Dunia

Din Syamsuddin Serukan Perdamaian Global Lintas Agama di Al-Azhar Kairo

Jum'at, 05 Februari 2021 20:30 wib

...
Prof Din Syamsuddin (tengah) bersama Grand Al-Azhar Kairo, Mesir, Prof Dr Ahmad Muhammad Thayyib (kanan), pada akhir Januari 2020 lalu (santrinews.com/istimewa)

Jakarta – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2015-2020, Prof Din Syamsuddin menjadi salah satu pembicara dalam peringatan Hari Internasional Persaudaraan Manusia, di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir secara virtual, Rabu, 3 Februari 2021.

Dalam kesempatan itu Prof Din menyerukan perdamaian dan kemanusiaan global. Ia menyebut, organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan memiliki peran penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

“Peradaban manusia tengah menghadapi masalah yang menciptakan disrupsi besar. Maka, adalah tanggung jawab organisasi keagamaan untuk tampil sebagai penyelesai masalah,” kata Prof Din dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 5 Februari 2021.

Baca juga: Syekh Al Azhar Bersama Puluhan Ribu Muslimat NU Doakan Keselamatan Bangsa

Prof Din diundang berpartisipasi dalam forum Hari Persaudaran Internasional yang digelar secara virtual itu. Forum itu ditujukan mendudukkan ajaran dan nilai-nilai agama sebagai asas fundamental dalam kelangsungan persaudaraan manusia.

Sebagai sebuah universitas tertua di dunia, Al-Azhar juga mengedepankan prinsip atas persaudaraan manusia. Menyebarluaskan nilai dan budaya damai terhadap umat beragama juga menjadi prinsip kuat universitas di negeri seribu menara itu.

Prof Dina menegaskan, kontruksi perdamaian yang kukuh tidak hanya berasal dari landasan institusi dan mekanisme politik. Baginya, perdamaian dan kemanusian dapat juga dilandasi atas hadirnya nilai-nilai dialog masyarakat dalam menerima perbedaan.

“Lembaga agama memiliki tanggungjawab besar berkontribusi memecahkan masalah kemanusiaan. Kerja sama antar pemeluk agama menjadi penting dalam rangka menjaga perdamaian dan peradaban global,” tegasnya.

Baca juga: Ulama Al Azhar Mesir Puji Penyebarluasan Islam Moderat di Banyuwangi

Ormas keagamaan harus tampil dengan kerja sama antarumat lintas agama. Menurutnya, kemitraan antarumat beragama sedunia sangat mendesak.

“Meski agama-agama berbeda secara teologis, tetapi mereka bertemu pandangan pada titik kemanusiaan,” ujarnya.

“Agama memang dari Tuhan, tapi sejatinya untuk manusia dan kemanusiaan. Maka, tidak ada pemisahan antara persaudaraan keimanan dan persaudaraan kemanusiaan. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang.”

Ia berharap agar peringatan Hari Internasional Persaudaraan Manusia di Mesir ini tidak berhenti hanya pada seremoni dan diskusi saja. Melainkan harus berlanjut pada aksi nyata kolaborasi umat lintas agama dalam membangun koeksistensi damai dan toleransi. (red)