Politik

Jadi Alat Kampanye, NU Jateng: Gus Dur Milik Semua Umat

Rabu, 02 Juli 2014 18:34 wib

...
Baliho kampanye yang mencatut foto Gus Dur (dok/santrinews.com)

Semarang – Pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Tengah mengaku risih dengan diseret-seretnya nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai alat kampanye calon presiden nomor urut satu, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

“Kami menjadi risih karena sebenarnya Gus Dur itu milik semua umat, tapi malah disandera untuk alat kampanye kelompok tertentu,” kata Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Tedi Kholiluddin, Selasa, 1 Juli 2014.

Tedi seperti dilansir Tempo, menegaskan, kiprah Gus Dur selama menjadi Ketua Umum PBNU ataupun Presiden RI sangat besar. Gus Dur pun sudah menjadi milik bangsa, tidak hanya milik NU atau kelompok politik tertentu.

Tedi khawatir pemanfaatan nama Gus Dur untuk kampanye capres Prabowo-Hatta justru akan membuat fragmentasi konflik antarkelompok semakin kuat. Tedi mengakui, secara hukum, mungkin tidak ada yang dilanggar saat tim pemenangan Prabowo-Hatta menggunakan Gus Dur sebagai alat kampanye. “Tapi, dalam politik juga ada etika,” kata Tedi.

Aktivis muda NU ini menilai, digunakannya nama Gus Dur oleh capres dalam kampanye merupakan pertanda mereka masih kurang percaya diri untuk bisa menang. Secara institusi, NU bersikap netral dalam pilpres. NU menganjurkan agar warganya menggunakan hak pilih dengan memilih capres yang paling kecil tingkat keburukannya.

Pihak tim pemenangan Prabowo-Hatta Jawa Tengah, Iqbal Wibisono, menyatakan apa yang disampaikan Gus Dur untuk kampanye Prabowo adalah fakta.

“Tidak ada kebohongan. Enggak dibuat-buat. Gus Dur memang menyatakan Prabowo adalah orang paling ikhlas,” kata Iqbal.

Sekretaris Partai Golkar Jawa Tengah ini memahami keluarga Gus Dur tidak ingin nama besar Gus Dur menjadi polemik dalam kampanye. Tapi, Iqbal menduga keluarga Gus Dur khawatir karena ada yang mengusik mereka. “Ada orang-orang yang takut Prabowo menang,” kata Iqbal. (ful/ahay)