Catatan Gus Sur (2): Mengapa Harus Membela NKRI?

Tulisan ini masih satu rangkaian dengan tulisan saya sebelumnya, Mengapa Harus Cinta NKRI?. Selain fakta bahwa bangsa Indonesia sudah sejak lama sudah memeluk Islam, fakta berikutnya yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa Muslim di Indonesia adalah mayoritas, populasinya terbesar di dunia.

Saat ini tak terbantahkan. Di Timur Tengah, banyak negara dengan penduduk mayoritas muslim, tetapi sebesar Indonesia, baik wilayah dan penduduknya? Jika saat ini penduduk Indonesia 300 juta, dengan 80% adalah muslim, maka 240 juta jiwa adalah umat Islam. Ini jumlah yang luar biasa besar. Besarnya populasi muslim ini memiliki problem tersendiri, namun fakta mayoritas ini tak terbantahkan.

Tahun 2015, jumlah umat Islam di dunia sekitar 1,25 Miliar. Jika penduduk Indonesia tahun itu 258 juta, dengan 80% adalah muslim, maka jumlah umat Islam di Indonesia adalah 206 juta jiwa. Jumlah itu setara dengan 16,48%. Artinya sebanyak 16,48% umat Islam ada di Indonesia.

Sementara dari 1,25 milyar tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, Indiadan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Inilah faktanya dan ini masih sampai sekarang.

Melihat amaliyahnya, umat Islam di Indonesia adalah penganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah. Meski mayoritas pengikut mazhab Imam Syafi’i, juga ada yang mengikuti mazhab lain dalam hal Fiqih.

Menyangkut akidah mereka mayoritas mengikuti Imam Maturidy dan Asy’ari. Apakah tidak ada faham lain berkembang di Indonesia? Jelas ada, seperti Syiah, Ahmadiyah, Salafy/Wahaby dan juga beragam agama serta kepercayaan. Itu semua ada jauh sebelum NKRI berdiri, dan mereka tumbuh di Indonesia.

Namun demikian faham Ahlussunnah wal Jama’ah tetap menjadi mayoritasnya. Sampai saat ini, dalam bingkai NKRI faham tersebut masih bertahan. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila memungkinkan kondisi demikian, yang tetap utuh dalam Bhineka Tunggal Ika, namun tetap bertahan keragamaan yang ada.

Ahlussunnah wal Jama’ah yang mayoritas di Indonesia itu, faktanya berada dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Jelas sekali bahwa NU menjadikan faham tersebut menjadi dasar dalam beribadah, bersosial dan berhubungan dengan negara. Para Kiai NU tidak menjadikan Indonesia menjadi negara Islam, tetapi tetap menjadikan Negara Kesatuan sebagai bentuk yang tepat bagi umat Islam di Indonesia.

Fak-fakta ini secara mudah dapat difahami, bagaimana cara menghancurkan Islam di dunia. Ya hancurkan Islam di Indonesia, karena mayoritas. Untuk menghancurkan Islam Indonesia ya hancurkan NU dengan faham Ahlussunnah wal Jama’ahnya.

Maka dengan mudah NKRI akan hancur. Atau sebaliknya, bikin NKRI menjadi negara-negara bagian dengan bumbu agama, misalnya Jawa dijadikan Negara Islam, Bali negara Hindu, Papua negara Kristen Protestan, NTT menjadi negara Katolik, maka hancurlah semuanya, baik Islam dan NKRI. Dua sisi ini akan mudah dicapai hanya dengan menghancurkan NU.

Sebaliknya, jika ingin mempertahankan Islam Ahlussunah wal Jama’ah di dunia, ya jaga NKRI, jaga NU, mengapa? Karena NKRI memberi kesempatan dan keleluasaan untuk berkembang. Itulah mengapa para Kyai NU mengajarkan untuk mencintai tanah air. Mencintai, mendukung dan membela NKRI. Jika itu tidak dilakukan, maka tidak lama lagi Islam akan hancur, tercerai berai.

Dengan demikian, membela NKRI adalah jalan mewujudkan “Al Islam “Ëœulya, wa laa yu’la alaih” (Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam).

Ada sebagian orang mengatakan, apa hebatnya mayoritas, jika tidak berkualitas? Sebenarnya dalam pertanyaan ini kan tinggal mengupayakan kualitas. Soal itu adalah tugas kita semua sebagai umat Islam. Kalau umat hanya diajari caci maki, demonstrasi dan fitnah, bagaimana kualitas itu wujud?

Sekali lagi, NKRI sudah memberi bukti, apa kontribusi kita, umat Islam untuk NKRI? Tingkatkan kualitas diri anda!!! Begitu saja kok repot. (*)

Sururi Arumbani, Wakil Ketua PW LTN NU Jawa Timur.

Terkait

Opini Lainnya

SantriNews Network