Syariah

Ulama-Ulama Salaf yang Ahli Main Catur

Sabtu, 23 November 2019 07:00 wib

...

Di kalangan santri, khilafiyah tentang hukum bermain catur sebenarnya sudah cukup populer. Dalam Mazhab Syafi’i, hukumnya makruh. Ada juga yang mengatakannya mubah. Sedangkan menurut mazhab yang lain hukumnya haram.

Adz-Dzahabi menyebutkan, bahwa An-Nawawi pernah ditanya tentang permainan catur, haram ataukah boleh? Beliau menjawab:

إن فوت به صلاة عن وقتها أو لعب بها على عوض فهو حرام وإلا فمكروه عند الشافعي وحرام عند غيره.

“Jika itu menyebabkan orang ketinggalan shalat dari waktunya, atau bermain dengan taruhan maka itu haram. Jika tidak, hukumnya makruh menurut Imam Syafi’i, dan haram menurut ulama lainnya.” (al-Kabair, 90).

Dalam kitab Sunan Kubra halaman 357, jilid 10, bab ikhtilaf (perbedaan pendapat ulama) tentang hukum main catur, Imam Baihaqi meriwayatkan beberapa ulama besar dari kalangan salaf yang mahir bermain catur.

Bahkan ada yang sangat mahir, sampai bisa memainkannya tanpa melihatnya. Ia menyebut beberapa diantara nama ulama beken seperti Imam Sya’bi, Sa’id Bin Jubair, Ibnu Sirin, Hisyam Bin ‘Urwah dan Bahaz Al-Qusyairi.

1. Imam Sya’bi adalah ulama besar yang lahir pada 21 H dan wafat pada 103 H di Kuffah. Beliau adalah guru dari Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi. Melihat dari tahun kelahirannya tidak diragukan lagi bahwa beliau pernah belajar dari banyak sahabat, mulai sahabat yang junior sampai sahabat yang sangat senior.

Ibnu Sirin memberikan kesaksian tentang sosok beliau sebagai berikut:

قدمت الكوفة وللشعبي حلقة عظيمة والصحابة يومئذ كثير.

“Suatu waktu aku mendatangi kota Kuffah (salah satu pusat ilmu pengetahuan seluruh dunia waktu itu), aku melihat bahwa Imam Sya’bi memiliki majelis ta’lim yang dihadiri banyak sekali ulama. Padahal sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad SAW pada saat itu masih banyak.

Salah satu kalam hikmah dari beliau adalah:

لو أصبتَ تسعةً وتسعين، وأخطأتَ واحدة لأخذوا الواحدة وتركوا التسعة والتسعين

“Jika engkau melakukan kebenaran 99 kali, dan salah satu kali, maka manusia malah peduli dengan satu kesalahan tersebut dan acuh dengan 99 kebenaran.”

2. Sa’id Bin Jubair salah seorang Tabi’in yang wafat pada 95 H di Kuffah. Beliau ulama besar dalam ilmu fikih, hadis dan tafsir. Saat ditanyai tentang masalah fikih oleh penduduk Kuffah, Ibnu Abbas yang merupakan sahabat Rasulullah SAW menjawab: Bukankah ada diantara kalian Sa’id Bin Jubair. Beliau berguru dengan begitu banyak sahabat Rasulullah SAW.

3. Muhammad Bin Sirin adalah ulama besar dari kalangan tabi’in. Beliau merupakan murid Abu Hurairah, Abdullah Bin Zubair, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar, serta beliau belajar kepada 30 orang sahabat Rasulullah SAW. Beliau adalah ulama yang pakar dalam berbagai disiplin ilmu; fikih, tafsir dan hadis, serta juga pakar dalam menafsirkan mimpi. Tidak ada yg meragukan kealiman dan ketaatan beliau. Ibnu Awanah pernah menceritakan bahwa saat Ibnu Sirin di pasar, orang-orang tidak melihatnya melainkan sedang zikir. Ibnu Sirin wafat di usia 76 tahun di Baghdad pada 110 H.

4. Hisyam Bin ‘Urwah Bin Zubair Bin Awam lahir pada 61 H di Madinah Munawarah dan wafat ada 146 H di Baghdad. Ulama salaf (tabi’in) satu ini sangat ahli dalam ilmu fikih dan hadis. Salah satu murid beliau yang populer adalah Ibnu Mubarak, Syu’bah, Malik bin Anas, dan Sufyan Ats-Tsauri.

5. Bahaz Bin Hakim (tabi’in) Bin Mu’awiyah (sahabat Rasulullah) Al-Qusyairi adalah ulama hadis terkemuka di Basharah. Beliau adalah guru dari Imam Zuhri, Sufyan Tsauri dan Ibnu ‘Aun. (*)