Daerah

Kader PMII Sunan Drajat Harus Teladani Raden Qosim

Kamis, 24 Oktober 2013 19:17 wib

Gresik – Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STAI Sunan Drajat, Lamongan, hendaknya meneladani kehidupan sosial dan pola keberagamaan Raden Qosim atau Sunan Drajat.

Seruan ini disampaikan pada acara Pelantikan Pengurus Komisariat PMII STAI Sunan Drajat yang dirangkai dengan masa penerimaan anggota baru (MAPABA).

Acara itu yang diikuti puluhan peserta dari mahasiswa program studi PAI, KPI dan PMI itu berlangsung di Pondok Pesantren al-Ihlas, dusun Dulyoreno, Panceng, Gresik, pada tanggal 23-25 Oktober 2013.

Ketua komisariat PMII STAI Sunan Drajat, Moh Sya’roni mengatakan, acara ini dimaksudkan agar para mahasiswa menghayati agama Islam dengan baik dan benar. Menurutnya, Islam harus dipahami sesuai dengan karakter budaya lokal Indonesia. Ini penting untuk menjaga kebudayaan asli Indonesia.

Pemahaman seperti ini, lanjut Sya’roni, telah dicontohkan oleh para wali songo, khususnya Raden Qosim atau Sunan Drajat. Semasa hidupnya, Sunan Drajat dikenal sangat dekat dengan rakyat kecil berikut budaya mereka.

“Mahasiswa harus mampu menjalankan ajaran Islam sebagaimana yang digariskan wali songo khususnya Raden Qosim Sunan Drajatyang serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Nilai nilai PMII harus ditransformasikan,” kata Moh Sya’roni.

Sunan Drajat merupakan salah seorang diantara sembilan ulama penyebar agama Islam di Nusantara. Diceritakan, dalam pemberdayaan umat, Sunan Drajat banyak terlibat dalam peningkatan ekonomi masyarakat dengan semboyan yang sampai saat ini masih dihafal. Yakni wenehono mangan maring wong kang luwe (berikan makan bagi orang yang lapar), wenohono busono marang wong kang wudo (berikan pakaian yang tidak bunya busana), wenehono teken maring wong kang wuto (berikat tongkat bagi orang yang buta), wenehono papan maring wong kang kudanan (berikan rumah bagi orang yang tuna wisma).

“Nah mahasiswa harus mempunyai landasan filosofis yang dibangun Raden Qosim itu. Karena saat ini rakyat membutuhkan pemberdayaan ekonomi. Dari situlah Mahasiswa bisa melakukan pengabdian kepada masyarakat,” imbuh mahahasiswa prodi Komunikasi Islam ini.

Sementara dalam beragama Raden Qosim sangat adaptif dengan kebudayaan masyarakat setempat. Sehingga, Islam bisa tersebar luas tanpa ada pertumpahan darah.

“Nilai filosofis inilah yang akan dikembangkan olek PK PMII STAI Sunan Drajat Lamongan dalam program-progam kegiatan kedepan,” tandas Sya’roni. (nang/ahay)