Fokus

Persembunyian Raja Pertama Banjar Semasa Kecil

Selasa, 07 Juni 2016 16:41 wib

...
Masjid tertua di Banjarmasin yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (santrinews.com/ist)

Tidak semua orang suka membaca buku sejarah, tapi sudah pasti semua orang menyenangi musik. Dan Kampung Belandean diabadikan dalam lagu berjudul Pangeran Suriansyah ciptaan maestro musik Banjar, Anang Ardiansyah.
—-

KETERTARIKAN menulis tentang Belandean bermula dari lagu tersebut. Lagu itu sangat populer, sering dimainkan grup-grup musik panting dalam kondangan perkawinan atau acara pemerintahan. Penggalan liriknya, “Ka Balandean wadah pambukahannya, di kampung Kuin diangkat jadi raja.”

Terjemah bebas, Belandean adalah lokasi pelarian dan persembunyian Sultan Suriansyah semasa masih bernama Raden Samudera. Nama yang ia pakai sebelum masuk Islam dan menjadi raja pertama Kesultanan Banjar pada 489 tahun silam.

Samudera disembunyikan untuk menghindari intrik istana Kerajaan Daha. Yang bisa berakibat fatal dengan pembunuhan dirinya. Diceritakan, Samudera ke Belandean saat berumur 10 tahun. Mengayuh jukung berisi perbekalan, Samudera menyamar menjadi pengail ikan. Menginjak usia dewasa, Samudera dijemput Patih Masih. Dibantu ulama Khatib Dayan dan bantuan pasukan dari Kesultanan Demak, Samudera sukses merebut hak politiknya.

Kebetulan, saya berteman dengan salah satu anak Anang, Riswan Irfani. Saya meliput Anang di Rumah Sakit Suaka Insan saat kondisi kesehatannya memburuk sampai akhirnya meninggal dunia pada awal Agustus 2015 lalu.

Pada Riswan, saya menanyakan cerita dibalik proses penulisan lirik lagu tersebut. “Abah memang suka mendengarkan kisah-kisah orang tua bahari,” ungkapnya. Lagu itu tak hanya enak didengar, tapi juga memuat episode-episode sejarah yang menentukan wajah Kalimantan Selatan hari ini.

Kami menuju Belandean awal Juni kemarin. Belandean berada di Jalan Trans Kalimantan kilometer 15, Kecamatan Alalak, sebelum Jembatan Barito. Untuk mencapai desa ini harus menempuh jalan selebar tiga meter kurang lebih sejauh 10 kilometer. Setengahnya sudah diaspal mulus, sisanya jalan pasir berbatu. Waktu tempuh dari Banjarmasin hampir satu jam.

Pemukiman warga dibelah Sungai Pitung. Sungai itu masih aktif untuk transportasi, jukung dan kelotok kecil lalu-lalang. Muaranya berada di Sungai Barito. Mata pencaharian warga desa, 90 persen adalah pertanian, sisanya nelayan.

Secara administrasi, Belandean kini dibagi dua menjadi Desa Belandean Dalam dan Desa Belandean Muara. Berkat pertolongan Kepala Desa Belandean Dalam, Anang L, kami bisa menemukan lokasi pembuangan Sultan Suriansyah. “Lokasinya di Belandean Muara, Mas. Dari desa saya terus lagi, lurus saja,” ujarnya.

Di poskamling Belandean Muara, kami disapa Supian, 40 tahun. Heran juga, ia langsung mengenali kami sebagai wartawan. Dari ceritanya, lokasi yang kami tuju ternyata tidak punya akses darat. Jalan desa putus tak jauh dari poskamling tersebut.

Supian dengan senang hati mengantar kami dengan perahu bermotor. Ia rupanya sudah berpengalaman mengantar peziarah. Tapi jangan dikira Belandean seperti objek wisata religi lain yang punya banyak pengunjung. “Sampeyan berdua wartawan pertama yang datang kemari,” ujarnya.

Perjalanan berperahu itu ditempuh selama 10 menit. Lebar sungai berkisar antara 10 sampai 15 meter. Kanan dan kirinya hutan lebat. “Jika beruntung, kita bisa ketemu buaya di sini,” ujarnya tersenyum. Syukurlah, harapan Supian tidak terwujud.

Dari cerita turun-temurun leluhur desa, Raden Samudera diyakini bersembunyi di muara desa. Lokasi itu kini menjadi pekuburan keramat. Setiap tiga bulan sekali, warga desa gotong-royong membersihkan pemakaman itu dari belukar. “Abah asli Belandean, ibu saya asli Pagatan. Pekerjaan saya tani,” ujarnya.

Tiba di lokasi, ada dua kubah kecil, tersembunyi dibalik hutan dan persawahan. Sebelum turun dari perahu, Supian menegur kami. Ia meminta kami meluruskan niat, memohon permisi dan menjaga perilaku.

“Sebab, boleh percaya atau tidak, sudah banyak peziarah yang coba memotretnya. Tapi anehnya, sepulang dari makam fotonya sudah terhapus,” kisahnya. Wahyu yang sudah siap dengan kamera tampak bergidik. Alhamdulillah, foto dan video yang kami dapat di Belandean masih utuh untuk diterbitkan.

Di kubah utama, dimakamkan Jaya Arya. Seperti kebanyakan makam tua, nisan kuburan itu tanpa nama dan angka tahun, hanya batu besar. Lantas, siapa Jaya Arya? “Dari cerita orang tua, beliau masih kerabat Raden Samudera,” kata Supian.

Kondisi kubah memprihatinkan. Dermaganya sudah goyang, diinjak berderik, banyak kayu ulinnya sudah copot. Jika tak ekstra hati-hati, peziarah bisa tercebur ke sungai. “Mudahan setelah diliput ada perhatian pemerintah,” harap Supian.

Sepulang dari makam, di rumah Supian kami dipertemukan dengan ayahnya. Atuy, 70 tahun, asli orang Belandean. “Nama asli kampung ini sebenarnya Landean. Tapi mungkin karena lebih mudah diucapkan Belandean, lalu berubah,” ujarnya. Sayang, Atuy juga tak bisa bercerita banyak tentang sosok Jaya.

Kami lantas memberanikan diri menanyakan hal sensitif. Sebelum ke Belandean, tak satu-dua kali kami diperingati bahwa kampung ini punya reputasi seram. Atuy tak membantah prasangka tersebut. “Karena tersembunyi, dulu perampok senang bersembunyi kemari. Tapi saya jamin, penjahat-penjahat itu bukan orang sini,” tegasnya.

Memang benar, Anang, Supian dan Atuy adalah orang-orang ramah dan terbuka. Dan sebagai orang Belandean, mereka menyimpan kebanggaan sejarah. “Bangga! Walaupun dari zaman Soekarno sampai Jokowi tidak pernah diberi aspal, kampung kami lebih tua dari Kampung Kuin,” kata Atuy. (shir)

Sumber: Radar Banjarmasin