Indonesia, Arab Saudi, dan China

Saya sudah sering menulis cukup panjang berseri lebih dari empat kali di akun Facebook tentang hubungan baik antara Saudi atau negara-negara GCC (Gulf Cooperation Council) yang lain di kawasan Arab Teluk seperti Qatar, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, dan Kuwait (jika berminat, silakan dicari sendiri) dengan Republik Rakyat China.

Hubungan baik Saudi-China khususnya sejak 2000-an dan puncaknya ketika mendiang Raja Abdullah (saudara Raja Salman) mengadakan lawatan perdana ke Negeri Panda pada 2005, sebagai aksi kunjungan balasan atas kunjungan Presiden China Hu Jintao ke Saudi.

Sebelumnya, Presiden Jiang Zemin juga pernah mengunjungi Saudi dan disambut sangat hangat oleh pihak kerajaan. Sejak itu, pertemuan intensif kedua negara terus digalakkan. Tahun lalu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman juga melawat ke China setelah sebelumnya, Presiden Xi Jinping juga mengadakan pertemuan bisnis di Riyad.

Hasil dari “silaturahmi” kedua negara ini luar biasa: China adalah negara terbesar pengimpor minyak Saudi. Sekitar 20% kebutuhan minyak mentah di China dipasok oleh Saudi. China juga telah berinvestasi ratusan milyar dollar di Saudi di berbagai bidang: energi, telekomunikasi, transportasi, perumahan, industri tekstil, dlsb. Perusahan-perusahan raksasa China beroperasi dengan leluasa di Saudi. Sebaliiknya, perusahaan-perusahan raksasa Saudi juga membuka cabang di China.

Kerja sama ekonomi-bisnis kedua negara itu saling menguntungkan dan sama-sama “heppii” karena karakter China itu tidak “berisik” dan tidak banyak sarat ini-itu kalau mau kerja sama: pokoknya bisnis ya bisnis, urusan duit, dagang. Titik. China tidak mau mencampuri urusan rumah tangga Saudi (soal HAM misalnya). Karena itu Saudi dan negara-negara Arab Teluk pada umunya sangat senang bekerja sama dengan China.

Tidak ada sama sekali isu tentang kekhawatiran bahaya laten komunis dan tetek-bengek lainnya seperti yang dikumandangkan oleh jamaah “Bani Nasbung” di Indonesia. Warga Saudi hepi-hepi saja dengan aneka produk China yang “mengsunami” kawasan Jazirah Arab ini: dari ponsel sampai boneka onta.

Bukan hanya China, produk-produk dari Russia yang sebagian berlogo palu arit seperti dalam foto ini (kredit foto untuk Pak Kiai Nurul Huda) juga bertebaran di Saudi. Coba bayangkan kalau produk-produk ini ada di Jakarta?.

Karena itu “hoax akbar” dan propaganda murahan kelas upil kere jika ada yang mengatakan bahwa kunjungan Raja Salman ke Indonesia adalah dalam rangka untuk “mengingatkan” Presiden Jokowi agar “jangan bermain mata dengan China-Komunis”. Hanya orang-orang ideot dan sakit jiwa saja yang percaya dengan bualan ini.

Selain Amerika, China dan Jepang adalah dua negara sahabat dekat Saudi (dan GCC) karena itu wajar jika sehabis dari Indonesia, Raja Salman bertolak ke China dan Jepang. Semua itu murni untuk urusan bisnis-ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga Saudi.

Semoga saja kunjungan bersejarah Raja Salman ke Indonesia yang merupakan bentuk dari “kunjungan balasan” Presiden Joko Widodo ke Saudi membuahkan hasil maksimal untuk kerja sama ekonomi-dagang kedua negara.

Saya sudah berkirim WA dengan teman sekaligus Duta Besar Indonesia di Saudi yang akan “mengawal” jalannya relasi Indonesia-Saudi ini. Dialah salah satu “aktor” di balik kunjungan ini dan juga kunjungan Pangeran Alwaleed ke Indonesia sebelumnya. Insya Allah semua akan membuahkan hasil maksimal.

Tapi ngomong-ngomong tadi di kelas saya tanya ke murid-murid Saudi/Arabku. Apakah kalian tahu kalau Raja Salman mau ke Indonesia? Ternyata hanya satu-dua saja yang tahu. Saya tanya lagi: Apakah kalian tahu Petamburan? Tidak ada satu pun yang tahu. Saya tanya lagi: Apakah kalian tahu Bali? Hampir semuanya ngacung. (*)

Terkait

Opini Lainnya

SantriNews Network