rasa, ada yang salah di kaderisasi IPNU-IPPNU selama ini,” katanya.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ketika dirinya mencari kader untuk kepengurusan Muslimat NU.

Khofifah menginginkan agar para penyuplai kader di PBNU adalah mereka yang sebelumnya dikader di IPNU. “Demikian pula, pengisi kepengurusan di Muslimat NU adalah para kader IPPNU,” harapnya.

Namun ternyata hal tersebut tidak terjadi. Dirinya kemudian mencontohkan ketika akan merekrut kepengurusan di PP Muslimat NU dan memilih salah seorang mantan Ketua Umum PP IPPNU sebagai ketua bidang organisasi, ternyata etos dan jejaring oranisatorisnya hilang. Hal yang sama dirasakan di kepengurusan PBNU.

“Oleh karena itu, saya mengharapkan pembibitan utama kader NU adalah di IPNU dan IPPNU,” ungkapnya.

Sebagai solusi, Khofifah mengajak semua kalangan untuk membedah ulang kurikulum kaderisasi yang berlaku. “Sosok organisator yang harusnya hadir sebagai sosok fighter, ternyata sedikit dari IPNU dan IPPNU,” sergahnya. 

Untuk dapat melahirkan sosok fighter tersebut, ada baiknya mendatangkan para pakar untuk membedah ulang kurikulum kaderisasi yang ada.

“Dengan demikian akan lahir speaker NU, speaker Ahlussunnah wal jamaah serta speaker Islam rahmatan lil alamin dari IPNU dan IPPNU,” ungkapnya.

Khofifah membayangkan, bila juru bicara NU, Aswaja dan Islam rahmatan lil alamin telah dimiliki IPNU dan IPPNU, dan pada saat yang sama tenaga profesional tersedia, maka Islam tidak akan terkalahkan. “Sehingga Islam benar-benar ya’lu wala yu’la alaih,” tegasnya. 

Dan bila tenaga profesional yang memiliki kompetensi telah ditemukan di IPNU serta IPPNU, maka tugas berikutnya adalah bagaimana NU mampu menjembatani dengan jejaring yang ada. “Karena bagaimanapun, seluruh tenaga yang memiliki kompetensi tersebut harus terus dikawal,” tandasnya. (*)

Terkait

Daerah Lainnya

SantriNews Network