Politik

Berpeluang di Pilbup Sumenep, Fattah Jasin Tinggal Menambah Koneksi dengan Pesantren

Sabtu, 26 Oktober 2019 22:30 wib

...
H Fattah Jasin saat mendampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, meninjau Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, pada Selasa, 26 Maret 2019 lalu (santrinews.com/hady)

Sumenep – Nama Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jawa Timur H Raden Bagus Fattah Jasin melesat di bursa Pemilihan Bupati Sumenep 2020. Bahkan, ia dinilai punya kans cukup kuat.

“Pak Fattah (Jasin) sebagai putra daerah (kelahiran asli Sumenep) yang punya pengalaman sebagai birokrat punya peluang,” kata Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam, saat dikonfirmasi, Jumat, 25 Oktober 2019.

Baca juga: Hawa Politik Kiai Pamekasan Versus Bangkalan

Nama Fattah Jasin muncul dalam bursa Pilbup Sumenep bersama 14 figur lainnya yang dirilis Santri Politika, sebuah Lembaga Kajian dan Riset, pada pertengahan Juli 2019 lalu.

Lahir di Sumenep, 25 April 1962, Fattah Jasin lebih 31 tahun berkarir sebagai birokrat. Berbagai posisi strategis di lingkungan Pemprov Jawa Timur pernah dia duduki. Diantaranya Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bapepda), dan Kepala Biro Perekonomian Pemrov Jatim.

Sebelum menjabat Kepala Dishub Jatim, Fattah Jasin ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sebagai Pejabat Bupati Pamekasan pada 2018. Ia adalah cucu dari Bupati Pamekasan periode 1942-1950, Zainal Fattah.

Menurut Surokim, Fattah Jasin memiliki peluang besar meraih kursi Bupati Sumenep pasca kepemimpinan KH A Busyro Karim –Bupati Sumenep dua periode 2010-2020. Selain putra daerah, ia berpengalaman panjang di birokrasi pemerintahan.

“Basis pemilih hijau dengan patron utama kiai dan birokrat masih menjadi kekuatan utama di Sumenep,” kata Surokim.

Baca juga: PBNU: NU Madura Penentu Perubahan Indonesia

Karena itu, menurut Surokim, tantangan utama Fattah Jasin adalah harus mendapat dukungan dari kiai dan pesantren sebagai basis utama pemilih tradisional di Sumenep. Sebab, lanjut dia, calon yang punya koneksi dengan patron tokoh utama tersebut yang punya peluang lebih besar terpilih dalam Pilbub Sumenep.

“Pak Fattah punya peluang, tinggal bagaimana menambah koneksi dengan para kiai sebagai patron utama tadi bisa dilakukan,” tegasnya.

“Sebagaimana dalam keyakinan masyarakat Madura, bahwa kiai, birokrat dan guru masih menjadi patron utama untuk meraih kepercayaan masyarakat,” sambung Dekan FISIP (UTM) tersebut.

Sumenep satu-satunya kabupaten —dari empat kabupaten— di Madura yang bakal melangsungkan Pilkada Serentak 2020 mendatang.

Surokim menambahkan, geopolitik dan kultur perilaku warga di Sumenep dalam menentukan pilihan politiknya masih dominan bergantung pada patron atau ketokohan.

Ia tak menafikan bahwa berdasarkan pengalaman dari pemilu ke pemilu memang ada perubahan preferensi politik — secara khusus— masyarakat di Madura. “Tetapi saya memprediksi ketokohan masih menjadi faktor yang menentukan,” tandasnya.

Baca juga: Aktivis Muda NU Sayangkan Sikap Politik Kiai Madura

Apalagi, lanjut Surokim, ada gairah di daerah-daerah di Madura yang ingin segera mengejar ketertinggalan pembangunan dari daerah lain. “Menginginkan pemimpin yang progresif dari kalangan birokrat dan pesantren,” tegasnya.

Fattah Jasin –bila tidak ada badai politik— hampir pasti akan diusung oleh PKB –partai pemenang di Sumenep dengan 10 kursi. Meski DPC PKB Sumenep mengklaim mengusulkan 9 nama ke DPP PKB, namun nama Fattah yang jadi prioritas utama.

Komunikasi antara Fattah dan beberapa elit PKB juga terbangun cukup intens. Bahkan beberapa waktu lalu, dengan diantar segelintir elit PKB Sumenep –minus Ketua Dewan Syuro DPC PKB Sumenep KH A Busyro Karim— Fattah melakukan pertemuan dengan Ketua Umum DPP PKB H A Muhaimin Iskandar.

Menurut Ketua DPC PKB Sumenep KH Imam Hasyim, meski bukan dari kalangan pesantren atau kiai, figur Fattah Jasin sangat berpeluang maju sebagai bakal calon bupati Sumenep dari PKB.

Kiai Imam memastikan, calon yang akan diusung PKB nanti tidak harus dari kalangan kiai. “Walaupun bukan seorang kiai, tapi memiliki kepedulian terhadap ulama dan bisa membawa Sumenep lebih baik, kenapa tidak,” kata Kiai Imam beberapa hari lalu.

Hasil Survei Santri Politika
Pada pertengahan Juli 2019 lalu, Santri Politika, merilis hasil surveinya. Hasilnya ada 14 nama calon potensial pada Pilkada Sumenep 2020.

Nama-nama tersebut adalah Achmad Fauzi, KH Amiruddin Nahrawi, Achsanul Qosasi, Nyai Hj Dewi Khalifah, Fattah Jasin, Nyai Hj Nurfitriana Busyro Karim, KH Imam Hasyim, KH Ilyasi Siraj, KH Moh Unais Ali Hisyam, Malik Effendi, KH Muhammad Shalahuddin (Gus Mamak), Novi Sujatmiko, dan KH A Pandji Taufiq, dan Imam Idafi.

“Nama-nama ini sama-sama punya potensi dan kans kuat,” kata Peneliti Santri Politika, Moh Ridwan, Selasa, 16 Juli 2019.

Mereka berasal dari latarbelakang yang beragam, mulai dari politisi, pengusaha, birokrat, dan tokoh agama. Penyebutan nama-nama tersebut sesuai urutan abjad, bukan popularitas. (hay)