Nasional

KH Ahmad Bagja, Sekjen PBNU Era Gus Dur Wafat

Kamis, 06 Februari 2020 01:40 wib

...

JakartaInnalillahi wa inna ilaihi rajiun. Keluarga besar Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia kembali berduka. Salah seorang tokoh NU, KH Ahmad Bagja, wafat pada Kamis, 6 Februari 2020, dini hari pukul 01.09 WIB.

Almarhum KH Ahmad Bagja meninggal di RS Jakarta Medical Center (JMC). Lahir di Kuningan, Jawa Barat pada 1945, almarhum tercatat sebagai Ketua Umum PMII periode 1977-1981.

Selain itu ia juga pernah menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa IKIP Jakarta, Ketua Badan Koordinasi Senat-senat Mahasiswa IKIP se-Indonesia (1970), dan Sekjen PBNU pada periode kedua kepengurusan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 1989-1994.

Almarhum KH Ahmad Bagja dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang ingin agar NU tetap maju. Dalam catatan NU Online, ia dalam beberapa kesempatan mengatakan bahwa pengurus dan warga NU harus mempunya impian besar.

“Dengan impian yang besar, masalah-masalah yang dihadapi akan terlihat kecil. Sebaliknya, jika memiliki impian kecil, masalah kecil pun akan terlihat besar,” kata KH Ahmad Bagja.

Menurutnya, bila menginginkan NU menjadi besar, jangan memikirkan sisi kurang baik dari NU, tetapi pikirkankanlah kebaikan yang ada pada NU.

“Harus kita syukuri juga kita menjadi orang NU. Kita harus memikirkan bagaimana menjadi orang NU yang baik dan berupaya menjadikan NU lebih baik lagi,” katanya.

Ia mendorong generasi muda untuk menjadikan IPNU, IPPNU, PMII, GP Ansor sebagai proses untuk mendidik diri. Demikian juga dengan menjadi anggota dan pengurus NU dijadikan proses mendidik diri masing-masing.

“Kaderisasi itu adalah seluruh proses kita dalam berorganisasi di mana pun kita berada. Totalitas kita di situ itulah kaderisasi yang sebenarnya. Itu diwujudkan ketika misalnya menjadi panitia kita menjadi yang terbaik, mencapai yang terbaik,” terangnya.

Ia meyakini kebaikan-kebaikan semacam itu memudahkan hidup. Energi kebaikan menjadi modal besar dan sekaligus sebagai kekuatan.

“Kalau kita berpikir kita ini biasa saja, seribu kali kita mendengar nasihat atau dorongan orang untuk maju, kita akan biasa-biasa saja. Yang membuat kita luar biasa adalah diri kita sendiri,” tuturnya. (nuo/red)