Karomah Kiai As‘ad Syamsul Arifin & Kisah Seorang Pemuda yang Hendak Menikah

KHR As‘ad Syamsul Arifin (santrinews.com/istimewa)
Setiap ada acara di DKI Jakarta & sekitarnya, penulis selalu menyempatkan untuk singgah di Kantor PBNU di Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. Biasanya, ketika sudah di sana, penulis langsung menuju ke lantai 5, markas besar NU Online, portal resmi Nahdlatul Ulama.
Akhir tahun 2019, untuk kesekian kalinya penulis diberi kesempatan untuk ke sana lagi. kali ini bukan hanya untuk sekadar singgah sebentar tapi bermalam sekitar empat hari.
Suatu pagi, ada seorang pemuda berambut agak gondrong tiba-tiba mendekati penulis. Dia memulai percakapan, “Darimana mas?”, saya jawab pendek, “Dari Situbondo, mas”. “Owh, santrinya Kiai Afifuddin Muhajir, ya?”, lanjut dia bertanya, “Njih, mas. Saya santrinya Kiai Afifuddin Muhajir,” saya kembali menjawab.
Di daerah ibukota, apalagi komunitas PBNU, nama Kiai Afifuddin memang bukan nama yang asing. Banyak orang menaruh rasa hormat kepada beliau, terutama terkait keilmuannya.
Setelah saling berkenalan cukup lama, dia kemudian melanjutkan percakapan, “begini mas, Situbondo itu bukan nama yang asing bagi saya”. “Lhoh sampean alumni Pesantren Asembagus?,” tanya saya mengonfirmasi. “Bukan mas! saya tidak pernah mondok di sana bahkan saya belum pernah ke sana,” jawab dia menjelaskan.
Belakangan saya tahu bahwa laki-laki itu adalah orang Sumedang, Jawa Barat.
“Kalau disebut Situbondo, saya langsung terbayang nama Kiai As’ad Syamsul Arifin, mas, guru sampean itu. Beliau adalah orang yang banyak berjasa dalam kehidupan saya. Kalau tanpa beliau, saya tak bisa membayangkan bagaimana hidup saya hari ini,” dia bercerita dengan semangat tentang Kiai As’ad Syamsul Arifin, mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.
Baca juga: Imam al-Ghazali, Kiai As‘ad, dan Ma‘had Aly
Sebenarnya agak kaget juga ada seseorang bukan alumni, bahkan belum pernah ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Asembagus Situbondo tetapi merasa punya banyak “hutang” pada Kiai As’ad.
Setelah lama bercerita, saya baru paham ternyata sosok pemuda ini memiliki pengalaman spiritual yang magis bersama pahlawan nasional itu. Ceritanya, dia mengenal Kiai As’ad cukup lama bahkan sejak kecil. Tetapi perkenalanan itu terbatas pada nama dan foto Kiai As’ad yang memakai surban putih bergaris biru, seperti banyak beredar.
Kiai As’ad adalah sosok kiai pertama yang dia kenal, dan ia jatuh hati pada beliau pada pandangan pertama. Tentu hal tersebut sangat mengesankan bagi diri pemuda ini.
Tidak berhenti di situ, hubungannya dengan Kiai As’ad makin menemukan momentumnya ketika ia hendak menikahi seorang gadis, namun sialnya dia tak memiliki kemampuan secara finansial bahkan untuk sekadar memberi mahar yang harganya murah. Sementara itu, waktu untuk akad nikah sudah sedemikian dekat.
Baca juga: Gus Dur, Kiai As‘ad, dan Nabi Khidir
Di tengah kondisi yang begitu mencekam itu, di benaknya terlintas sosok Kiai As’ad, dan secara spontan dalam hatinya berkata, “Kiai As’ad, sampean orang pertama yang saya kagumi, jadi tolonglah doakan (mintakan) saya kepada Allah agar diberi dana untuk menikah,” ujarnya seperti memberi ultimatum.
Tanpa disangka, keesokan harinya, dia tiba-tiba mendapat telepon dari seseorang yang tak dikenal, dan orang tersebut memberikan sejumlah uang melalui rekening pribadinya. Dia kaget bukan main, bukan hanya karena orang yang di seberang telepon tidak dikenalnya tetapi nominal uang yang diberikan sangat banyak.
Bahkan sore hari menjelang ia menikah masih ada nomor telepon baru yang menelponnya dan terus ada nomor baru yang masuk ke HP-nya untuk memberikan uang. Hingga akhirnya ia merasa tak mampu, dan karena merasa terus dikejar orang, ia matikan HP-nya sampai akad nikah dilaksanakan.
Qultu:
Cerita begini bagi sementara orang mungkin sangat tidak masuk akal. Anda boleh percaya, boleh saja tidak. Tetapi saya tetap mempercayainya. Inilah yang oleh ulama disebut karamah dan yang dilakukan pemuda itu namanya tawasshul. Kedua istilah itu sudah dibahas secara tuntas sampai ke akar-akarnya di banyak referensi dalam kajian keislaman.
Saya tetap berkeyakinan, para wali Allah SWT —kekasih Allah SWT—, para pejuang, dan orang yang wafat dalam menegakkan kebaikan itu tidak meninggal. Mereka hanya pindah tempat, terus “hidup” dan diberi banyak kenikmatan oleh-Nya. Allah berfirman:
وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِینَ قُتِلُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ أَمۡوَ ٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡیَاۤءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ یُرۡزَقُونَ
“Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. (Qs. Ali Imran [03|: 169)
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:
الناس نيام فاذا ماتوا انتهبوا
“Sesungguhya manusia di dunia ini sedang tidur, manakala mereka mati, mereka bangun”. (al-Munawi dalam Faidh al-Qadir, juz 01, halaman 136).
Baca juga: Santri Jangan Takut Menikah
Setelah selesai ngobrol dengan pemuda Sumedang itu, dari pintu ada yang mengucapkan salam. Eh, ternyata yang datang adalah senior sekaligus guru saya, Prof Dr Noorharisuddin dari Jember.
“Lhoh, kok ada di sini?,” tanya Mas Profesor muda itu. “Biasa cak, nyari kopi yang enak ke sini,” jawab saya diiringi tawa kami bersama.
NB: Cerita ini ditulis karena oleh sebagian kawan dan senior penulis diprovokasi untuk segera menikah tapi penulis belum punya modal. Salam baik. (*)
Ahmad Husain Fahasbu, Santri Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.