Nasional

Survei: Mayoritas Umat Beragama Siap Divaksin

Rabu, 13 Januari 2021 22:30 wib

...
Presiden Joko Widodo disuntik vaksin

Jakarta – Vaksinisasi Covid-19 mendapat respons beragam dari masyarakat Indonesia. Mayoritas umat beragama mengaku siap divaksin. Namun, tidak sedikit pula yang menolak atau ragu-ragu.

Demikian hasil penelitian terbaru yang dilakukan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag).

“Responden umumnya 54,37 persen siap divaksin Covid-19, di tengah pandemi yang kian mengkhawatirkan ini,” kata Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag, Prof Ahmad Gunaryo dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 13 Januari 2021.

Prof Ahmad Gunaryo menjelaskan, survei dilakukan secara daring pada 22-30 Desember 2020 dengan mengumpulkan 2.610 pendapat responden dari 34 provinsi. Survei ini dilakukan untuk mengetahui sikap dan tindakan umat beragama terkait Covid-19, vaksin dan vaksinasi.

Dengan accidental sampling yang non-probabilitas, survei ini tetap dapat memenuhi tingkat sebaran yang sebangun dengan komposisi jumlah penduduk dan pemelukan agama di Indonesia. Lebih jauh, menurut dia, ada penguatan informasi kualitatif juga dengan mewawancara 30 tokoh pemuka agama di 10 lokasi.

Berdasar hasil survei, yang menolak sebanyak 9,39 persen, dan memilih belum memutuskan 36,25 persen. Alasan mereka cukup beragam. Misalnya, responden yang belum memutuskan beralasan masih akan menunggu dan melihat, sambil mencari tahu detail vaksin dan vaksinasi yang dilakukan pemerintah.

“Yang menolak, utamanya ragu atas keamanan vaksin. Sedangkan yang beralasan agama hanya 9,27 persen,” kata Prof Gunaryo.

Perlu Peran Tokoh Agama
Survei ini juga merekomendasikan penguatan edukasi publik terkait vaksin dan vaksinasi. Selain penjelasan medis yang transparan oleh dokter, menurut Prof Gunaryo, edukasi dalam hal keagamaan juga perlu diintensifkan terutama oleh pemuka agama.

Ia mengatakan, peran pemuka agama dan ormas keagamaan sangat strategis karena mereka sumber informasi paling dipercaya publik. Karena itu, menurut dia, untuk meningkatkan penerimaan masyarakat akan vaksinasi Covid-19 ada beberapa hal layak dipertimbangkan.

Pertama, perkembangan aktual dan faktual pandemi Covid-19 perlu diinformasikan ke publik secara proporsional. Karena, semakin tahu kondisi dan merasa khawatir dengan kondisi pandemi, maka masyaraakt akan semakin menerima vaksinasi Covid-19.

Kedua, pemerintah juga perlu menjaga kepercayaan publik. Ketiga, masyarakat juga perlu didorong untuk terus menaati protokol kesehatan (3M). “Responden yang merasa menaati 3M cenderung siap ikut vaksinasi,” ujarnya.

Ketiga, tambah dia, juga perlu transparansi, sosialisasi, dan penjelasan yang lebih lengkap terkait vaksinasi Covid-19 tersebut. Karena, hal ini menjadi pangkal dari ketidaksiapan dan keraguan masyarakat. Sedangkan kejelasan akan memicu kesiapan dari masyarakat. (red)