Pesantren Darul Mukhlisin Aceh Tamiang Bersih dari Tumpukan Kayu Sisa Banjir

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengunjungi pengurus Pesantren Darul Muchlisin Aceh Tamiang, Provinsi Aceh (antara/santrinews.com

JAKARTA, SantriNews – Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang telah bersih dan terbebas dari tumpukan kayu sisa banjir bandang.

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengatakan, pesantren tersebut menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto dalam proses pemulihan pascabencana.

“Ada instruksi khusus, Pak Seskab Teddy Indra Wijaya dan tentunya dengan arahan, melanjutkan arahan dari Bapak Presiden Prabowo untuk menangani pesantren Darul Mukhlisin ini dengan sebaik-baiknya, dengan secepat-cepatnya,” kata Qodari di Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026.

Sebelum pada Kamis, 15 Januari 2026, Qodari melakukan kunjungan kerja di Aceh Tamiang, untuk memastikan pemulihan pascabencana berjalan sesuai arahan Presiden, sekaligus menyalurkan bantuan dan memantau rehabilitasi di berbagai sektor.

Dalam peninjauan itu, Qodari bersama tim KSP melihat langsung kondisi asrama santri putri yang saat itu masih berlumpur serta proses pembersihan puing-puing.

Ia juga meninjau kompleks asrama santri putra yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik karena dikelilingi tumpukan kayu besar akibat banjir bandang.
Kompleks pesantren seluas sekitar 2,5 hektare tersebut berada di kawasan seluas lima hektare yang sempat menjadi titik penumpukan material kayu dari aliran sungai.

Di lokasi bekas tumpukan kayu, Qodari mendengarkan langsung penjelasan Pendiri Pesantren Darul Mukhlisin, Haji Zakwan, mengenai kondisi saat banjir terjadi.

Dari penjelasan tersebut, Qodari mengetahui bahwa posisi pesantren secara tidak langsung menahan laju kayu dan batang pohon besar sehingga tidak masuk ke permukiman warga di sekitarnya.

Qodari juga menyimak kesaksian Pelaksana Tugas Pimpinan Ponpes Darul Mukhlisin, Mulkana, yang menceritakan bagaimana para pengurus dan santri bertahan hidup selama beberapa hari dengan keterbatasan hingga banjir surut, serta kondisi kayu-kayu besar yang sempat mengelilingi area masjid.

Menanggapi hal itu, Qodari menyatakan bahwa pesantren mengalami kerusakan cukup serius akibat terjangan air, lumpur, dan material kayu, meskipun pada saat yang sama turut berperan menahan penyebaran kayu agar tidak berdampak lebih luas.

Ia mengapresiasi kerja sama berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, instansi kehutanan, hingga BUMN WIKA, yang telah membantu proses pembersihan sehingga area pesantren kini mulai pulih.

Sementara itu, Haji Zakwan menyampaikan terima kasih atas upaya pembersihan kayu-kayu di lingkungan pesantren sekaligus meluruskan informasi yang sempat beredar terkait pemanfaatan kayu.

“Kami meluruskan informasi yang menyatakan kayu-kayu telah digunakan, itu tidak benar. Belum ada kayu yang digunakan, masih utuh. Untuk bisa menggunakan kayu tersebut, kami perlu izin resmi dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Zakwan menambahkan, kegiatan belajar mengajar di Pesantren Darul Mukhlisin telah kembali berjalan. Namun, para santri belum dapat tinggal di asrama dan masih harus pulang-pergi karena kondisi asrama putra dan putri belum memungkinkan untuk dihuni dan masih memerlukan rehabilitasi secara bertahap. (ant/red)

Terkait

Nasional Lainnya

SantriNews Network