Daerah

Ingin Berguna, Alumni Pesantren Annuqayah Wajib Perjuangkan Islam Aswaja

Minggu, 11 Oktober 2020 12:30 wib

...

Jember – Santri atau alumni dan pesantren ibarat pisau dan asahan. Alumni tidak boleh jauh dari pesantren tempat dulu mereka mengasah ilmu.

Demikian disampaikan Plt Bupati Jember KHA Muqit Arief pada pembukaan Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) wilayah Jember, di salah satu hotel di Jalan Sentot Prawirodirjo, Jember, Ahad, 11 Oktober 2020.

“Jika kita jauh dari pesantren, sama halnya dengan pisau jauh dari asahanya. Jadinya tidak tajam khazanah pengetahuannya,” kata Kiai Muqit.

Baca juga: Hanya PMII yang Direstui KH Warits Ilyas

Sebelum diangkat Plt Bupati, Kiai Muqit menjabat wakil bupati Jember. Ia alumni Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

Perumpaan alumni dan pesantren itu, menurut Kiai Muqit, merupakan pesan dari santri senior yang selalu ia ingat dan pegang agar tetap mengingat pada pesantren.

“Alumni dan pesantren itu sangat erat kaitanya. Itu saya teringat pada perkataan para sesepuh santri,” tegasnya.

Ia menegaskan, pondok pesantren Annuqayah adalah salah satu pesantren yang selalu berkomitmen memperjuangkan tradisi amaliah Nahdlatul Ulama (NU), yakni ajaran Ahlussunnah Waljamaah.

“Kalau ada santri setelah pulang tidak shalat tarawih 20 rakaat, shalat subuh tidak memakai Qunut, meskipun bertahun-tahun ada di pesantren, tapi pulangnya tidak akan mendapat apa-apa,” tegasnya.

Muscab IAA Jember diikuti 135 peserta. Mereka para alumni Annuqayah asal Jember.

“Santri (alumni) Annuqayah dari Jember ada sekitar 300 orang,” kata Ketua IAA Ekskaresidenan Besuki, Muhammad Muslim.

Jumlah itu, kata dia, diketahui saat dilakukan rapid test yang diselenggarakan IAA Jember beberapa waktu lalu.

“Jumlah itu hanya di wilayah Kabupaten Jember. Belum masuk pada kabupaten setapal Kuda,” ujarnya.

Pembukaan Muscam IAA Jember dihadiri beberapa jajaran pengasuh Annuqayah. Diantaranya Prof Dr KH Abd A’la, KH Naqib Hasan, KH Muhammad Shalahuddin A Warits alias Ra Mamak, dan Kiai Ainul Yaqin. (fiq/onk)