Daerah

Abah Anton: Idul Fitri Momentum Peleburan Dosa

Senin, 28 Juli 2014 13:17 wib

Malang – Wali Kota Malang Moch Anton menyatakan perayaan Idul Fitri menjadi momentum peleburan dosa sekaligus upaya untuk menghindarkan diri dari siksa api neraka setelah satu bulan penuh melawan hawa nafsu.

Demikian disampaikan Abah Anton – demikian dia biasa dipanggil – ketika memberikan sambutan sebelum pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Masjid Jami’ Kota Malang, Senin, 28 Juli 2014.

“Selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan kita melawan rasa lapar dan haus, namun sebenarnya yang paling berat adalah berperang melawan hawa nafsu yang selalu menggerogoti hati setiap insan. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi momentum bagi kita semua untuk bisa kembali terlahir sebagai manusia yang bersih,” ujarnya.

Setelah lahir kembali menjadi manusia yang bersih, lebih baik dan bermartabat untuk mempercepat proses pembangunan di Kota Malang yang lebih baik.

Sementara Imam dan Khatib, KH Syukron Makmun dari Jakarta menegaskan perang yang paling berat, bukan perang melawan rasa lapar dan haus selama satu bulan penuh pada Bulan Ramadhan, tapi perang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang memenuhi batin dan hati manusia.

Apalagi, katanya, saat ini bukan hanya rumah atau bangunan saja yang tergusur, tapi agama pun mulai tergusur, bahkan identitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama pun sudah berubah menjadi materialistis.

“Sekarang, ukurannya bukan lagi halal haram, yang terpenting adalah duit, bahkan memilih pemimpin pun juga yang bisa bagi-bagi duit. Ketika Pemilu, saya jalan-jalan di kampung-kampung dan masyarakat saya tanya, siapa yang dipilih, ternyata jawaban mereka semua rata dan sangat mengejutkan, yakni yang bagi-bagi duit,” tegasnya.

Lebih lanjut Syukron mengatakan sekarang juga telah terjadi perang, namun bukan perang yang menggunakan senjata. Perang tanpa senjata inilah yang justru lebih berbahaya dan menghancurkan karena perang yang dihadapi adalah perang peradaban.

Menurut dia, seperti dilansir Antara, secara tidak langsung teknologi canggih dankeberadaan media sosial, seperti facebook dan twitter diciptakan untuk menghancurkan peradaban, khususnya Indonesia.

“Dalam berpakaian pun kita juga sudah dihancurkan, tetapi kita tidak sadar kalau peradaban dan nilai-nilai agama serta moral kita akan dihancurkan oleh dunia barat,” tegasnya.

Oleh karena itu, kata Sukron, hanya keimanan dan ke-Islam-an yang mampu membentengi bangsa ini dari kehancuran yang terus dijejalkan bangsa barat. Pada 50 tahun yang akan datang, apakah bangsa Indonesia ini akan tetap berperadaban yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan moral, ataukah sudah menjadi peradaban bangsa lain?.

“Sebab, liberalisme dan hak asasi manusia juga terus dijejalkan pada masyarakat Indonesia. Kalau pemerintah tidak tegas dan membatasi liberalisme yang berpedoman pada akhlak, norma-norma agama, moral dan etika, maka tidak menutup kemungkinan bangsa Indonesia ini menuju proses ‘pembinatangan’,” tandasnya.

Kondisi inilah, tegas Syukron, yang harus dilawan dan umat Islam juga harus memebentengi diri dengan keimanan yang kuat. “Jangan sampai sekularisme bangsa Yahudi juga menggerogoti bangsa ini,” tegasnya. (jaz/ahay)