Daerah

NU Surabaya: Toleransi Bukan Mengabaikan Akidah

Selasa, 17 Januari 2017 18:17 wib

...
Ketua PCNU Kota Surabaya Achmad Muhibbin Zuhri (santrinews.com/mahrus)

Surabaya – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya Achmad Muhibbin Zuhri memaknai toleransi bukan berarti membenarkan semua, tetapi harus menghargai terhadap kelompok lain dan sekaligus tidak boleh menghilangkan identitas primordial agama.

Muhibbin Zuhri menjelaskan masyarakat saat ini sedang menghadapi dua situasi, yakni pertama ada gerakan yang menegakkan akidah dan bersikap intoleransi serta mengabaikan kebhinnekaan dan kedua ada gerakan yang mengedepankan toleransi dan kebhinnekan, tetapi mengabaikan akidah dan identitas agama.

“Kedua situasi ini menjadi persoalan serius yang sedang kita hadapi, ini harus mendapatkan perhatian bersama,” ujar Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini, di Surabaya, Selasa, 17 Januari 2017.

Ia juga menjelaskan seharusnya bertoleransi tidak boleh menghilagkan identias primordial agama, misalnya simbol agama tertentu adalah sarung dan kopiyah, maka tidak boleh melepas sarung dan kopiyah. Sebab, tidak bisa memaksakan identitas agama tertentu menjadi identitas agama lain.

Mantan Pengurus Cabang PMII Surabaya ini menegaskan, toleransi bukan berarti membenarkan semua, tetapi harus menghargai terhadap kelompok lain.

“Toleransi paradoks dengan dakwah, toleransi bukan membenarkan semua, karena kalau gitu gak asyik, tetapi harus menghargai. Tugas kita adalah dakwah saja, tugas tuhan memberi hidayah. Itu sikap dakwah NU, hanya dakwah saja, hidayah urusan tuhan,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, sudah saatnya melakukan langkah preventif dan tindakan tegas terhadap radikalisme dan intoleransi. Menurutnya, kedua penyakit akut ini sering menular lewat pendekatan teologis dan sosiologis. Secara teologis misalnya lewat dakwah agama dan penanaman pendidikan.

“Misalnya dakwah dan pendidikan harus mengetengahkan wisdom dari agama, bukan klaim kebenaran, secara sosial melalui kegiatan kultural dan kerja sama antarberbagai kelompok etnis,” ujarnya. (rus/ant)