Cegah Terorisme

Australia Larang Khatib Radikal

Sydney – Meskipun iklim demokrasi berkembang baik di Australia, pemerintah negara itu tidak mau anasir asing yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi berkembang di Australia. Setelah memperketat aturan yang berhubungan dengan warga negara Australia terkait dengan isu terorisme, Perdana Menteri Australia Tony Abbott, kembali memperkuatnya dengan melarang pengkhotbah radikal memasuki negara itu.

“Yang ingin kami lakukan adalah memastikan para pengkhotbah radikal yang menjajakan ideologi ekstremis mereka tidak datang ke negara ini dan memecah belah masyarakatnya,” kata Abbott di Sydney, Australia, Rabu 8 Oktober 2014.

Abbott marah dan frustrasi karena Undang-Undang Anti-Terorisme yang ada tidak dapat melarang Hizbut Tahrir yang telah dilarang di beberapa negara. Namun, ia yakin, melalui amandemen, sejumlah kelompok radikal yang dinilai mempromosikan terorisme dilarang.

Abbott diyakini bereaksi terhadap ceramah Hizbut Tahrir””kelompok yang bertujuan mendirikan negara Islam pan-nasional””Jumat minggu lalu, di Sydney. Mereka menentang serangan atas Suriah yang dipimpin Amerika Serikat dalam ceramah bertajuk “Perang untuk Mengakhiri Revolusi Barakah”.

“Tidak ada keraguan, mereka adalah organisasi yang berkampanye melawan nilai-nilai dan kepentingan Australia. Mereka adalah organisasi yang benar-benar pantas (dilarang),” kata Abbott.

Sebagaimana diberitakan, Australia mendukung serangan AS atas posisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Bahkan, Australia telah mengirim pesawat dan pasukan bergabung dalam kekuatan multinasional untuk menggempur NIIS. Saat ini kelompok radikal itu telah menduduki beberapa wilayah strategis.

Menurut Abbott, dengan sistem baru yang lebih ketat, para pengkhotbah yang menebar kebencian dilarang masuk Australia. “Tidak ada gunanya mengimpor pengacau dari luar negeri untuk memanas-manasi warga, dan saya ingin memastikan itu secepatnya. Kita harus memiliki sistem untuk melarang mereka datang ke Australia,” kata Abbott kepada Radioa 2GB di Sydney.

Abbott, seperti dilansir Kompas, mengatakan, perlu ada koordinasi yang lebih baik antara pihak keamanan dan imigrasi untuk memastikan visa semua orang yang dicurigai sebagai bagian dari kelompok milisi radikal ditolak.

“Selama bertahun-tahun, sejauh saya perhatikan, telah ada berbagai macam orang datang ke negara ini untuk menimbulkan masalah, membuat gangguan, serta membangkitkan konflik antarmasyarakat Australia, ini akan dihentikan,” kata Abbott.

Menanggapi hal itu, juru bicara Hizbut Tahrir, Utsman Badar, melalui laman Facebook miliknya menduga Abbott tengah menyiapkan histeria Islamofobia. Pemerintah, menurut dia, telah membangun kebijakan luar negeri yang tidak adil dan brutal untuk membungkam perbedaan pendapat. “Sekarang kita dapat melihat gerakan untuk melegalkan pembungkaman perbedaan pendapat itu,” kata Badar.

Saat ini, Australia dalam keadaan waspada tinggi terhadap serangan kaum radikal, yakni orang-orang Australia sendiri yang baru pulang dari Timur Tengah. Canberra telah menaikkan level ancaman menjadi “tinggi” di beberapa kota besar. (saif/onk)

Terkait

Dunia Lainnya

SantriNews Network