Daerah

Harlah NU, IPNU-IPPNU Desa Prampelan Gelar Nonton Film Sang Kiai

Rabu, 01 Februari 2017 00:52 wib

...
Anggota IPNU-IPPNU, Ansor, Fatayat, Tokoh agama dan Pemerintah Desa Pramperlan saat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Demak – Memperingati Harlah ke-91 NU, IPNU-IPPNU Desa Prampelan mengadakan serangkaian acara dan diakhiri dengan nonton bareng film Sang Kiai.

Kharir, ketua panitia acara memaparkan, acara ini selain mempererat tali silaturahim antar pelajar NU, juga bertujuan untuk mengingatkan kembali semangat dan pengorbanan Kiai Hasyim Asy’ari.

“Juga para santri Mbah Hasyim dalam memperjuangkan Negara Indonesia,” kata Kharir saat membuka acara di Gedung Serbaguna Balai Desa Prampelan, Selasa 31 Januri 2017.

Sang Kiai merupakan film yang diproduksi pada tahun 2013 oleh Rapi Film, mengangkat kisah pejuang kemerdekaan sekaligus pendiri NU, Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Diceritakan bagaimana peran besar para ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan.

Kiai Hasyim adalah tokoh yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam dan juga tokoh yang berperan mempertahankan kemerdekaan pada era 1942-1947. Tokoh yang dijuluki Hadrotus Syeikh atau maha guru ini pada waktu itu mengajak para santri untuk jihad fisabilillah melawan penjajah, yang akhirnya lahir peristiwa besar.

Acara yang dihadiri pemerintah Desa Prampelan, tokoh agama setempat dan seluruh anggota IPNU-IPPNU, Ansor, dan Fatayat ini diawali dengan sholawat yang dipimpin grup rebana As-Sabab. Selain itu, bincang mengenai kilas sejarah NU yang dipimpin Kiai Selamet Ghozali juga turut memeriahkan acara.

“Tokoh sebaik Kiai Hasyim Asy’ari tentu beliau banyak belajar dan membaca. Bukan hanya buku-buku yang berbahasa Indonesia saja, melainkan kitab-kitab yang berbahasa Arab juga beliau pelajari. Maka dari itu, kita kaum muda, kaum yang di mana kecanggihan teknologi mulai mudah dinikmati. Haruslah bisa meniru dan meneladani beliau,” ujar Kiai Selamet saat memimpin kilas sejarah NU.

Kiai Selamet berpesan agar IPNU-IPPNU juga gemar membaca buku dan kitab yang jelas sumbernya. Tidak hanya mengandalkan google dalam belajar ilmu agama.

“Perbanyak baca buku, mengaji pada ustadz atau kiai yang jelas sanadnya. Jangan terlena dengan kecanggihan teknologi yang malah semakin membuat kita menyepelekan buku dan kitab,” lanjut Kiai Selamet. (red)