Hikmah

Syarat Jadi Kiai Gampang: yang Penting Bisa Nyuwuk

Jum'at, 21 Februari 2020 15:30 wib

...
Gus Sholah dan Gus Dur (santrinews.com/istimewa)

Gus Sholah sejak awal sudah selesai dengan dirinya.

Suatu ketika KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) –pengasuh Pesantren Tebuireng sebelum Gus Sholah— mengajak Gus Sholah bersilaturrahim ke Abah saya, KH Amanulloh di Tambakberas dan mengenalkan Gus Sholah sebagai calon pengganti kepengasuhan Pesantren Tebuireng kalau suatu saat beliau mangkat.

Gus Sholah yang seorang tokoh nasional dengan segala aktifitasnya di luar pesantren itu merasa belum punya pengalaman mengelola pesantren dan butuh support untuk menjadi seorang kiai yang memangku pesantren besar sekaliber Tebuireng.

Maka beliau bertanya ke Abah saya —yang masih terbilang pamannya. “Man Aman, gimana caranya jadi kiai? Dengan gaya guyonan yang khas, Abah menjawab: gampang, syarat jadi kiai itu yang penting bisa “nyuwuk”…! dan beliau bertiga pun tertawa.

Ternyata Gus Sholah itu sosok yang luar biasa. Pengalaman beliau di luar pesantren yang segudang itu digunakan untuk modal mengembangkan Pesantren Tebuireng menjadi pesat. Gus Sholah seorang pembelajar yang cepat. Beliau memulai dari mengembangkan infrastuktur pesantren dan manajemen organisasinya serta kegiatan-kegiatan pendidikannya yang diatur dengan manajemen pesantren profesional.

Beliau sejak awal sudah selesai dengan dirinya. Memiliki komitmen dan integritas yang tinggi, juga memiliki karakter seorang ulama. Amanat menjadi pengasuh Tebuireng dimanfaatkan untuk benar-benar mengembangkan pesantren tinggalan kakeknya itu.

Branding Tebuireng yang sudah punya nama besar Hadlratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, KH A Wahid Hasyim dan Gus Dur, menjadi semakin maju dan ramai dengan aktifitas-aktifitas pesantren. Kepercayaan masyarakat kepada Pesantren Tebuireng tidak sekedar bergantung pada nama besar muassis (pendiri) yang ada di belakangnya, tapi juga dibuktikan oleh Gus Sholah dengan peningkatan kualitas pesantrennya. Semoga semuanya menjadi amal jariyah beliau.

Sosok Gus Sholah dan Pesantren Tebuireng di era beliau sangat layak dijadikan model untuk obyek pembelajaran manajemen pesantren profesional dengan segala plus minusnya.

Untuk arwah Pak Ud, Abah Amanulloh dan Gus Sholah, alfatihah! (*)