Fikrah

Polemik Banser vs HTI: Musuh Besar-Musuh Kecil

Kamis, 27 Agustus 2020 18:30 wib

...

Musuh besar NU dan Muhammadiyah untuk konteks saat ini adalah oligarki.

Musuh besar NU dan Muhammadiyah untuk konteks saat ini adalah oligarkhi dan kebijakan pemerintah yang mencelakakan rakyat

Meski agak terlambat, saya punya pandangan “beda” dalam kasus Bangil, Pasuruan yang naga-naganya tak selesai hingga hari ini. Di linimasa Facebook, masih banyak yang baku hantam soal tema tersebut.

Begini. Dulu ketika Islam baru saja menancapkan tonggak perjuangannya, ia berhadap-hadapan dengan dua musuh sekaligus. Pertama, Romawi. Kedua, Persia. Tetapi dalam satu waktu, umat Islam lebih berpihak kepada Romawi, tepatnya ketika terjadi konfrontasi antara Romawi dengan Persia.

Alasannya; karena masih ada titik temu antara keduanya, Islam & Romawi menyembah “Tuhan” yang sama. Sementara Persia tidak, mereka kaum Musyrikin, penyembah api. Tetapi ini tidak bermakna; Islam lalu mengakui keabsahan ideologi Romawi.

Baca juga: Pendapat Ulama Fiqih: Membakar Bendera HTI Wajib dan Berpahala

Dalam kasus lain Imam al-Ghazali, kita tahu bahwa al-Ghazali hingga ia mendapat gelar “Hujjatul Islam” karena ia berhasil mempertahankan marwah agama dari dua serangan sekaligus. Pertama, kaum Filsuf, sebagai representasi musuh dari luar. Kedua, Kaum Muktazilah sebagai musuh dari dalam.

Tapi dalam satu waktu, tepatnya ketika menghadapi gempuran kaum Filsuf, al-Ghazali rela berkoalisi dengan Muktazilah untuk menekan balik musuh yang lebih besar, Filsuf, karena betapapun terdapat banyak perbedaan, al-Ghazali dengan Muktazilah memiliki titik temu yang sama, yaitu sama-sama Islam.

Namun demikian, ini tak bermakna al-Ghazali berdamai dengan kaum Muktazilah. Alih-alih berdamai, justru al-Ghazali juga makin gencar menghajar mereka.

Contoh terakhir yang tak terlalu jauh dengan kehidupan kita hari ini, sebagaimana sudah maklum, sikap Hadratussyaikh Hasyim Asya’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, kepada Wahabi dan Syiah sangat jelas. Beliau jelas dan tegas menolak kedua gerakan itu. Simak saja, pandangan Rais Akbar NU ini dalam bukunya, “Risalah Ahlussunnah Waljamaah”.

Tetapi ingat, ketika hendak memukul mundur kaum penjajah, Belanda & Jepang, Kiai Hasyim rela berkoalisi dengan mereka, karena jelas, kaum penjajah adalah musuh yang lebih besar. Ini bisa dibaca dari Masyumi yang Kiai Hasyim sendiri menjadi dewan Syuro. Tetapi sekali lagi, ini tak bisa dimaknai bahwa Kiai Hasyim mengakui mereka. Kiai Hasyim dengan tegas menolak Wahabi & Syiah.

Dari sekian kasus-kasus tersebut, penting kiranya mengedentifikasi mana musuh besar & musuh kecil untuk konteks kehidupan hari ini. Tujuannya agar umat Islam tak selalu bertengkar dan lupa dengan musuh yang amat besar.

Sikap saya soal HTI jelas; ia adalah organisasi terlarang secara hukum di Indonesia. Nah, pertanyannya; apakah pemerintah memang serius melarang penyebaran HTI? jangan-jangan hanya gertak sambal? maka momen inilah kita bisa menguji keseriusan Pemerintah.

Sementara itu, bagi saya pribadi, musuh besar dan lawan tanding NU, Muhammadiyah, dan seluruh elemen bangsa yang sepadan untuk konteks saat ini adalah oligarkhi dan seluruh kebijakan pemerintah yang mencelakakan rakyat. (*)

Paiton, 27 Agustus 2020

Ahmad Husain Fahasbu, Dosen muda Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton, menamatkan pendidikan Fikih-Usul Fikih Ma’hady Aly Salafiyah-Syafi’iyah Situbondo.