Dirosah

Wajah Islam di Tanah Jawa (4): Sejarah & Awal Mula Islam Masuk Nusantara

Kamis, 24 September 2020 08:00 wib

...

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya kita banyak mengupas tentang sejarah dan dinamika peradaban Jawa dari sumber-sumber yang berupa catatan (orang) asing yang bersifat deskriptif semata.

Sekarang kita akan masuk ke sumber-sumber yang bersifat analitik kultural, terkait dengan beragam “karakteristik” kultural dari catatan sejarah tersebut dan juga penelusuran “genealogis” dan dokumen sejarah tentang kapan Islam mulai masuk ke Indonesia. Karena ada banyak versi dan perdebatan tentang kapan sebenarnya Islam datang ke Nusantara atau Indonesia ini.

Secara “kultural” Islam sudah nampak dan meninggalkan jejak pengaruhnya di Nusantara sejak abad ke 7, paling tidak inilah yang diyakini oleh Buya Hamka. Tokoh modernis Islam ini berargumen, bahwa sejak tahun pertama hijrah (masa Khulafaur Rasyidin) Islam sudah mulai “menyebar” sebagai “rerasan” para saudagar Arab dan Persi yang berlayar ke Afrika, Eropa dan Asia Timur.

Keyakinan Hamka ini bukan tanpa alasan, sebab melihat bukti-bukti arkeologis dan genetis di Sumatera terutama di daerah “serambi Mekkah” atau Aceh. Bisa jadi Islam datang jauh lebih awal dari yang diperkirakan oleh para pakar yang banyak berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 13.

Secara geografis Aceh memang sangat strategis dan menjadi ujung daratan utama Sumatera bagian Barat. Bisa dipastikan para saudagar yang akan ke China akan selalu melewati selat Malaka dan mengetahui soal tanah Sumatera atau paling tidak semenanjung Malaya yang merupakan bagian dari “Nusantara” pada awalnya.

Jalur pelayaran dagang ataupun politik selat Malaka ini sudah ada bahkan jauh sebelum Islam lahir. Artinya para saudagar Arab, Persia, India, China dan bahkan Eropa sangat mungkin sudah mengenal baik wilayah Nusantara ini (sebelum Islam muncul).

Bukti-bukti ini sudah kita ulas di tulisan-tulisan awal kita tentang manusia Jawa. Dalam tulisan kali ini kita akan sedikit mengulas jejak “kultural” sekaligus “jejak genealogis” orang Aceh yang “unik”.

Dalam “cerita rakyat” tentang Aceh yang banyak dinarasikan dalam syair lagu rakyat, Aceh dikenal sebagai keturunan bangsa “Persia”. Meskipun terasa “aneh” atau bahkan mustahil, tetapi ternyata keyakinan itu punya cukup alasan atau “bukti”. Paling tidak Dennis Lombard dan Barros yang pernah secara serius meneliti sejarah bangsa Aceh, menjelaskan asal usul kata Aceh yang dieja Achei. Frase ini kemudian mengalami penyengauan menjadi Achem yang eja Achin dan Atchin dalam naskah-naskah kuno Eropa abad 16,17 dan 18 M. Dimana kata itu punya makna sebagai bangsa yang membangun daerah ujung barat pulau Ruja atau Sumatera.

Menariknya bangsa ini berasal dari bangsa Achemenia atau Achemenis yang berasal dari perbukitan Kaukasus di Eropa Tengah yang konon hidup 2500 tahun sebelum Masehi. Bangsa yang suka berpetualang ini konon menyebar sampai ke seluruh penjuru daratan Afrika, Asia (Persi) dan bahkan sampai ke pulau Sumatera. Dimana akhirnya menjadi nenek moyang bangsa Persia dan juga Bangsa Aceh.

Tentu saja dalam proses yang sangat panjang itu terjadi percampuran budaya dan genealogis (akibat perkawinan) dengan penduduk lokal. Maka menjadi tidak aneh jika secara biologis bangsa Aceh memiliki tubuh yang relatif lebih besar dan berhidung mancung dibanding dengan etnis lokal Nusantara lainnya. Agak berbeda misalkan dengan orang Melayu dan Jawa lokal yang bertubuh lebih kecil dan berhidung pesek.

Di samping itu orang Aceh memiliki karakter kultural “heroik” yang juga masih bisa kita jumpai pada bangsa Iran dan Irak (Persia) saat ini. Tentu ini masih membutuhkan pembuktian yang lebih “serius” dengan penelitian sejarah ataupun antropologi yang lebih dalam. Namun asumsi-asumsi di atas setidaknya secara rasional bisa diterima sebagai sebuah “bukti” bahwa jalur pelayaran selat Malaka ini adalah jalur kuno yang sudah ada sebelum Masehi.

Dengan asumsi-asumsi “kultural” di atas maka kita dapat menyatakan bahwa relasi bangsa Aceh dan Persia ketika Islam muncul sudah sangat kuat dan intensif. Tentu saja kabar tentang lahirnya agama baru itu sudah terdengar di Aceh. Kita semua tahu bahwa sebagian orang Persia sudah masuk Islam ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup. Kita mengenal Salman Al Farisi (seorang saudagar) sebagai sahabat dekat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia.

Apalagi setelah Persia ditaklukan oleh Islam di masa Khulafaur Rasyidin, maka tentu semakin kuat informasi yang masuk ke Aceh soal agama Islam yang dibawa para saudagar Persi. Inilah yang mungkin membuat Buya Hamka memiliki keyakinan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia atau Nusantara sejak abad ke 7.

Dari serambi Mekkah inilah kemudian penyebaran Islam semakin intensif baik yang dibawa pedagang Persia atau pun Arab sendiri. Bahkan kemudian muncul teori “gotak-gatik-matuk” bahwa Aceh adalah sebuah akronim dari Arab-China-Hindia.

Hal ini bisa muncul karena pada perkembangan berikutnya (setelah Islam berjaya) tidak muncul spirit kesukuan di tanah Arab dan termasuk bangsa Persia. Sehingga nama Persia juga mulai “hilang” di Aceh, dimana kemudian hanya dikenal Islam dan Arab.

Sedangkan jejak “Persia” segera hilang dan hanya tertinggal dalam tuturan lisan yang berupa syair atau lagu-lagu tradisional bangsa Aceh.

Sementara itu para sarjana yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada awal abad 13, memang punya kecenderungan melihat dari artefak sejarah yang berupa batu nisan dan prasasti yang sebenarnya merupakan “tradisi” kaum elit. Dimana kalangan bangsawan itu jarang sekali (kalau tidak bisa dikatakan tidak mungkin) menetap di daerah yang belum begitu aman dan apalagi jika tidak ada jaminan politik dari penguasa lokal setempat.

Artinya bukti-bukti artefak itu biasanya menandakan sebuah “kemantapan struktur dan kultur”, bahwa keberadaan orang Islam saat itu sudah kuat secara politik.

Tentu saja untuk mencapai tahap ini membutuhkan waktu yang relatif lama dari awal masuknya Islam lewat jalur ekonomi dan kebudayaan. Apalagi ketika ukurannya kemudian dikaitkan dengan terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

Tentu menjadi sangat wajar jika Islam kemudian dinyatakan baru masuk ke tanah Jawa sekitar abad 13 atau bahkan 14. Namun hal ini tidak menjadikan tesis Buya Hamka jadi salah, sebab kita tahu Nusantara saat itu secara teologis didominasi oleh nilai-nilai keagamaan Hindu dan Budha yang sudah cukup lama bersintesis dengan agama lokal.

Dengan demikian tidak mudah bagi agama Islam yang datang lebih akhir untuk bisa mengambil alih pengaruh kedua agama besar itu. Meskipun akhirnya proses itu tetap berjalan secara natural dan mulai terlihat ke permukaan sejak awal abad 13. (*)

Tawangsari 24 September 2020

Muhammad Khodafi, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya