Dunia

Gus Dur Ditetapkan Pahlawan, Kader Muda NU ini Nazar Jalan Kaki Kediri-Jombang

Kamis, 07 November 2019 20:30 wib

...
Sukma Sahadewa (santrinews.com/istimewa)

Surabaya – Setiap 10 Nopember, diperingati sebagai Hari Pahlawan. Setiap menjelang 10 Nopember, pemerintah juga memiliki tradisi memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh yang dinilai berjasa kepada bangsa dan negara.

Tahun ini, masyarakat Jawa Timur kembali berharap agar pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Saya dan mayoritas warga NU berharap pemerintah tahun ini memberikan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur,” kata kader muda NU, Sukma Sahadewa, di Surabaya, Kamis 7 Nopember 2019.

Bahkan, ia berjanji akan bernazar jalan kaki dari rumahnya di Kediri ke Jombang bila Gus Dur ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Saya bernazar akan jalan kaki dari rumah saya di Kediri hingga ke makam Gus Dur di Jombang,” ujar Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Surabaya ini.

Menurut Sukma, Gus Dur yang juga Presiden RI ke-3 itu sudah memenuhi syarat administatif untuk mendapatkan gelar pahlawan. Bahkan semua tahapan dan proses untuk mendapatkan gelar pahlawan sudah dilalui, termasuk usulan resmi dari pemerintah provinsi Jawa Timur ke Kementerian Sosial.

Sukma menilai, Gus Dur telah berkontribusi besar terhadap perjalanan bangsa ini. Cucu KH Hasyim Hasy’ari itu telah meninggalkan legacy berupa diantaranya Hari Raya Imlek yang selama rezim Orde Baru dilarang. Imlek tidak hanya diperingati oleh umat agama Konghucu tetapi oleh etnis Tionghoa secara umum.

“Gus Dur adalah pejuang HAM, tokoh pluralisme dan pahlawan kemanusiaan. Saya kira sudah waktunya pemerintah memberikan pengakuan resmi lewat penetapan gelar pahlawan,” tukasnya.

Rencananya, Presiden Joko Widodo akan mengumumkan penerima gelar Pahlawan Nasional pada Jumat 8 Nopember 2019, besok. Dua nama yang dipastikan mendapatkan gelar pahlawan adalah KH Masykur dan Rohana Kudus.

KH Masykur adalah komandan Barisan Sabilillah saat pertempuran 10 Nopember 1945 yang melawan pasukan sekutu yang terlatih dan dilengkapi persenjataan canggih.

Sedangkan Rohana adalah tokoh pers perempuan pertama di Indonesia. Ia diusulkan oleh pemerintah provinsi Sumatera Barat. (*)