Opini

Ilmu Kasyaf Gus Dur Membelah Langit Padang Arafah

Selasa, 11 Desember 2018 11:54 wib

...
Gus Dur bersama Gus Maksum (santrinews.com/ist)

Istilah ilmu kasyaf itu sangat familiar bagi masyarakat santri pengamal dan pengkaji ilmu tasawuf. Kasyaf atau mukasyafah secara gampang bisa diartikan dengan tersingkapnya tabir yang menutupi hal-hal ghaib pada seseorang karena tingginya derajat spiritualitasnya sehingga orang tersebut bisa melihat hal-hal ghaib yang bagi orang pada umumnya tidak tampak atau tertutupi.

Nah, suatu ketika di tahun 1993 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berangkat haji dengan “bolo-bolo plek”-nya alias teman-teman akrabnya. Ada abah saya, abah Amanulloh Tambakberas, ada Kiai Muadz dan Kiai Nukman Thohir Kajen Pati, ada H Masnuh Waru Sidoarjo, dan beberapa orang lainnya.

Keberangkatan haji rombongan ini sangat istimewa karena membawa misi khusus dari sesepuh-sesepuh NU untuk wiridan menjelang Muktamar NU di Cipasung yang fenomenal itu.

Baca: Gus Dur dan Kisah Mahasiswa Nakal

Di tengah-tengah suasana wukuf di Padang Arafah, tiba-tiba Gus Dur mengajak H. Masnuh untuk keluar dari tenda dan menggelar sajadah di samping tenda. Mereka berdua berdzikir dan berdoa di luar tenda tanpa atap yang menghalangi panasnya matahari di Arafah.

Tiba-tiba Gus Dur berbisik kepada H. Masnuh: “Ji, lihatkan langit ya. Kalau langitnya terbelah segera beritahu saya dan kita langsung berdoa. Sampeyan baca doa sapu jagat aja sampai langit itu menutup kembali.”

Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba H. Masnuh tergopoh-gopoh dan bilang kepada Gus Dur: “Gus.. Gus… Langitnya sudah membelah.” Dan Gus Dur segera merapal doa-doa. Begitu juga H. Masnuh membaca doa yang diperintah Gus Dur untuk membacanya, sampai langit tertutup kembali.

Setelah langit menutup kembali, Gus Dur segera mengajak H. Masnuh untuk kembali masuk tenda. Gus Dur bilang: “Ji, ayo kembali dan kita tidur aja di dalam tenda”. Kemudian H. Masnuh menjawab: “Lho Gus… Ini waktu wukuf masih lama, kenapa kok tidur?”. “Gak papa, biarkan mereka terus berdzikir dan berdoa. Saya mau tidur saja. Karena langit sudah tutup,” jawab Gus Dur sambil terkekeh khas beliau.

Baca juga: Gus Dur Perekat Keberagaman Indonesia

Itulah tanda kasyafnya Gus Dur, hamba Allah istimewa yang bisa diberi kemampuan melihat tanda-tanda alam yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa.

Dan pada tahun 2015, setelah 20 tahun lebih peristiwa itu terjadi, air mata H. Masnuh masih saja menetes deras ketika menceritakan hal itu pada saya. Beliau masih hidup dan cerita ini bisa dicrosscek ke beliau.

Ila hadhroti ruhi Gus Dur, Alfatehah. (*)

_____
Bagi sahabat-sahabat penulis yang ingin berkontribusi karya tulis baik berupa opini, esai, resensi buku, puisi, cerpen, serta profil tokoh, lembaga pesantren dan madrasah, dapat dikirim langsung via email ke: redaksi@santrinews.com. Terima kasih.