Khazanah

Khalifah Umar dan Budaya Kritik

Kamis, 17 September 2020 22:30 wib

...
Ilustrasi Khalifah Umar ibn al-Khatthab dicegat perempuan tua di jalan

Khalifah Umar ibn al-Khatthab sering dijadikan contoh sebagai pemimpin yang menyukai kritik. Beliau punya kebiasaan blusukan ke kampung-kampung. Salah satu tujuannya mencari tahu tentang aib dan kekurangan dirinya. Hal itu membuat masyarakat berani dan tidak segan untuk mengeritiknya.

Dikisahkan, suatu ketika Sayyidina Umar dicegat di jalan oleh seorang perempuan tua bernama Khaulah binti Tsa’labah dan dimintanya berhenti. Cukup lama beliau berhenti di jalan seraya menyimak kalimat-kalimat yang meluncur dari lisan Khaulah binti Tsa’labah yang berisi nasihat-nasihat sebagai berikut:

يا عمر ، كنتَ تدعَى عُميرا ثم صرتَ عمر ، ثم قيل لك أميرُ المؤمنين ، فاتق الله يا عمر ، فإنه مَن أيقن بالموت خاف الفوتَ ، و من أيقن بالحساب خاف العذاب .

Wahai Umar, engkau dulu dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian berubah menjadi Umar, lalu sekarang engkau dipanggil dengan julukan “amirul mukminin”. Pesan saya: takutlah engkau, wahai Umar kepada Allah, karena barangsiapa meyakini adanya kematian, ia pasti khawatir akan hilangnya kesempatan, dan barangsiapa yang meyakini adanya hisab, ia pasti takut menghadapi adzab.

Pertemuan di jalan antara Khalifah dan perempuan tua itu menjadi tontonan dan sekaligus membuat orang-orang yang melihatnya keheranan. Maka di antara mereka ada yang terpaksa bertanya: wahai Amirul Mukminin, mengapa njenengan rela berhenti di sini hanya untuk mendengarkan omongan perempuan tua itu?

Khalifah Umar menjawab: “Seandainya perempuan itu meminta agar saya berhenti di tempat ini dari awal siang sampai akhir siang, pasti saya tidak akan beranjak kecuali untuk shalat. Tahukah kalian, siapakah perempuan tua itu?”

Mereka mejawab: kami tidak tahu.

Khalifah Umar menjelaskan, dia adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang perempuan yang perkataannya didengar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dari atas langit yang tujuh. Apa pantas Umar tidak mau mendengarkan ucapan perempuan itu, sementara Allah Ta’ala mau mendengarkannya.

Kisah tentang Khaulah binti Tsa’labah secara singkat difirmankan oleh Allah SWT:

قد سمع الله قول التي تجادلك في زوجها و تشتكي إلى الله ، و الله يسمع تحاوركما ، إن الله سميع بصير
(المجادلة : ١)

Tentu Allah mendengar perkataan wanita yang mengajukan permasalahan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal-jawab kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (*)