Dirosah

Partai Politik Itu Memang Kurang Ajar

Senin, 03 Agustus 2015 16:43 wib

Membaca tulisan Mohamad Wafi Nusantara (MWN) yang dipublish situs ini kemarin (minggu, 02/08/2015) saya mendapati kesan kalau MWN seorang pastisipan calon tertentu, atau MWN seorang kader politik tertentu yang punya keinginan mendikreditkan partai tertentu dengan cara menunggangi muktamar NU. Bahkan, isu kekisruah yang diangkat dan seolah-olah ulah para politisi yang ingin “mengondisikan” para kiai pemilik suara, awalnya pun itu hanya “tuduhan” yang dilancarkan untuk memengaruhi para kiai pemilik suara itu. Akan tetapi, MWN tidak menuliskan artikelnya dari ruang kosong. Kok bisa?

Semalam saya menyempatkan hadir, untuk melihat langsung berlangsungnya proses muktamar di alun-alun Jombang, area pusat Muktamar. Saya tiba di alun-alun Jombang sekitar pukul 22.00. Depan panggung di sebalah utara sudah mulai lengang. Para penjual aksesoris menselonjorkan kaki, mereka tidak lagi tampak sibuk melayani pembeli. Beranjak ke depan pintu tenda tempat berlangsung forum muktamar, orang-orang sedikit berkerumun. Ratusan kepala seolah berdesak-desakan untuk melihat ke dalam.

Setelah mendekat, saya baru tahu, di dalam forum itu berlangsung “dinamika” yang sengit. Pasalnya tidak lain dan tidak bukan muktamirin para pemilik suara terbelah menjadi dua golongan. Golongan pertama, kaum mukatamirin yang menginginkan pemilihan Rais Am dilakukan dengan sistem AHWA. Para muktamirin yang bersikukuh dengan sistem AHWA ini berdasarkan penerimaan dan pemahaman mereka bahwa sistem AHWA merupakan keputusan Munas Ulama menjelang muktamar. Golongan kedua, kaum muktamirin yang menginginkan Rais Am secara langsung. Mereka berpendapat, bahwa sistem AHWA tidak belum bisa dilakukan dalam muktamar ke-33 NU kali ini. Gagasan penggunaan sistem AHWA yang dihasilkan pada Munas Ulama beberapa bulan lalu, tidak serta-merta mengalahkan hasil muktamar ke-32 di Makasar. Dinamika yang terus berlangsung di tengah malam itu pun berujung pada gontok-gontokan antarpeserta forum. Puncaknya, beberapa orang diamankan untuk keluar dari forum.

Hal yang cukup unik yang saya lihat dari dekat adalah kehadiran Sekretaris Jenderal Partai Kebangkita Bangsa (PKB), Abdul Kadir Karding. Dengan berkemeja putih, berkopiah, bersarung, dan bersepatu pantovel, tokoh kelahiran Donggala dikelilingi oleh beberapa orang yang berbincang santai. Abdul Kadir Karding ini juga melakukan beberapa pergerakan tempat. Mula-mula saya melihatnya di depan pintu gerbang utara-barat. Sedikit menjauh dari mulut-gerbang. Pelan-pelan AKK panggilan Abdul Kadir Karding bergerak mendekat tenda pintu gerbang. Hanya berjarak dua meter dari pintu gerbang, AKK tampak mengumbar senyum sumringah.

Ketika keributan kesekian terjadi, AKK bergerak lagi. Lalu kerumunan yang memuncak di pintu gerbang utara-barat itu, AKK sudah hilang dari pandangan saya. Perhatian saya pun tertuju pada kerumunan orang-orang yang masih dikuasai emosi. Sontak saya mengejar kerumunan itu. Di dekat sebuah tenda kerumunan membentuk lingkaran. Setelah saya mendekat, saya dihadapkan pada pemandangan yang cukup penuh tanda tanya: AKK berada di tengah mereka.

Kembali pada tulisan MWN, saya pun hanya bisa menduga: apakah memang benar bahwa PKB merupakan partai yang dimaksud MWN sebagai partai yang mulai kurang ajar? Saya hanya bisa menduga-duga. Melihat seringai AKK membubarkan kerumunan para muktamirin yang emosi, saya pun hanya bisa mengeluh: kalau mereka benar-benar ingin menguasai NU dengan cara-cara seperti yang saya lihat, alangkah kurang ajarnya orang-orang partai itu?. (*)

Abd Karim