Daerah

Sumenep Butuh Sosok Pemimpin Seperti Arya Wiraraja

Selasa, 05 November 2019 03:00 wib

...
Bupati Sumenep KH A Busyro Karim memimpin upacara Hari Jadi ke-750 Kabupaten Sumenep di depan Masjid Jamik (santrinews.com/bahri)

Sumenep – Semangat juang ditopang dengan rasa empati dan sifat kekeluargaan, adalah tiga diantara beberapa prasyarat utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Itulah sosok pemimpin yang dibutuhkan Sumenep kedepan.

“Siapapun yang memimpin Sumenep harus punya semangat juang ‘45’ karena tantangannya luar biasa,” kata Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, saat ditemui usai memimpin upacara Hari Jadi Ke-750 Kabupaten Sumenep di depan Masjid Jamik, Kamis pagi, 31 Oktober 2019.

Baca juga: Hari Jadi Ke-750, Sumenep Pernah Digdaya Disegani Kerajaan Nusantara

750 tahun, usia yang cukup tua. Tantangan yang dihadapi juga semakin besar. Kiai Busyro berharap, di usia Kabupaten Sumenep yang semakin tua ini selayaknya harus menjadi penyemangat bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat dalam berkarya dan berinovasi demi kemajuan daerah.

“Meski usianya sudah 750 tahun tapi semangatnya harus tetap semangat 45. Seluruh elemen harus memiliki jiwa semangat juang ‘45’, untuk membangun daerah,” tegasnya. “Tanpa semangat ‘54’ akan sulit memajukan Sumenep.”

Salah satu tantangan Sumenep adalah dari sisi geografis. Sebab, Sumenep memiliki wilayah yang sangat luas dengan jumlah pulau paling banyak di Madura dan bahkan di Indonesia. Kekayaan alamnya juga melimpah. Begitu juga kebudayaannya.

Karena itu, kata Kiai Busyro, Sumenep di masa mendatang butuh sosok pemimpin yang ahli strategi dan cerdas dalam mengatur pemerintahan baik secara internal maupun eksternal.

Sejarah mencatat, Sumenep pernah dipimpin Arya Wiraraja, sosok pemimpin yang ahli strategi, pintar, dan punya empati tinggi terhadap masyarakat.

Kala itu, Sumenep bahkan disegani oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Saat itu wilayah Nusantara masih terbagi atas beberapa kerajaan. Arya Wiraraja, pernah menjadi desainer Kerajaan Majapahit.

“Arya Wiraraja pintar dalam memimpin Sumenep. Tahu dalam mengatur strategi untuk memajukan Sumenep,” kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyyah Beraji, Gapura ini.

Arya Wiraraja adalah salah seorang ahli taktik dan strategi terbaik dalam sejarah kerajaan Nusantara. Sosok penting di balik berdirinya Kerajaan Majapahit.

Pernah menjabat sebagai Demung Nayapati —jabatan tinggi Negara setingkat kepala distrik yang kedudukannya sangat dekat dengan raja— di Kerajaan Singasari pada masa pemerintahan Raja Sri Kertanegara, Arya Wiraraja juga diberi kepercayaan menjadi ahli strategi resmi kerajaan.

Urutan jabatan di KerajaaN Singhasari kala itu adalah: Patih, Demung Nayapati, Kanuruhan, Rangga, Adipati, Tumenggung, Manteri, Manteri Anghabaya (pembantu).

Tak hanya cerdas dalam birokrasi, menurut Kiai Busyro, Arya Wiraraja juga memiliki kemampuan merebut empati masyarakat, salah satu syarat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin.

“Arya Wiraraja juga senang mengumpulkan masyarakatnya untuk bersama-sama membangun Sumenep. Arya Wiraraja selalu berpikir dan bertindak untuk memakmurkan rakyat,” tukasnya.

Hasil Survei Santri Politika
Sumenep satu-satunya kabupaten —dari empat kabupaten— di Madura yang bakal melangsungkan Pilkada Serentak 2020 mendatang.

Pertengahan Juli 2019 lalu, Santri Politika –Lembaga Kajian dan Riset— merilis hasil surveinya. Hasilnya ada 14 nama calon potensial pada Pilkada Sumenep 2020. KH A Busyro Karim –Bupati Sumenep dua periode 2010-2020—sudah tidak bisa maju kembali.

Nama-nama tersebut adalah Achmad Fauzi, KH Amiruddin Nahrawi, Achsanul Qosasi, Nyai Hj Dewi Khalifah, Fattah Yasin, Nyai Hj Nurfitriana Busyro Karim, KH Imam Hasyim, KH Ilyasi Siraj, KH Moh Unais Ali Hisyam, Malik Effendi, KH Muhammad Shalahuddin (Gus Mamak), Novi Sujatmiko, dan KH A Pandji Taufiq, dan Imam Idafi.

“Nama-nama ini sama-sama punya potensi dan kans kuat,” kata Peneliti Santri Politika, Moh Ridwan, Selasa, 16 Juli 2019.

Mereka berasal dari latarbelakang yang beragam, mulai dari politisi, pengusaha, birokrat, dan tokoh agama. Penyebutan nama-nama tersebut sesuai urutan abjad, bukan popularitas. (ari/hay)