Dunia

Hikmah Perintah Puasa Turun Sebelum Jihad

Sabtu, 18 Mei 2019 23:30 wib

...
Mustasyar PCI NU Pakistan H Muladi Mughni (santrinews.com/nuo)

Islamabad – Mustasyar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan, H Muladi Mughni, menguraikan sejarah turunnya perintah puasa yang terjadi pada tahun kedua Hijriah dan disusul dengan kebolehan umat Islam untuk berjihad membalas serangan dari kaum kafir Quraisy.

Menurutnya, terdapat hikmah dua ibadah diturunkan pada tahun dan bulan yang sama tersebut. Puasa adalah simbol perlawanan terhadap musuh tersembunyi yakni ‘hawa nafsu’. Sementara jihad adalah perlawanan terhadap musuh yang tampak ‘manusia’.

“Perintah puasa lebih dahulu dari pada berjihad, seakan Allah Swt hendak berpesan bahwa jika kita telah mampu mengalahkan musuh yang tersembunyi, maka akan lebih mudah untuk mengalahkan musuh yang tampak,” ujarnya saat menyampaikan tausiyah keagamaan pada acara silaturahim dan buka puasa bersama warga NU se-Islamabad di kediaman salah satu Nahdliyin, Kamis, 16 Mei 2019, sore.

Dalam perintah puasa yang tertulis dalam QS Al Baqarah ayat 183, disebutkan bahwa tidak ada subjek yang mewajibkan puasa, namun hanya disebutkan bahwa puasa telah diwajibkan atas kalian (kalimat pasif).

“Seakan-akan Allah hendak menyampaikan kepada kita bahwa sekiranya tidak ada pihak lain, sekalipun Allah yang mewajibkan berpuasa, niscaya diri manusia sendiri yang akan mewajibkan atas dirinya,” terang Muladi.

Hal tersebut mengingat betapa besar manfaat dan hikmah yang dirasakan seseorang dalam menjalankan puasa.

Acara tersebut dimulai dengan penampilan grup shalawat NU Pakistan yang membawakan beberapa lantunan shalawat dan lagu-lagu yang menghibur. Nahdliyin yang hadir tampak guyub bersama mendengar lirik-lirik lagu yang dibawakan.

Doa bersama yang dipimpin oleh Eris Rismatullah di saat adzan berkumandang menjadi menutup rangkaian acara tersebut, sekaligus mengakhiri puasa yang telah berlangsung selama 15 setengah jam ditambah cuaca panas yang mencapai 39 derajat.

Seluruh warga pun membatalkan puasa dengan menyantap menu takjil yang disediakan oleh panitia. Usai shalat Maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam bersama. (shir/nuo)