Nasional

Inilah 9 Agenda Pergerakan Mukafi Makki

Senin, 02 Juni 2014 12:29 wib

...
Mukafi Makki (dok/santrinews.com)

Jambi – Perhelatan Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XVIII bukan sekadar pertarungan memperebutkan kursi ketua umum. Ada agenda yang lebih penting yang mesti dikedepankan.

Mukafi Mukaffi berharap, forum tertinggi di PMII ini bisa melahirkan gagasan cerdas dan prospektif untuk turut andil mengisi kemerdekaan Indonesia. Artinya, secara keorganisasian, PMII harus bisa menata dan mempersiapkan diri dalam menjawab tantangan zamannya.

Mukafi Mukaffi adalah salah seorang kandidat ketua umum PB PMII untuk masa hidmat 2014-2016 yang bakal bersaing dengan beberapa kandidat lainnya di arena Kongres PMII XVIII yang tengah berlangsung di Asrama Haji Jambi, sejak 30 Mei hingga 7 Juni 2014 mendatang.

Lebih jauh, kata Mukafi, peralihan masa modern ke arah post-modern memberikan ruang tantangan yang lebih rumit. Setiap kader PMII tidak hanya diharapkan dapat bertahan. Akan tetapi juga mampu mengawal dan mengarahkan jalannya perubahan waktu ke arah yang lebih baik.

Kalau modernisasi menekankan rasionalisasi, post-modern lebih menekankan akomodasi antara yang fisik-metafisik. Dalam hal ini, agenda PMII ke depan bukan sekadar berkutat dengan isu pembangunan struktur dan infrastruktur. Manusia sebagai subjek sekaligus objek pergerakan harus mendapatkan ruang utuh. Dengan kata lain, PMII membutuhkan agenda-agenda pergerakan yang dapat mensinergikan antara cita-cita kemajuan, nilai-nilai kultur dan pemberdayaan masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam ruang politik (negara).

Dengan kesadaran akan pentingnya PMII untuk lebih membumikan peran dan fungsinya bagi masyarakat dan negara, Mukafi Makki telah merumuskan 9 aksi atau agenda pergerakan yang diharapkan menjadi agenda prioritas PMII ke depan. Pertama, New paradigma PMII; Paradigma Kritis Transformatif (PKT) dan Geo Strategi.

Paradigm Kritis Transformatif (PKT) merupakan cara pandang yang universal dalam menganalisa dan mencermati serta mencari solusi. Dengan PKT, kader PMII diharapkan mampu untuk melihat dan mendalami berbagai persoalan secara arif dan cerdas. Akan tetapi dalam perjalanan PMII dewasa ini, cara pandang yang kritis dan transformatif tersebut hanya berjalan “di tempat.” Sikap kritis hanya berjalan di menara gading. Kritis yang seharusnya mampu dipahami untuk memberikan cara pandang lain terhadap kemapanan maupun kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kaum mustad’afin (kaum lemah) hanya menjadi slogan di ruang-ruang diskusi. Dengan kata lain, kader PMII selama ini terutama pasca reformasi hampir mengalami kegagalan untuk mentranformasikan gagasan kritisnya. Sehingga PMII belum mampu untuk menjadi bagian dari masyarakatnya.

Karena itu, new paradigma yang menjadi agenda pergerakan ke depan merupakan langkah taktis untuk mengembalikan ruh PKT yang bertumpu pada kepekaan dalam melihat dan menyikapi realitas sekaligus mentranformasikannya pada masyarakat. Langkah ini tentunya membutuhkan kemampuan kader PMII untuk memetakan stategi yang berbasiskan “kedaerahan.” Artinya, strategi yang ditawarkan oleh kader PMII hendaknya mampu dipahami oleh masyarakat setempat. Dengan demikian, slogan sekali bendera dikibarkan hentikan ratapan dan tangisan menemukan titik pijaknya pada masyarakat yang menjadi domain atau area pergerakan itu. “PKT harus berjalan seiring dengan isu, aspirasi dan keinginan masyarakatnya,” ujarnya.

Kedua, Muktamar Pergerakan. Kader PMII yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini, dalam menumbuhkan semangat pergerakan seyogyanya memiliki “ruang-waktu bersama.” Ruang-waktu bersama ini dapat diterjemahkan sebagai upaya untuk mempertemukan setiap individu kader dalam satu tempat, satu waktu dan satu nafas pergerakan.

Selama ini komunikasi pergerakan berjalan sebatas di “elite” organisasi dan ruang-waktu moment tertentu atau dalam lintas ruang-waktu di dunia maya. “Nah melalaui muktamar pergerakan ini kader bisa bertemu, saling berbagi dan berjabat tangan dalam ruang-waktu yang dihadirkan oleh semangat dan cita-cita yang sama,” kata Mukafi menjabarkan.

Ketiga, Forum wetonan (minggu pon, 17 april 1960). Pepatah mengatakan, eksisnya sebuah bangsa, organisasi, masyarakat ditentukan seberapa “kuat” tradisi atau kebudayaannya bertahan. Kalau NU mampu bertahan dengan tradisi amaliyahnya semisal tahlil, istigotsah dan lainnya, maka PMII mesti memantapkan tradisi dzikir, pikir dan amal sholehnya dalam bentuk yang lebih konkret. Artinya, tradisi ini tidak hanya terjadi dalam ruang-ruang individu atau tempat-tempat pinggiran. Akan tetapi tradisi ini hendaknya membumi dalam ruang yang lebih terorganisir.

“Forum wetonan ini dapat diterjemahkan sebagai forum para kader untuk membangun nilai-nilai tradisi sekaligus mempererat pertalian kader dengan sejarah PMII,” tandasnya.

Dalam forum wetonan ini, kader tidak hanya mendiskusikan dan merumuskan berbagai persoalan yang dihadapi, tapi juga bisa meluangkan waktu untuk mendoakan para pendahulunya. Dalam forum wetonan itu pula, para kader dan kader mampu menjalin komunikasi yang lebih intens dalam membangun pergerakan yang utuh. Pergerakan yang utuh adalah ruang kesadaran kader PMII untuk menjadi bagian dan pelaku setiap perubahan masyarakatnya.

Keempat, konsolidasi nasional, regional, daerah dan sektor per triwulan. Pasca reformasi, dunia pergerakan seperti lampu kekurangan minyak. Gerakan mahasiswa seolah-olah tak punya agenda yang jelas. Bahkan mahasiswa pun disinyalir kehilangan spirit solidaritas. Akibatnya, gerakan mahasiswa terpecah belah dalam beberapa faksi. Karena itu, PMII sebagai salah satu organ pergerakan yang masih eksis dengan pola kaderisasi yang dinamis mesti mempunyai agenda pergerakan yang komprehensif dan berkesinambungan.

Dalam hal ini, secara internal PMII mesti melakukan berbagai konsolidasi di setiap lini dalam rangka memperkuat cara pandang dan sikap yang sama terhadap berbagai persoalan. Konsolidasi internal ini juga bertujuan untuki menghadirkan pola gerakan yang utuh. Artinya, gerakan yang dilakukan PMII tidak bersifat reaksioner dan sporadis.

Kelima, infaq pergerakan: reg-spasi-infaq-kirim ke 1960. Di tengah tantangan peradaban digital, eksistensi PMII sangat bergantung pada manajemen pengelolaan dan pemberdayaan kader.

Kader tidak hanya dipandang sebagai aset. Akan tetapi subjek yang perlu diberdayakan sesuai bidangnya. Pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) itu mempunyai konsekwensi logis terhadap kemampuan finansial.

Dalam hal ini, infaq pergerakan menjadi langkah taktis. Infaq pergerakan dapat dikelola untuk dua hal. Pertama, kebutuhan kader. Kader yang memiliki potensi baik dalam bidang pendidikan, kewirausahaan maupun dalam bidangnya lainnya dapat dibantu atau disupport dari dana yang terkumpul dari infaq pergerakan. Kedua, partisipasi sosial. PMII sebagai organisasi dengan paradigma kritis transforamtif, sudah seyogyanya untuk turut andil terhadap berbagai persoalan masyarakatnya semisal bencana alam. Dengan kata lain, dana infaq yang terkumpul dapat juga disalurkan untuk memberikan bantuan terhadap korban bencana alam, kebakaran dan lainnya.

Keenam, sekolah kader nasional. Penggemblengan kader dalam sebuah organisasi merupakan suatu keniscayaan. Dengan penggemblengan ini, kemampuan kader diharapkan dapat menjawab dan menyikapi berbagai persoalan secara taktis, komprehensif dan solutif. Selain itu, penggembelengan kader secara nasional juga bertujuan untuk menyelaraskan cara pandang, pembentukan isu dan gerak kader di lapangan di berbagai daerah.

Ketujuh, balai diklat. Kader PMII yang tersebar di berbagai daerah dan terdiri atas berbagai bidang keilmuan, membutuhkan kanal atau ruang-ruang ekspresi. Akan tetapi sebelum kader-kader ini terjun ke arena pertarungan, perlu kiranya mendapatkan pembekalan berdasarkan tujuan dan keinginan di dalam bidangnya. Karena itu, proses pembekalan kader ini membutuhkan tempat yang kondusif. Artinya, pembangunan balai diklat untuk kader PMII akan memungkinkan proses pembekalan berjalan sinergis.

“Di balai diklat ini, kader akan dibekali materi atau wacana berdasarkan bidangnya: politik, ekonomi, budaya dan lainnya,” kata mantan ketua umum Pengurus Koordintor Cabang PMII Jawa Timur ini.

Kedelapan, pergerakan berbasis literasi. PMII yang berbasiskan keilmuan, sudah seyogyanya untuk menyelaraskan kajian dengan perkembangan ilmu pengetahuan global. Mulai isu-isu moder sampai post-modern. Dalam hal ini, PMII dapat mendorong pembentukan rumah-rumah literasi. Dari rumah literasi ini, diharapkan kader PMII dapat mampu merumuskan modul pergerakan yang mensinergikan dan mengintegrasikan antara peran anggota, pengurus dan alumni.

Kesembilan, go public go internasional. Sejauh ini, PMII merupakan salah organisasi yang proses kaderisasinya berjalan dinamis. Bahkan alumni PMII sudah mampu hadir sebagai tokoh-tokoh nasional yang diperhitungkan di bidangnya. Karena itu, agenda go public go internasional merupakan langkah strategis dalam melebarkan peran dan fungsinya untuk mengawal berbagai kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, langkah go public go internasional dapat diterjemahkan sebagai upaya membangun jaringan yang lebih luas.

“Inilah 9 agenda yang akan menjadi priotitas kami di PMII kedepan,” kata Mukafi Makki mengakhiri. (met/ahay)