Hikmah

Tradisi Santri Ngalap Berkah Kiai

Kamis, 15 Oktober 2020 16:00 wib

...
KH Anwar Manshur mencium tangan KH Maimoen Zubair almarhfurlah (santrinews.com/istimewa)

Berkah atau barokah di kalangan santri didefinisikan dengan “ziyadatul khoir” yakni bertambahnya kebaikan. Sehingga hidup yang berkah adalah hidup yang terus bertambah kebaikannya. Ilmu yang barokah adalah ilmu yang terus bertambah dan meluas kemanfaatannya bagi diri dan manusia sekitarnya.

Hakikat kebaikan hidup ini adalah melakukan kebaikan, berusaha memberi kebaikan dan mendapatkan kebaikan. Potensi berbuat kebaikan dalam hidup ini begitu banyak dan obyeknya berserakan di sekeliling kita. Bisa dilakukan di rumah, jalan, warung, kantor, sekolah, pasar, bahkan di toilet pun bisa jadi sarana bagi kita untuk melakukan kebaikan. Sehingga dengan keberkahan maka sepanjang hidup kita akan terus dapat berbuat baik dan kita akan menuai manfaat kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan.

Dalam hidup di dunia ini, kita pasti memerlukan bertambahnya ilmu dan kemajuan pendidikan karena pendidikan adalah jalan terang kehidupan manusia. Di antara keberkahan hidup yang bisa kita raih di dunia ini ialah “keberkahan ilmu”.

Mendapatkan ilmu yang berkah artinya mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan menghasilkan berbagai amal kebaikan dalam hidup ini. Para santri meyakini bahwa keberkahan ilmu dapat diraih bukan karena kecerdasan semata, tetapi juga terjadi dari bagaimana adab pensikapan seseorang terhadap ilmu, sumber-sumber ilmu dan penghormatan kepada para guru yang menjadi perantara sampainya ilmu kepadanya.

Tradisi ngalap berkah sudah sejak lama tertanam di dalam keyakinan para santri, adab dan akhlak seorang santri kepada guru menjadi kunci kesuksesan santri dalam menuntut ilmu dan hingga kelak ia pulang berjuang di masyarakat. Tidak heran jika para santri selalu berusaha taat dan patuh kepada para gurunya. Sejak dahulu tidak ada kamus demo di pesantren. Mereka teguh menjaga tradisi ngalap berkah, mencintai dan menghormati guru kiai dengan sepenuh hati, karenanya mereka pun mendapat berkahnya di masyarakat menjadi sangat dihormati oleh para muridnya.

Nenek saya bercerita, dahulu di saat kakek saya, Mbah Kiai Anwar Nur (pendiri Pondok Pesantren Annur Bululawang Malang), pada saat masih mondok di pesantren Sidogiri Pasuruan, beliau rela berjalan kaki dari rumahnya di Probolinggo ke Pasuruan, karena sedikit uang tiket kereta api yang diberikan oleh abahnya dipergunakan untuk membeli gula dan kopi demi ingin sowan membawa oleh-oleh kepada sang kiai.

Ayah saya, Abuya KH Burhanuddin Hamid memberikan contoh kepada saya sejak kecil. Setiap tahun kami selalu diajak sowan ziarah ke makam gurunya, KH Romli Tamim di Rejoso Peterongan Jombang, dan sekaligus sowan kepada putra-putri beliau. Beliau selalu memberi saya sejumlah uang di dalam amplop untuk dihaturkan kepada para kiai.

Tradisi ini terus berlanjut sampai saat saya mondok di Lirboyo Kediri. Beliau tidak pernah mengizinkan saya kembali sendirian ke pondok. Saya selalu diantar langsung kembali ke pondok oleh beliau dan disowankan kepada kiai sambil dimintakan doa.

Hingga ketika saat tamat Aliyah MHM Lirboyo tahun 1992, saya matur mohon ijin kepada kiai untuk pindah melanjutkan kuliah di luar, namun beliau tidak mengizinkan dan memerintahkan saya ngaji kembali di pondok saja sambil berkhidmat mengajar di MHM.

Ketika saya matur kepada ayah saya perihal larangan kiai untuk kuliah saat itu, spontan beliau dawuh: “manuto gurumu, mesti penak uripmu.” (ikuti perintah gurumu. Akan bahagia hidupmu).

Alhamdulillah, saya pun berusaha patuh kepada perintah beliau dan hingga kemudian hari setelah saya boyong pulang ke rumah, atas berkahnya saya ditakdirkan untuk menyelesaikan kuliah sampai S3 secara gratis dan bahkan berkesempatan keliling mengunjungi lebih dari 26 negara di dunia, termasuk mengikuti training program di Inggris dan Amerika serikat.

Saat ini banyak hal yang membuat saya selalu bersyukur atas doa restu orang tua dan guru saya, berkah sekian lama saya berkhidmah melayani guru saya almarhum KH Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo dalam berbagai perjalanan beliau di dalam dan luar negeri.

Saya sering juga harus pergi riwa-riwi mengurus apa yang diperintahkan beliau, menemui beberapa tokoh penting di Jakarta dan Surabaya, semisal untuk proses ijin pendirian Rumah Sakit Lirboyo, atau mengurus bantuan sarana pesantren dan lainnya.

Saat ini alhamdulillah Allah SWT memberikan banyak sekali kemudahan bagi saya untuk bekerja dan mengembangkan beberapa lembaga pendidikan, pesantren dan kampus perguruan tinggi di Malang. Saya yakin semua kemudahan ini karena keberkahan dan ridla doa orang tua dan guru.

Semoga kelak di akhirat kita dikumpulkan kembali oleh Allah SWT di surga-Nya bersama orang tua kita dan para guru.
Amien. (*)

Dr KH Ahmad Fahrur Rozi, Khodim Ma’had Annur 1 Bululawang Malang, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.