Banser yang Ahli Kitab Kuning

Salah satu dari puluhan kitab kuning penilanggalan Banser di Masjid Manarul Islam, Pucang Surabaya (santrinews.com/istimewa)

Dulu saat Abah saya wafat, saya selalu teringat beliau dan hendak menangis terus. Tapi jika membuka kitab kuning maka hilang ingatan itu.

Saat inipun ketika hati mengalami “kegalauan memuncak” ternyata yang menjadi obatnya adalah kitab berbahasa Arab klasik ini. Kebetulan saat ini adalah kitab koleksinya Mas Banser –namanya Abdul Hamid— yang saya dapatkan dua hari lalu.

Baca: Kitab-kitab Klasik Peninggalan Banser NU

Saya mengira Mas Banser ini cuma kolektor kitab. Sama seperti orang-orang yang hobi mengumpulkan keris, akik, benda bersejarah dan sebagainya. Ternyata dugaan saya salah. Kitab sebanyak itu rupanya sudah ditelaah. Entah perbab, perkitab atau dibaca keseluruhan. Saya tidak tahu.

Awalnya saya temukan kitab-kitab hadis yang ada tanda “slempitan” kecil diujung bawah, pertanda orangnya baru baca sampai di halaman itu. Namun di beberapa kitab yang lain ada tanda kertas putih.

Setelah saya cek ternyata isinya adalah penjelasan penting. Seperti dalam kitab At-Targhib kumpulan hadis tematik karya Al-Hafidz Al-Mundziri ini, Mas Banser menandai halaman tentang dikabulkan doa dari orang-orang yang teraniaya.

Saya cek kitab lain yang ada tanda-tanda kertas putih. Misalnya di dalam kitab Hasyiyah Qalyubi. Di Bab Waqaf beliau memberi tanda dan menulis “Tidak boleh Merubah Waqaf”. Saya lihat teks Arabnya memang demikian. Dan redaksi inilah yang dipakai dalam hampir setiap Bahtsul Masail bahwa status waqaf tidak boleh diganti dalam Madzhab Syafi’iyah. Misalnya waqaf masjid diganti menjadi waqaf Pondok, waqaf kuburan menjadi asrama pesantren dan sebagainya.

Tidak cukup disitu. Di sebuah kitab yang paling panjang, Al-Hawi Kabir Imam Mawardi, Mas Banser ini menandai halaman dengan kertas putih lalu ditulis pakai Bahasa Arab tentang bolehnya Qurban menggunakan hewan Betina.

Ternyata Mas Banser ini bisa juga andaikan direkrut menjadi pengurus Bahtsul Masail. Telaten telaah kitab, tekun mencatat dan ‘menengeri’ (apa ya Bahasa Indonesia-nya).

Ternyata betul jika Mas Banser ini adalah orang khumul dan mastur (tidak tampak sebagai orang yang hebat). Sementara seperti saya ini sok merasa hebat.

Catatan:
Belakangan diketahui, Abdul Hamid ini juga wakil sektretaris LBM NU Kota Surabaya. Beliau wafat pada 19 Desember 2019. Almarhum asli Modung, Bangkalan. (*)

Ustaz Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.

Terkait

Hikmah Lainnya

SantriNews Network