Daerah

Ansor Batu: Radikalisme Lebih Berbahaya dari Narkoba

Selasa, 16 Juli 2019 21:00 wib

...
Ketua PC GP Ansor Kota Batu, M Ja’far Sodik, mengisi materi paham dan bahaya paham radikalisme di hadapan siswa (santrinews.com/istimewa)

Radikalisme bukan basis paham keagamaan ansich, tapi pada konteks hubungan berbangsa dan bernegara.

Batu – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Batu, M Ja’far Sodik, mengingatkan bahwa mencegah bahaya radikalisme di kalangan anak didik tak kalah penting dalam menjaga mereka dari bahaya narkoba dan pergaulan bebas, serta kenakalan remaja lainnya.

Sebab, menurut Ja’far, yang diserang dan menjadi target sasaran paham radikalisme adalah soal ideologi, paham keagamaan, kebangsaan dan kenegaraan.

“Artinya lebih membayakan dalam tatanan pergaulan hidup berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI dan ideologi Pancasila,” kata Ja’far di hadapan siswa SMA Islam Hasyim Asy’ari dan SMK Ma’arif, Kota Batu, Selasa, 16 Juli 2019.

Baca juga: Virus Radikalisme Via Dunia Siber Sudah Membahayakan

Sebagai bentuk early warning system atau peringatan sejak dini, kedua sekolah tersebut mengundang Ja’far untuk mengisi materi paham dan gerakan radikalisme dan bahayanya terhadap NKRI dan Pancasila, dalam pelaksanaan Masa Orientasi Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Kami sangat mengapresiasi atas inisiatif dari kepala sekolah, yang hari ini meminta Ansor Batu untuk memberikan materi mengenai gerakan paham antiradikalisme (deradikalisasi),” kata Ja’far.

Ja’far berharap, kegiatan ini dapat dijadikan referensi oleh SMA lain, terutama lingkungan sekolah negeri di Kota Batu. “Tentu diharapkan seluruh sekolah lainnya di Indonesia diberikan pemahaman awal sebagai deteksi dini dan pembangunan karakter generasi penerus,” ujarnya.

Apalagi, kata Ja’far, gerakan radikalisme sudah ada indikasi menyasar di kalangan anak-anak muda jenjang SMA.

Baca juga: LBH Ansor Jatim Dampingi Perempuan Renta yang Diusir Anaknya

Sementara siswa jenjang SMA adalah masa puberitas, pertumbuhan dan awal pembangunan karakter (character building). Sehingga, kata Ja’far, paham kebangsaan dalam keberagamaan atau sebagai insan beragama, harus diperkuat dengan sikap toleran.

“Tidak permisif terhadap segala pengaruh yang akan timbul, terutama dari pihak eksternal lingkungan dan keluarga, serta harus lebih waspada terhadap bahaya narkoba dan pergaulan bebas,” tegasnya.

“Harus dipertegas lagi bahwa radikalisme bukan basis paham keagamaan ansich tetapi sudah pada konteks hubungan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya. (rus/hay)