Hikmah

Renungan Jumat: Hikmah di Balik Corona

Jum'at, 20 Maret 2020 07:30 wib

...

Marilah sejenak kita belajar dan merenungkan hikmah di balik epidemi Corona yang menghancurkan ini. Betapa ia telah mampu mengembalikan seluruh umat manusia menjadi manusia, kembali pada jati diri manusia, untuk tunduk beriman kepada Sang Penciptanya, dan kembali pada akhlaknya.

Hikmah tersembunyi di balik wabah corona. Ia secara senyap telah berhasil menutup semua bar, diskotek, klub dansa, pergaulan bebas di kafe-kafe, tempat berjudi, tempat pelacuran dan pusat kemaksiatan lainnya.

Hikmah corona, ia mampu mengumpulkan semua anggota keluarga untuk bersatu lagi di rumah mereka setelah sekian lama berpisah dan terpisah oleh berbagai kesibukannya.

Hikmah corona, ia membuat maksiat mereda, mereka dipaksa menutup wajah dan auratnya secara sukarela, mereka ketakutan berhenti berciuman, berdansa dan berkencan dengan lain jenis yang tidak halal dan juga LGBT sesama jenisnya.

Hikmah corona, ia mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengakui bahwa narkoba dan minum alkohol adalah bencana, dan mereka yang tidak menggunakannya suatu hari tidak boleh mencoba melakukannya.

Hikmah corona, ia mendorong semua lembaga kesehatan besar untuk mengakui bahwa memakan setiap hewan liar dan bercakar, sejenis kelelawar, ular, anjing dan sebagainya serta meminum darah, menjual, memakan, dan berdagang makanan hewan buas, atau yang mati tanpa disembelih, akan menciptakan bencana kesehatan dan penderitaan pada semua orang yang melakukannya.

Hikmah corona, bahwa ia mengajarkan kepada semua umat manusia bagaimana cara bersin, cara batuk dan cara menguap yang benar sebagaimana ajaran Rasulullah SAW sejak 1441 tahun silam.

Karena corona, ia mampu memindahkan sepertiga dari anggaran pengeluaran belanja militer negara di seluruh dunia untuk peduli kesehatan masyarakatnya.

Cukup dengan corona untuk mengurangi ketegangan perang antar etnis dan sikap saling menyalahkan antar sesama manusia urusan SARA dan mengajari mereka makna kesedihan diisolasi akibat pengurungan sebuah negara dan pembatasan kebebasan hidup sebagaimana telah diderita rakyat Palestina di Jalur Gaza sejak lama.

Cukup dengan wabah corona untuk membuat orang menjadi rajin berdoa, memohon, meminta pengampunan, dan meninggalkan dosa dan kesalahan mereka.

Cukup dengan corona, ia mempermalukan orang-orang yang sombong anti Tuhan, dan menunjukkan kepada mereka kerapuhan kekuasaan dunia yang semu dan lemah tak berdaya melawan takdirnya.

Cukuplah corona, untuk mengurangi ke tingkat terendah polusi racun dari pabrik-pabrik yang mencemari atmosfer bumi, mengerem industrialisasi yang menggunduli hutan, mencemari lautan, mencairkan es di kutub utara dan mengubah iklim mereka, memperluas lubang ozon di langit, membunuh lingkungan di seluruh dunia dan kemudian membunuh mereka.

Cukuplah corona, bahwa ia telah memulihkan umat manusia ke dalam ibadatnya dari berhala menyembah teknologi yang melambungkan impian mereka.

Cukuplah corona untuk memaksa para pejabat di semua negara untuk mempertimbangkan kembali perbaikan kondisi sarana kesehatan dan rumah sakit serta pentingnya upaya untuk meningkatkan taraf hidup dan kesehatan masyarakat.

Cukuplah corona, untuk mendorong para pemimpin besar di semua negara untuk mengurangi pertemuan, konferensi, pertemuan, dan sandiwara kebohongan mereka.

Cukuplah corona, ia mengembalikan kesadaran manusia untuk kembali percaya Tuhan dan menemukan jati dirinya sebagai makhluk yang lemah tak berdaya melawan makhluk bernama virus corona yang tidak tampak dilihat kasat mata, yang memaksa mereka harus berserah diri dan berdoa memohon perlindungan Tuhannya.

Mungkin, situasi kekacauan hidup manusia saat ini mirip dengan suasana ketakutan ketika Perang Dunia Pertama atau wabah penyebaran virus flu Spanyol pada 1918 ketika akal manusia sudah tak berdaya lagi menghadapi ganasnya virus yang merajalela.

Hari ini, kita sungguh menyadari bahwa kita adalah hanya sekumpulan makhluk lemah tak berdaya tanpa uluran tangan keajaiban kekuasaan-Nya. Kita tak dapat lagi mengandalkan logika biasa ataupun kecanggihan kecerdasan teknologi manusia tanpa pertolongan dan bantuan dari Allah SWT.

Maka, jangan mengutuk Corona, karena umat manusia setelahnya akan segera sadar dan menjadi lebih baik dari sebelumnya! (*)

Dr KH Ahmad Fahrur Rozi, Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang, Malang. Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.