Fikrah

Gus Dur dan Upayanya Menjaga Keseimbangan Wacana

Selasa, 24 November 2020 20:30 wib

...
Gus Dur bersama KH Abdurrahman Nawi, Habib Husein bin Ali Al-Aththas, dan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf (santrinews.com/istimewa)

Ketika petinggi MUI mempertanyakan jasa habaib, Gus Dur hadir membelanya.

Tahun 1970-an hingga dua dasawarsa berikutnya, ketika para kiai diejek sebagai figur kolot, jadul, ketinggalan zaman, kaku, dan segenap predikat negatif lain, Gus Dur hadir dengan berbagai kolom pembelaannya. Beliau memberi perspektif baru dengan memprofilkan pribadi, visi, keluasan ilmu, dan kedalaman hikmah para kiai pesantren, di dua media corong sekularisme Indonesia: TEMPO, lalu Kompas. Langkah cerdas!

Ini awal mula pelajaran dari Gus Dur: mendekati obyek kajian dengan simpatik, obyektif dan berusaha memahami jalan pikiran orang lain. Terlebih, Gus Dur hadir sebagai insider, bukan outsider, sehingga lebih bisa menjadi jurubicara sekaligus. Gus Dur lahir dan dibesarkan d(ar)i keluarga pesantren. Sejak saat itu pula, Gus Dur meramaikan pasar antropologi di tanah air. Lebih spesifik, memumculkan corak “antropologi kiai”.

Kelak, kumpulan esai Gus Dur soal kiai ini diterbitkan oleh LKiS dengan judul “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah”. Saya selalu merekomendasikan buku ini kepada adik-adik IPNU-IPPNU dan PMII yang berlatarbelakang pesantren agar memiliki akar diri yang kuat mencengkeram, sebelum tumbuh merindang. Biar jejek. Agar tidak terpelanting secara ideologis. Juga agar memahami “punjer”-nya, biar kalau capek berkelana dan babak belur usai “berkelahi pemikiran” selalu ingat jalan pulang. Menuju sumber mata air kearifan ulama Nusantara.

Oke, balik lagi ke bahasan awal. Langkah promosi kearifan dan jalan hidup para kiai yang dilakukan Gus Dur merupakan manifestasi konsep at-tawazun; seimbang, tidak njomplang. Langkah penyeimbangan opini yang dilakukan secara elegan. Pandangan sinis terhadap dunia pesantren diseimbangkan dengan melakukan wacana tandingan. Sehingga tidak ada dominasi opini atau wacana tunggal.

Perlahan namun pasti, kaum “modern”, kelas sekolahan, atau kaum “terdidik” mulai melek. Ada dunia lain di luar komunitas mereka yang hidup dengan budaya dan alam pikiran yang khas yang secara budaya sudah mengakar lebih dari setengah milenium di Nusantara.

Taktik penyeimbangan yang sama dilakukan ketika “komunisme” dan paham kiri menjadi momok. Gus Dur banyak memperkenalkan karya sastra Russia kepada anak-anak muda NU, juga wacana kiri. Buku “Kiri Islam: Antara Modernisme dan Posmodernisme, Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi” karya Kazuo Shimogaki yang legendaris itu mula-mula diperkenalkan oleh Gus Dur lewat naskah aslinya dalam diskusi terbatas bersama anak muda NU di akhir 1980-an. Beliau pula yang memberikan kata pengantar.

Di kemudian hari buku paling top di zamannya ini diterbitkan oleh LKiS pada awal 1990-an dan banyak mempengaruhi cara pandang generasi hibrida NU. Wacana kiri bukan hantu. Ia bisa menjadi pisau bedah realitas sosial yang njomplang. Selebihnya, juga turut andil dalam gugusan teoritik besar di dunia dalam dua abad terakhir.

Gus Dur tidak alergi, melainkan mendekatinya secara perlahan, memahaminya, dan menularkan pemahamannya kepada generasi muda. Di era 1990-an hingga satu dasawarsa berikutnya, jika ada kader PMII tidak membaca buku “Kiri Islam”, dia dianggap kader pesolek belaka. Aktivis memble.

Soal memahami teori Marxis dan anak turun teoritiknya, Gus Dur juga tidak menjadi, meminjam istilah Lenin, “kaum kiri kekanak-kanakan”, sebagaimana yang beliau kemukakan dalam salah satu topik obrolan dalam buku “Tabayyun Gus Dur” yang diterbitkan LKiS. Dia pengkaji yang tekun, yang bisa mengiris sajian teori kiri dengan baik, sekaligus tidak “gegar budaya”, latah dan terjebak novelisme, dimana sebuah wacana diperbincangkan sebagai sebuah trend dan fashion pemikiran.

Upaya penyeimbangan wacana yang dilakukan Gus Dur di atas menjadi pelatuk yang melahirkan “kontra narasi” yang dicekokkan mesin Orde Baru. Ini yang saya sukai.

Demikian pula ketika pada 1993 ada statemen salah satu petinggi MUI yang menilai bahwa keturunan Rasulullah sudah “berakhir”, dan narasi gugatan di salah satu majalah saat itu dengan judul fantastis, “Para Habib, Apa Jasamu?”, Gus Dur melakukan penyeimbangan wacana. Di beberapa acara pengajian, Gus Dur melakukan penjelasan soal kaum Alawiyyin yang sudah hidup ratusan tahun di tanah air, berikut juga jalan hidup yang ditempuh oleh mereka.

Dalam sebuah acara di Pesantren Al Fachriyyah Ciledug, Gus Dur menyatakan, “Hanya orang bodoh yang mengatakan batu permata sebagai batu koral. Dan yang paling bodoh adalah mereka yang menganggap batu permata seharga batu kerikil. Kedatangan mereka ke negeri ini merupakan karunia Tuhan yang terbesar. Dan hanya orang-orang yang kafir nikmat yang tidak mau mensyukurinya.”

Kedekatan Gus Dur dengan para habaib memang dipupuk melalui ayahnya, KH A Wahid Hasyim yang beberapa kali mengajak Gus Dur kecil sowan kepada Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Jakarta. [Catatan: ketika Jepang menjajah Indonesia, mereka mengawasi dua ulama sepuh: Habib Ali “ditempel” Abdul Mun’im Inada. Sedangkan di Tebuireng, Abdul Hamid Ono menempel kakek Gus Dur, KH M Hasyim Asy’ari].

Ingatan pada masa kecil dan fenomena ramainya majelis di Kwitang itu yang membuat Gus Dur pada 1 Januari 1983, menulis kolom khusus di TEMPO dengan judul “Kwitang…Kwitang”. Tulisan tersebut memotret fenomena jamaah majelis taklim Al-Habsyi di Kwitang dan siasat para sopir angkot dan bis di hari Minggu dalam menggaet penumpang yang akan menuju majelis tersebut.

Setahun setelah tulisan terbit, Ibunda Gus Dur, Nyai Hj Sholihah, bahkan memberikan sambutan dalam acara lebaran dan pembukaan majelis ta’lim Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, yang diasuh oleh Habib Muhammad, putra Habib Ali, pada 27 Juli 1984.

Jadi, menilai Gus Dur membenci habaib gara-gara tidak cocok dengan satu orang habib adalah penilaian yang receh. Silahkan cermati gestur Gus Dur manakala berjumpa dengan para habaib. Dari Tuan Guru Muhammad Zaini Abdul Ghani Martapura (Guru Ijai); tatkala bersama Habib Luthfi bin Ali bin Yahya; saat bersama al-Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BilFaqih, Pondok Pesantren Darul Hadits Malang; ketika sowan Habib Hamid Sokaraja; bersama Syaikh Hisyam Kabbani maupun Syaikh Nadzim Haqqani; bersama Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, dan bersama habaib lain. Semua menunjukkan gestur spontan kerendahan hati sebagai seorang santri yang sedang berhadapan dengan gurunya.

Bahkan, dalam sebuah foto lama, dikelilingi beberapa orang yang berjongkok, Gus Dur duduk iftirasy (seperti duduk tasyahud awal) sedang melantunkan doa. Ini adalah foto yang diambil pada akhir Januari 1989, saat Gus Dur akan berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin al Akbari al Husaini yang wafat pada tahun 1310 M dan dimakamkan berdampingan dengan Raja Tosora Lamaddusila di Tosora (situs purbakala), Wajo, Sulawesi Selatan. Saat itu jembatan menuju makam leluhur para Walisongo itu terputus. Oleh karena itu rombongan peziarah ini memilih berdoa tak jauh dari jembatan.

“Sayid Jamaluddin Akbar belum berkenan kita kunjungi,” kata Gus Dur saat itu. Menurut Gus Dur, ia mendapat pesan dari kakeknya Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, supaya menziarahi 27 makam Wali di Indonesia.

Saat itu doa dipimpin oleh Habib Abu Bakar Azzabidi Alatas. Gus Dur berjanji akan datang lagi secara incognito (tidak resmi). Belakangan diketahui Gus Dur telah datang secara diam-diam dan berdua dengan Habib Abubakar Alatas, dan menziarahi beberapa makam wali di Sulsel seperti makam Syekh Yusuf al-Khalawatiyah al Makassari di Gowa, Makam Syekh Jamaluddin al Akbari al-Husaini di Tosora Kabupaten Wajo, makam Syekh Datok Ri Bandang dan Makam Pangerang Diponegoro di Makassar, makam Tuan Bojodi Kajuara Bone, makam Kareng Lolo Bayo Sanrabone Takalar, dan beberapa makam waliyullah di Sulsel.

Dengan demikian, penyeimbangan wacana agar tidak ada dominasi tunggal merupakan langkah taktis yang cerdik.

Demikian pula dengan yang dilakukan Gus Dur di jagat politik. Ketika semua menjauhi Pak Harto usai terguling, Gus Dur malah mengunjunginya di Cendana di bulan Ramadhan. Berbuka bersama dan menyuguhkan joke segar. Guyonan taraweh diskon 60% yang terkenal itu dilontarkan Gus Dur di kediaman Pak Harto ini.

Di bidang pemerintahan internasional, Presiden Gus Dur memperkuat poros Jakarta-Beijing-Caracas. Beliau juga menyeimbangkan poros yang berseberangan: Havana dan Washington. Di dalam negeri, basis maritim yang selama Orde Baru tidak dilirik, diberi peluang dengan membentuk kementerian. Di level militer, Panglima TNI dijabat oleh Laksamana Widodo AS, setelah pos strategis ini selama tiga dasawarsa dijabat jenderal TNI AD.

Masih banyak hal lain yang menunjukkan implementasi At-Tawassuth dan At-Tawazun yang dijalankan oleh Gus Dur secara luwes di dua hal yang dia cintai: keislaman dan keindonesiaan. Bahkan dalam hal yang tampak remeh: menamakan putri-putrinya. Salah satu putrinya diberi nama unik dan “ora umum” untuk era 1970-an: Alissa Qatrunnada.

Alissa, sebagaimana tokoh yang mengesankan baginya dalam novel karya sastrawan Prancis, Andre Gide. Sedangkan Qatrunnada, didasarkan nama kitab karya Ibnu Hisyam, Qathrun Nada wa Ballus Shada. Qathrun Nada juga merupakan nama permaisuri Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Karakter proporsional yang tampak dalam aspek penamaan seorang bayi. Gabungan antara tokoh dalam novel dan nama kitab. Pernyataan tersirat bahwa bapaknya adalah penggila buku.

Anak Mbak Alissa bernama Parikesit Ulil Azmi. Gabungan dari nama tokoh pewayangan, Parikesit; dan istilah Arab, Ulil Azmi; sebuah ungkapan bagi mereka yang punya tekad, kekokohan iman dan keteguhan jiwa.

Dalam epos pewayangan, Parikesit adalah anak Abimanyu. Dia berarti cucu Arjuna. Di tangan Parikesit, konflik Pandawa dan Kurawa bisa diredam. Rekonsiliasi dijalankan. Dan, saya menduga, ketika cucu Gus Dur itu lahir pada 2001, di saat kondisi bangsa sedang rawan pecah, dia diharapkan bisa sebijak Raja Parikesit bin Abimanyu bin Arjuna: membawa harapan perdamaian dan kerukunan.

Wallahu A’lam Bishshawab. (*)