Kehidupan Penulis Kitab Safinah: Dari Hadramaut ke Tanah Abang Batavia (1)

Suasana ngaji kitab kuning di pesantren. (santrinews.com/thi)

Sangat disayangkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun tidak mengetahui penulisnya. Terasa ada yang kurang, dan bisa jadi berkah ilmu akan berkurang. Sebaliknya, mengenali muallif akan menjalin hubungan batin, sehingga cahaya ilmu yang tertransfer mampu menerangi relung hati pembaca.

Dalam konteks sekarang, kita telah menyaksikan betapa manfaatnya kitab Safinah. Tidakkah terbesik dalam hati kita siapa muallif atau pengarang kitab tersebut?

Rahasia di balik kedahsyatan Safinah tentu, antara lain, terletak pada sosok penulisnya. Beliau adalah Syekh Salim bin Abdillah bin Sumair. Seorang maha guru yang tidak hanya berkutat dalam dunia pendidikan, tapi juga seorang qadli’ nan ahli politik, penasihat sultan, sekaligus memiliki keahlian dalam bidang militer.

Sang Mu’allim
Syekh Salim dilahirkan di desa Dzi Ashbuh, sebuah wilayah yang berada dalam lembah Hadramaut dan di bawah kekuasaan Kerajaan al-Katsiry (781-1387 H/1379-1967 M). Bin Sumair, yang sekarang di Indonesia (seperti di Solo) lebih dikenal dengan Bin Semir, merupakan keluarga yang melahirkan banyak tokoh ulama besar, panutan masyarakat sekitar Hadramaut, tak terkecuali ayah Syekh Salim.

Dengan bimbingan sang ayah, beliau telah menguasai al-Quran di usianya yang masih belia. Selanjutnya dipercaya sebagai pengajar al-Quran, hingga diberi titel “mu’allim”, sebuah gelar kehormatan di wilayah Hadramaut untuk seorang yang tekun mengajarkan al-Quran. Dalam pengamatan Sayyid Umar bin Hamid Al-Jaylani hafidzahullah, gelar “mu’allim” ini terinspirasi dari sebuah hadits riwayat sahabat “˜Utsman bin “˜Affan RA; “Sebaik-baik kalian adalah siapa yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari, no. 5027).

Meski telah menjadi “guru ngaji”, api semangat belajar Syekh Salim tidak pernah padam. Kepada sang ayah dan beberapa ulama besar Hadramaut abad 13 H, beliau menimba berbagai ilmu syariat. Berkat kesungguhan, kecerdasan, dan tekun, Syekh Salim mendapat kepercayaan untuk ikut mengajarkan berbagai ilmu bersama para gurunya.

Dalam waktu yang tidak lama, namanya terkenal bagai mentari hingga mendapat pujian yang membanggakan dari kalangan guru beliau sendiri, seperti Syekh al-“˜Allamah Abdullah bin Ahmad Basaudan (1178-1266 H). (*)

Terkait

Tarikh Lainnya

SantriNews Network