Dirosah

Wajah Islam di Tanah Jawa (3): Agama Langit Orang Jawa

Rabu, 23 September 2020 08:00 wib

...
Ilustrasi masyarakat Jawa tempo dulu (santrinews.com/detik)

Jejak peradaban Nusantara kuno sudah terlacak bahkan sebelum Nabi Isa lahir tahun 1 Masehi. Konon dalam kitab suci agama Budha “Jataka” yang ditulis 300 tahun sebelum masehi sudah mengabarkan adanya peradaban di kepulauan Nusantara.

Dari catatan tarikh China di era kekaisaran Wang Mang juga sudah menceritakan tentang pengiriman Duta Kaisar Dinasti Han ke wilayah yang disebut “Huang-Tche” atau ditafsirkan sebagai Aceh yang merupakan bagian penting dari Daratan Sumatera.

Catatan China lainnya yang lebih menarik adalah soal utusan raja “Ye-tiao” atau yang dikenal sebagai “Jawadwipa” yang “bertamu” dan memberi hadiah kepada Kaisar China. Catatan ini bertahun 132 M.

Kabaran ini diperkuat dengan catatan dalam versi Prakrit yang mengidentifikasi “Jawadwipa” dengan istilah “Iabadiu” dan ini dikenali oleh pakar Geografi Yunani Ptelemeus dari Alexandria pada tahun 160 M (Mekke, 1961). Catatan Ptelemeus ini mungkin jadi catatan sejarah pertama tentang Indonesia yang dilakukan orang Yunani.

Dari catatan kuno itulah kita bisa mengetahui pola kehidupan bangsa “Indonesia” di masa awal kemunculannya. Paling tidak bangsa kita sudah dikenal sebagai bangsa “agraris” sekaligus “maritim”. Karakter agraris bisa kita kenali dari barang-barang yang biasa mereka perdagangkan dan atau persembahkan sebagai hadiah kepada para kaisar atau penguasa atau bangsawan di wilayah China, India, Arabia, dan Eropa.

Namun tulisan ini tidak akan membahas tentang komoditi dan jaringan perdagangan kuno Nusantara. Tetapi akan mengungkap tentang bagaimana tradisi agraris dan maritim manusia Jawa menjadi latar dari karakteristik “keagamaan atau spiritualitas” orang Jawa.

Di samping membuktikan adanya relasi “internasional” bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di belahan dunia ini. Catatan kuno itu juga mengabarkan tentang pola kehidupan orang-orang Nusantara. Salah satunya adalah bahwa bangsa Indonesia sudah “beragama” sebelum agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen, masuk ke kepulauan Nusantara.

Sarjana Barat menyebut agama “Jawa” itu sebagai “Pantheism”, atau dalam penjabaran mereka sebagai agama primitif orang Jawa. Pantheism sendiri didefinisikan oleh para ahli kebudayaan sebagai bentuk keyakinan terhadap adanya jiwa di setiap makhluk hidup (Mekke, 1961).

Meskipun saya tidak sepakat dengan sebutan agama primitif, tetapi saya setuju dengan penjelasan para ahli tentang adanya “agama Jawa” yang berpusat pada keyakinan tentang “Jiwa” yang menjadi sumber kehidupan. Bahkan “Jiwa” itu tidak hanya dimiliki oleh mahluk hidup, tetapi juga makhluk yang dianggap sebagai benda mati oleh para ilmuan barat itu (seperti batu, air, gunung dan laut).

Orang Jawa sampai sekarang ini masih kuat meyakini adanya kekuatan Adikodrati yang menjadi “jiwa” semua mahluk. Karena itulah dimanapun orang Jawa “berada” baik sementara ataupun untuk menetap selama hidupnya. Mereka selalu aktif “berkomunikasi” dengan jiwa kehidupan itu. Upacara atau ritual “spiritual keagamaan” orang Jawa begitu banyak variasi bentuk dan ekspresinya.

Kita bahkan masih bisa menjumpai ritual itu sampai sekarang ini. Mulai dari yang paling sederhana misalkan menempatkan bunga di perempatan jalan, sesajen di bawah pohon keramat, upacara di makam, sedekah bumi, nyadran sampai ritual “selamatan” yang mewakili “tahapan” kehidupan seseorang mulai sejak masa kehamilan, kelahiran sampai kematian pun tetap bisa kita jumpai dan bahkan kita lakukan hingga sekarang ini.

Akar spiritualitas Jawa inilah yang menyebabkan agama Hindu dan Budha gagal bertahan di Tanah Jawa. Sebab kedua agama besar itu “terlalu” sempit dan kaku dalam mengatur ekspresi spiritualitas orang Jawa. Sehingga ritualitas mereka terbatas hanya dilakukan di tempat-tempat khusus yang memang sengaja dibangun untuk kepentingan “beribadah” secara simbolik. Apalagi kedua agama itu kemudian berproses menjadi agama “resmi” kerajaan.

Maka semakin tidak cocok dengan spiritualitas atau cara beragama orang Jawa yang otonom. Agama orang Jawa adalah agama “Langit” sekaligus agama “Rakyat”. Agama yang tidak terlalu membutuhkan sarana tempat peribadatan yang khusus apalagi megah seperti candi-candi Hindu (shiwaism) atau Buddhis seperti Prambanan dan Borobudur (yang sebenarnya dibangun untuk kepentingan para raja).

Bagi orang Jawa semua tempat adalah suci dan dalam kendali kekuatan Adikodrati yang setiap saat bisa “dikunjungi”. Orang Jawa yang ada di pedalaman dan hidup dalam kultur agraris, akan selalu melakukan “persembahan” dengan beragam ekspresi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Jika ingin hasil panen yang baik mereka harus melakukan “persembahan” kepada “Dewi Sri” atau Dewi yang mengatur kehidupan padi (tanaman) sumber kehidupan para petani.

Jika mereka ingin terhindar dari musibah besar yang terkait dengan guncangan bumi, mereka harus melakukan pengorbanan di kawah gunung yang mereka anggap suci. Mereka yang hidup di daerah pesisir pantai dengan kultur maritim, juga melakukan persembahan dengan beragam ekspresi, salah satunya adalah dengan ritual nyadran.

Agama asli Jawa atau Nusantara tidak mengenal patung atau “berhala” yang sengaja dibuat oleh manusia. Agama Jawa lebih bersifat natural sehingga begitu terbuka dan tidak resisten terhadap hadirnya keyakinan yang datang dari luar. Karena itu pula tidak ditemukan adanya “konflik” agama yang brutal dalam catatan sejarah agama di tanah Jawa. Agama Hindu, Budha, Islam dan Nasrani, bisa masuk dan berkembang di tanah “sorgawi” ini.

Tetapi kenapa agama Islam lebih bisa bertahan dan sangat cepat berkembang di tanah Jawa? Hal itu karena prinsip ajaran Islam memiliki banyak kemiripan karakter dengan agama Jawa. Pertama, agama Islam dan agama Jawa sama-sama mewakili agama “rakyat” tidak ada previlage bagi para raja atau penguasa atau bangsawan. Semuanya sama di mata Allah Sang “Adikodrati”.

Kedua, ritual keagamaan dalam Islam sangat fleksibel. Orang Islam bisa shalat/beribadah dimanapun mau di sawah, di pinggir sungai atau di pantai sekalipun bisa mereka lakukan, selama hal itu tidak mendholimi diri sendiri, orang dan mahluk lain. Karena dalam pandangan Islam semua bumi Allah itu suci atau bisa menjadi masjid (tempat sujud). Hal ini hampir sama dengan ajaran agama Jawa yang fleksibel yang juga bisa melakukan ritual ibadah dimana saja.

Faktor berikutnya adalah soal keyakinan orang Jawa bahwa hidup itu sendiri adalah ibadah. Ajaran inie mirip dengan ajaran Islam bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Karena itulah bagi orang Jawa dan Islam, semua bentuk “tindakan/laku/amal” yang baik/sholeh/bermanfaat untuk semesta (manusia dan alam raya), adalah bagian dari ekspresi ibadah.

Selanjutnya yang paling penting lagi adalah adanya kemiripan pandangan tentang kematian, dimana dalam ajaran agama Jawa tidak ada kematian yang benar-benar sebuah kematian. Karena setiap mahluq punya jiwa yang abadi. Jiwa itu akan selalu hidup di alam “sorgawi”.

Maka dari itu menjadi sangat penting bagi orang Jawa untuk tetap bisa “berkomunikasi atau berdoa” untuk jiwa orang yang sudah wafat. Hal inilah menjadikan orang Jawa sejak dahulu memperlakukan “makam” dengan sangat spesial. Nilai ajaran ini juga ditemukan dalam keyakinan Islam dimana kematian adalah sebuah fase untuk berpindah ke alam yang lebih abadi.

Karena itulah perlu bagi keluarga yang ditinggal untuk terus “mendoakan” agar arwah mereka yang telah wafat bisa tenang. Kedua ajaran besar ini kemudian bertemu dan saling melengkapi. Keduanya bersanding harmonis tidak saling “menyelingkuhi”. Maka lahirlah tradisi atau ritual-ritual semacam selamatan dan berdo’a di kuburan pada hari atau moment-moment tertentu seperti saat menjelang ramadhan dan setelahnya.

Meskipun demikian perlu diketahui bahwa (sejak dahulu), juga (selalu) ada sekelompok kecil dari masing-masing pihak (Kaum konservatif Jawa dan Islam) yang berusaha membuka ruang konflik, walaupun belum pernah berhasil. Bahkan hingga saat ini kelompok-kelompok itu semakin “bersemangat”, karena adanya mitos kebangkitan “Majapahit” dalam narasi Sabdo Palon Noyo Genggong yang sangat mereka yakini di satu sisi. Dan sisi lain adanya keyakinan terhadap bangkitnya “Khilafah Islamiah”, yang lahir dari kesalahan memahami teks yang ada. (*)

Tawangsari 23 September 2020

Muhammad Khodafi, Dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya.