Baliho Diturunkan, Santri Darussalam Desak Bupati Minta Maaf

Ratusan santri dan alumni Pondok Pesantren Darussalam berunjukrasa di depan Kantor Bupati Banjar (banjarmasinpost/santrinews.com)

Banjar – Ratusan santri Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, Kalimantan Selatan, menggelar demo terkait penurunan baliho berisi gambar pimpinan pondok pesantren oleh anggota Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kabupaten Banjar.

Demo yang diikuti tidak kurang dari 500 santri dilakukan dengan mendatangi Kantor Bupati, Kamis, 21 Agustus 2014, untuk menemui bupati.

Selain mendesak bupati meminta maaf, mereka juga meminta pertanggungjawaban atas penurunan baliho di depan Kantor PCNU Kabupaten Banjar di Jalan Ahmad Yani Km 40 Martapura.

“Pimpinan Ponpes Darussalam Martapura KH Khalilurrahman memang tidak tersinggung atas penurunan baliho itu, tetapi kami alumnus dan santri-santri beliau yang tersinggung,” ujar Abdullah yang mengaku sebagai santri alumnus Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Ratusan massa yang mayoritas laki-laki dan mengenakan pakaian muslim khas santri berkumpul tepat di depan halaman Kantor Bupati dan meminta orang nomor satu di jajaran Pemkab Banjar meminta maaf atas penurunan baliho dan ucapan yang dinilai menyinggung perasaan.

Menurut Abdullah, penurunan baliho berisi ucapan selamat Satu Abad Ponpes Darussalam dilengkapi gambar KH Khalilulrahman bersama salah satu kandidat calon gubernur Kalsel, Zairullah Azhar menimbulkan kecemburuan karena baliho lain tidak diturunkan.

“Seharusnya, jika baliho mau diturunkan berkoordinasi dengan unsur Ponpes, jangan asal cabut dan diturunkan sehingga tidak ada pihak yang tersinggung atas sikap anggota Satpol PP seperti alumnus dan santri ponpes yang terkesan tebang pilih,” ucap dia.

Bupati Banjar Khairul Saleh, tepat pukul 10.00 Wita menemui ratusan pendemo dan menjelaskan alasan penurunan baliho karena masa pemasangan yang berakhir sehingga harus diturunkan untuk penataan kawasan dan pemasukan daerah melalui retribusi baliho.

“Masa berlaku pemasangan baliho sudah habis sehingga wajar diturunkan dan sama sekali tidak ada unsur apa-apa dibalik penurunan itu,” ujar bupati di depan ratusan santri yang membawa sejumlah pamplet berisi kecaman atas penurunan baliho tersebut.

Aksi massa sempat memanas sehingga personel kepolisian yang dipimpin Kapolres Banjar, AKBP Daru Cahyono meminta massa mengirimkan perwakilan untuk bertemu bupati, tetapi permintaan itu ditolak sejumlah santri yang berperan sebagai pimpinan aksi.

“Kami tidak mau negosiasi atau diwakili sebagian orang karena kami tidak punya perwakilan. Permintaan kami cuma satu, bupati meminta maaf atas penurunan baliho dan ucapan yang telah menyinggung perasaan,” ucap satu pendemo melalui pengeras suara.

Namun, setelah melalui pendekatan sejumlah perwira kepolisian, massa pendemo mau membubarkan diri dengan tertib dan meninggalkan Kantor Bupati yang berjarak sekitar 500 meter dari Ponpes Darussalam Martapura dikawal puluhan personel kepolisian pukul 10.30 Wita.

Setelah pendemo bubar, bupati menggelar jumpa pers menjelaskan penurunan baliho yang dilakukan personel Satpol PP karena masa berlaku pemasangan yang sudah habis sehingga diturunkan dari tempatnya di tepi jalan protokol Kota Martapura itu.

“Selain masa berlaku pemasangan sudah berakhir, kami juga ingin meningkatkan pendapatan daerah melalui pemasangan baliho lain sehingga baliho itu dilepas. Jadi tidak ada unsur apa-apa dibalik penurunan baliho, termasuk unsur politis,” katanya. (ful/met)

Terkait

Daerah Lainnya

SantriNews Network