Fokus

Pesantren Autis di Kudus Diminati Warga Asing

Minggu, 19 Juni 2016 19:49 wib

...
Pendiri Pondok Pesantren Al Achsaniyyah, M Faiq Afthoni Rachman tengah berbincang dengan santri yang merupakan anak berkebutuhan khusus (santrinews.com/suaramerdeka)

Kudus – Pondok Pesantren Al Achsaniyyah di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang khusus untuk memberikan terapi terhadap anak penyandang autis agar normal kembali mulai diminati warga asing.

Menurut Pendiri Pondok Pesantren Al Achsaniyyah Muhammad Faiq Afroni, warga asing yang berminat memasukkan penyandang autis, di antaranya dari Irak dan Malaysia.

Jumlah penyandang autis yang hendak didaftarkan ke Ponpes Al Achsaniyyah, kata dia, dari Irak sebanyak lima orang.

Karena belum memiliki sumber daya manusia (SDM) yang menguasai bahasa asing, kata dia, untuk sementara belum bisa diterima.

“Jika sudah memiliki SDM yang menguasai bahasa asing, salah satunya bahasa Arab tentu warga Irak yang hendak mondok di Ponpes Al Achsaniyyah akan diterima,” ujarnya, di Kudus, Ahad, 19 Juni 2016.

Ketertarikan warga asing untuk memondokkan penyandang autis di Ponpes Al Achsaniyyah Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus itu, kata dia, salah satunya karena selain diberikan terapi untuk penyembuhan para penyandang autis juga dibekali ilmu agama seperti layaknya di pondok pesantren pada umumnya.

Adapun jumlah santri sebanyak 75 orang yang paling muda usia empat tahun dan paling tua usia 41 tahun.

Sementara tenaga pengajarnya, kata dia, berjumlah 50 orang yang dibagi menjadi tiga shift, yakni mulai dari pagi, siang dan sore hari.

Untuk mengajarkan anak berkebutuhan khusus, katanya, tidak mudah dan dibutuhkan kesabaran karena anak sering marah dan mengamuk tanpa sebab.

Bahkan, kata dia, sejumlah guru sudah sering mengalami pemukulan dan cakaran dari para santri yang merupakan penyandang autis.

Dalam memulihkan penyandang autis, kata dia, dibutuhkan kerja sama dengan orang tua, karena ada sejumlah makanan yang harus dihindari oleh penyandang autis.

Pasalnya, kata dia, pengalaman sebelumnya setiap santri yang pulang ke rumah, sering melanggar larangan tersebut.

“Sepanjang orang tua mau memercayai kami dan tidak menuntut banyak hal, maka upaya pemulihan akan dilakukan secara maksimal,” ujarnya.

Setiap penyandang autis, kata dia, memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga penanganannya juga tidak sama.

Beberapa penyandang autis, kata dia, ada yang pulih dalam waktu tidak lama, namun ada pula yang harus menjalani terapi selama beberapa tahun.

Penyandang autis yang sudah pulih, kata dia, tidak hanya dibekali dengan ilmu agama, melainkan dibekali pula dengan sejumlah keterampilan, seperti desain grafis dan keahlian di bidang komputer.

Setidaknya, santri yang keluar dari pondok pesantren memiliki kemampuan untuk mencari nafkah sendiri.

Dalam setahun, biasanya pondok pesantren tersebut memulangkan hingga lima santri yang telah sembuh dan bisa beraktivitas secara normal layaknya orang pada umumnya.

Rencananya, Ponpes Al Achsaniyyah juga akan membuat fasilitas tambahan untuk membekali kehalian kerja para penyandang autis yang sudah pulih.

Beberapa santri yang pulih dari penyakit autis, juga ada yang melanjutkan pendidikan di sekolah umum.

Salah seorang santri, Budi Purnomo asal Jakarta mengakui, dirinya sudah dua tahun berada di pondok khusus autis tersebut.

Selain rutin mengaji, dirinya juga rajin berolahraga, salah satunya berenang.

Khusus bulan ramadhan seperti sekarang, katanya, rutin salat tarawih serta tadarus Alquran. (shir/ant)